REJEKI PERISTIWA

Senin siang, sedang asyik ngobrol dengan bu Anik Kurnia (Fasilitator Kelompok Bermain SALAM), tiba-tiba ada dua anak yang menyela obrolan kami. Kami menghentikan obrolan dan bu Anik segera merespon mereka.  Jasmin dan Logan dengan wajah yang tampak serius menyampaikan berita penting kepada bu Anik, Fasilitator kelasnya. Nafasnya masih terengah-engah berlari dari tempat kejadian. Saya mencoba memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.

Terdengar jelas pembicaraan mereka. Bu Anik menayakan apa yang mereka alami. Rupa-rupanya mereka menyaksikan teman mereka menangis karena terjatuh. Jasmin dan Logan yang usianya belum genap 5 tahun dengan cukup jelas menceritakan apa yang dilihatnya. Mereka berebut untuk bercerita. Dengan mimik serius mereka melaporkan tentang Dira temannya yang terjatuh. Bu Anik menyela dan mengajak mereka bergantian ceritanya. Jasmin bercerita dan berpendapat kalau Dhira jatuh karena melihat Meru berteriak. Berbeda dengan Jasmin, Logan berpendapat kalau Dhira jatuh karena tidak melihat jalan. Keduanya beradu pendapat di depan bu Anik. Masing-masing merasa kalau yang disampaikan yang paling benar dan menyalahkan yang lain.

Bu Anik rupa-rupanya merasa tak cukup hanya mendengar dari mereka saja. Karena informasinya berbeda, bu Anik kemudian mengajak mereka mencari Dhira.  Dhira berhasil ditemui di depan perpustakaan. Bu Anik meminta Dhira bercerita. Dhira bercerita dengan masih terisak dan mata berkaca-kaca. Menurut Dira, dia melihat Meru berteriak lalu tidak memperhatikan jalan sehingga terjatuh. Setelah mendengar cerita dari Dhira, Logan dan Jasmin tak lagi saling menyalahkan. Mereka bisa menyimpulkan kalau masing-masing punya pendapat yang bernar tapi belum lengkap. Begitulah bu Anik mengajak anak menyelesaikan persoalan yang dialami anak-anak.

Peristiwa ini mengingatkan tentang “rejeki” yang harus segera diproses—hal ini sering menjadi bahan dialog diantara fasilitator SALAM, bu Anik cukup peka menangkap peristiwa ini dan dengan sabar menuntun anak-anak, memprosesnya hingga anak-anak memahami apa yang mereka alami.

Bu Anik mengajak anak-anak merekonstruksi peristiwa Dhira jatuh. Ia mengajak anak-anak mengupulkan informasi dari para saksi Logan dan Jasmin, maupun Dhira sendiri yang mengalami peristiwanya. Setelah informasi terkumpul semua, ternyata anak-anak dengan cepat dapat mengidentifikasi dan menganalisa sendiri kebenarannya. Merekapun dapat membuat kesimpulan yang sama tanpa intervensi dari bu Anik—sebuah pengalaman penting diproses dengan cara yang sederhana hingga anak-anak mampu menangkap peristiwa yang dialami menjadi bermakna. []