Pertemuan Siswa Baru SMA SALAM

Selasa pagi (21/06), Siswa Baru SMA SALAM berkumpul untuk pertama kalinya. Dengan tetap memenuhi protokol, kami duduk Bersama untuk berdiskusi tentang apa yang akan kami lakukan selama di SMA SALAM. Menentukan riset bukanlah hal yang mian-maain di SALAM. Apa yang di riset oleh anak selama di SMA adalah hal yang paling diminati, sekaligus hal yang menjadi modal bagi anak untuk survive di kemudian hari. Menentukan riset di SMA bukan lagi sekedar melakukan/memilih hal yang disukai. Lebih dari itu, menentukan riset adalah proses berpikir dengan mempertimbangkan masa lalu, masa depan dan masa kini.

Sesi diskusi ini dipandu oleh Pak Budi, akrab disapa Pak Gemak, fasilitator kelas 10, dan didampingi oleh fasilitator SMA Lain: Pak Aji, Pak Candra, Mas Bram dan Mas Ubed. Setelah saling berkenalan, Pak Gemak memulai diskusinya dengan bertanya pertanyaan masa depan “Di Masa Depan, Kamu membayangkan dirimu menjadi apa?”. Anak-anak tampak terdiam menyimak. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Pertanyaan ini menjadi titik berangkat menentukan riset. Riset yang dipilih adalah salah satu jalan yang dilalui untuk mencapai masa depan dibayangkan.

Satu per satu anak-anak menjawab; Lutfi ingin menjadi pedagang kaki lima. Elang menjadi penjual tembakau. Lintang ingin menjadi penjual alat olah raga. Devy ingin menjadi guru. Sufi ingin menjadi wartawan foto, Endison ingin belajar berkebun, Bagas ingin menjadi konten kreator dan Nilanti menjadi pengusaha kopi. Masing-masing anak tampaknya sudah memiliki misi pribadi, yang didapat dari pengalaman dan persentuhannya dengan lingkungan.

Keinginan-keinginan tadi lantas dikembangkan lebih jauh. Tidak berhenti sekedar pada ingin menjadi apa, namun juga dampaknya. Keinginan anak yang arahnya pribadi, dibawa ke arah yang lebih luas, yang berdampak pada sekitar. Setelah menarik nafas, Pak Gemak bertanya pada anak-anak ‘Ketika keinginan tadi sudah tercapai, apa manfaat keberhasilanmu bagi orang lain/sekitar?’

Beberapa Anak-anak nampak sedikit berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Tak mengira jika mereka akan disodori pertanyaan itu. Barangkali ini adalah hal baru bagi mereka, sebab di jenjang sebelumnya, mereka hanya ditanya apa yang mereka suka. Apa yang ingin mereka coba. Namun di SMA, mereka juga ditanya, apa dampaknya bagi sekitar? Selang beberapa menit mereka menjawab…

Lutfi, dengan menjadi pedagang kaki lima, bisa melakukan peningkatan taraf hidup pedagang melalui peningkatan kualitas dan pelayanan. Elang, dengan menjadi penjual tembakau, ingin mempromosikan tembakau ke Luar Negeri, membuka lapangan pekerjaan dan melawan pembodohan oleh pabrik-pabrik besar terhadap petani. Lintang yang mempunya minat pada bidang olah raga terutama sepakbola ingin menjadi penjual alat olah raga, melihat banyak orang yang kesulitan mendapat akses alat olah raga karena harganya yang mahal. Jika diberi kesempatan dan kemampuan, Lintang juga ingin membuka Sekolah Sepak Bola.

Devy, gadis yang punya minat mempelajari perilaku anak-anak ini ingin menjadi guru karena persentuhannya dengan anak jalanan, mereka putus sekolah karena menjadi korban perundungan. Ia berharap, suatu saat nanti bisa mengajak mereka belajar dan berkarya bersama.

Sufi, ingin menjadi wartawan foto, sebab dengan begitu, ia bisa mengabarkan banyak hal ke banyak orang. Riset terdekatnya adalah mengabadikan situasi pandemic. Bagas ingin menjadi produsen konten melalui game, sebab ia melihat banyak yang kualitasnya masih buruk. Ia ingin, dengan kegiatannya, bisa mendapat uang dan menghibur orang lain.

Endison, putra kelahiran papua ini ingin belajar bercocok tanam sebab ia ingin mengajak orang untuk merawat dan menjaga alam, tidak berhenti pada penggunaannya saja. Lain halnya dengan Nilanti, Gadis pecinta kopi ini ingin berwirausaha di bidang kopi, dengan begitu Ia bisa membuka lapangan pekerjaan dan mempromosikan kopi Indonesia kepada khalayak yang lebih luas lagi. Dan dengan keuntungannya, ia ingin membuka sanggar seni agar anak-anak muda sepertinya tetap mengenali budaya leluhurnya.
Dalam diskusi tersebut, jika dirangkum, ada enam hal yang perlu dipikir-timbangkan oleh anak-anak dalam menentukan riset yang akan mereka jalani. 1) Bayangan masa depan, bagaimana anak-anak membayangkan dirinya di masa depan. Ini menjadi tujuan yang akan dicapai oleh anak. 2) Keprihatinan. Keprihatinan menjadi bahan bakar dari semangat anak dalam belajar mendalami riset karena keprihatinan selalu punya persinggungan dengan lingkungan sekitar. 3) Tema/Tujuan Satu Semester. Keinginan belajar anak diturunkan menjadi satu periode belajar agar mudah dievaluasi dan diamati perkembangnya secara Bersama-sama, untuk itu tujuan satu semester diperlukan. Tema/Tujuan satu semester menjadi rambu-rambu dari aktivitas yang akan dijalani selama satu semester.

Ketika garis besar tadi sudah ditemukan, maka kita butuh media untuk bereksperimen. Maka yang ke- 4) Media yang digunakan. Tujuan, Keprihatinan dan bayangan masa depan tadi kemudian diturunkan menjadi satu proyek riset. Contohnya Ketika Anak ingin menjadi guru, maka medianya bisa membuat cerpen psikologi, atau Ketika anak ingin menjadi penjual Tembakau yang berkesadaran, maka projek risetnya bisa dimulai dari belajar pengawetan peningkatan kualitas tembakau. Kemudian 5) Indikator keberhasilan yang mencakup pemahaman, kemampuan dan sikap. Dan yang terakhir adalah Langkah-langkah. Apa saja hal-hal teknis yang perlu ditempuh untuk mewujudkan keinginan itu.

Tak semua pertanyaan tadi terjawab di forum diskusi. Anak-anak diberi keleluasaan untuk memikirkan matang-matang di rumah. Jawaban anak seminggu kemudian akan dipaparkan di forum Presentasi Pra-Riset. Kita tunggu saja..