‘SALAH’ BUKANLAH KESALAHAN

Belajar secara daring, di musim pandemi ini sepertinya masih akan berlangsung lama. Belajar di rumah yang diberlakukan bukan hanya untuk kelas besar, tapi juga kelas PAUD (baca: TK). Banyak keluhan dilontarkan orang tua. Alih2 belajar menyenangkan bersama orang tua di rumah sebagai sumber belajar yang utama dan pertama, tapi seabrek ‘tugas’ yg harus dikerjakan oleh murid2 TK tersebut, banyak yang bikin stres, baik ortu maupun anaknya.

“Itu baru ngapalin teks Pancasila, divideo, dikirim ke gurunya. Terus buat kreasi macem-macem…repot beli bahan macem-macem…besoknya ada tugas mewarnai, dan berhitung… jiaaan.” Itu yg dikeluhkan mama muda yg anaknya sekolah di TK konvensional.

Model belajar yang bagaimana sih, yang pas buat anak usia TK dimasa situasi begini? Orang tua jelas banyak yang tergagap-gagap menghadapi perubahan pola belajar seperti ini. Yang kemudian justru memunculkan masalah baru. Bisa-bisa bikin stres dan menurunkan imunitas. Pun begitu yang dialami ortu-ortu murid TA Salam Nitiprayan. Dalam diskusi WA grup, banyak pertanyaan dan keluhan muncul.
“Bu Widhy anakku sekarang gak mau baca buku, setiap tak ajak baca malah marah. Gimana dong?” Ujar Mama Puan. Atau Mama-mama lain, yang mengatakan, “Anakku kalau diajari nulis ngeyil, salah gak mau dibenerin. Nulis ‘kweni’, maunya ‘kuweni’.”

Gimana dong? Nah, apa sih sebenarnya tujuan belajar di masa sulit ini? Saya katakan kalau tujuan belajar kita adalah meningkatkan daya imunitas tubuh agar jiwa raga tetap sehat. Agar tidak terpapar virus. Jadi belajar harus dijadikan sesuatu yg menyenangkan.
“Simpan bukunya, Mama. Hindarkan Puan dari buku, memaksa membaca buku justru akan membuat benci dan phobia pada buku. Belajar membaca tidak harus dari buku, bisa dari benda-benda yg ditemukan di sekitar anak. Bungkus biskuit, bungkus sabun, bungkus obat…atau apa ajalah…” Juga saya bilang ke Mama yang lain, “Gak papa kok salah nulis sesuatu. Biarkan saja, kelak suatu saat anak akan menemukan sendiri kesalahan itu, dan memperbaikinya. Akan menemukan rasa bangga kalau bisa menemukan sendiri. Salah bukanlah kesalahan. Kalau takut salah, anak gak akan berani mencoba.”
“Iya ya, Buk, itu orang dewasa salah nulis juga santuy (santai) aja. Maunya ‘lockdown’, pada nulis ‘lookdon’, ‘download’, mereka PD aja,” tulis Mama Dydy di WA yang di-gong-i Mama Angger.

Oke, sepakat ya bahwa jangan sampai cara belajar kita menguras energi positif yg kita miliki. Buatlah sesuatu sebagai media belajar yg menyenangkan. Seperti yang dilakukan Ino ini. “Bu Guru Ino panen kangkung, kemarin belajar menanam kangkung dan rosela.”
Nah, ini namanya belajar secara kontekstual sesuai dinamika proses belajar di TA Salam sekolah kita. Belajar melalui peristiwa. Ada peristiwa apa saat ini? Korona kan? Bukankah ini juga belajar ‘membaca’? Membaca situasi. Belajar membaca bukan melulu tentang ‘abjad’, tapi juga membaca ‘gelagat’. Bukan melulu apa yang ‘tersurat’, tapi bisa juga dari apa yang ‘tersirat’. Semua itu menjadi media bersama, yang gak akan habis dijadikan sebagai sumber belajar. Tidak usah muluk-muluk tentang ketahanan pangan yg harus dilakukan dimasa pandemi ini, yang dilakukan Ino bukan sekadar wacana.
Pun begitu ortu-ortu anak TA Salam, yang semua keren dan hebat mendampingi belajar di rumah dengan gembira dan iklas.
Oke! Tetap semangat. Jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan. Tetap di rumah saja. Love you full.