Kemandirian dan Problematika

Saat ini Kemendikbud tengah mempersiapkan skenario belajar dari rumah hingga akhir tahun 2020 sebagai antisipasi apabila wabah virus corona belum berakhir hingga akhir tahun. Artinya kita sebagai orang tua pun harus mempersiapkan skenario tentang bagaimana beradaptasi dengan kondisi ini. Bagi warga komunitas Sanggar Anak Alam (SALAM), kami cukup bersyukur karena beban kurikulum yang membuat tugas-tugas anak menumpuk tidak kami alami. Dengan leluasa, kami dapat beradaptasi dengan cara belajar yang lebih merdeka.

Namun merdeka seperti apa? Apakah setiap orang tua benar-benar telah memahami bagaimana fasilitator menyusun dan menerapkan rencana belajar kelas di tiap semesternya sebelum corona menyerang? Apakah fasilitator siap memantau perkembangan belajar anak dalam berbagai kondisi? Lalu bagaimana koordinasi orang tua dan fasilitator berjalan dalam masa jaga jarak yang cukup panjang ini? Apakah ruang-ruang komunikasi yang ada, seperti WAG dan zoom meeting, cukup efektif?

Pertanyaan itu beberapa kali saya terima dari kawan-kawan di luar komunitas SALAM yang tertarik dengan praktik belajar merdeka SALAM. Tentu saja saya mencoba menjawab sebisanya lewat praktik-praktik belajar yang saya ketahui, baik di kelas anak saya, di kelas yang saya fasilitasi, maupun di kelas-kelas lain yang saya ketahui lewat cerita rekan-rekan fasilitator dalam koordinasi rutin tiap minggunya.

Namun jangankan mereka, saya sendiri juga kerap masih bertanya dalam hati, meskipun telah bergabung di lebih dari sembilan WAG yang berisikan warga komunitas SALAM dengan berbagai tema pembicaraan, “Lalu bagaimana SALAM memraktikkan belajar merdeka tanpa perjumpaan langsung dalam kurun yang begitu lama?”

Anak saya, paling tidak satu kali dalam seminggu, mengeluh betapa ia rindu bermain bersama teman-temannya. “Jadi to, Mah, aku sama temen-temen itu ya pengen libur lamaaaa banget kayak sekarang. Persis kayak sekarang. Tapi nggak gini juga. Nggak boleh ketemu temen, nggak bisa main bareng, nggak ada home visit,” ocehnya tempo hari.

Saya sendiri sebagai orang tua mulai kehabisan ide tentang kegiatan apa yang bisa dilakukan bersama anak. Jika benar-benar libur corona, begitu istilah di rumah kami untuk menyebut masa jaga jarak ini, akan diperpanjang, lalu apa indikator belajar anak di semester depan? 

Di SALAM, setiap fasilitator di tiap kelas biasanya akan menyusun indikator belajar kelasnya sebelum semester baru dimulai. Hasilnya akan disampaikan dalam forum bersama orang tua di awal semester, terutama di kelas-kelas kecil, dalam format rancangan kegiatan belajar selama satu semester. Orang tua kemudian memberi masukan, menambahkan ide kegiatan, kemudian menyepakatinya sebagai kegiatan belajar bersama selama satu semester. Di jenjang yang lebih tinggi, seperti di SMP dan SMA, anak lebih terlibat aktif dalam menyusun sendiri agenda belajar hingga target-target yang ingin ia capai.

Tentu saja dalam masa jaga jarak yang diperpanjang, semua tahapan ini harus dilalui secara online. Sementara dalam perjumpaan online, banyak sekali keterbatasan yang muncul. Kesibukan masing-masing partisipan, kesulitan hidup yang harus dihadapi di tengah pandemi, minimnya sinyal dan kuota, hingga pola rutinitas yang berbeda bisa jadi kendala. Yang paling sering terjadi, diskusi macet karena tidak ada respon/ umpan balik dari peserta diskusi. 

Yang paling menyedihkan, riset-riset bersama yang biasanya dilakukan oleh kelas-kelas kecil dengan tema-tema seperti menanam, memasak bersama, bermain permainan tradisional, menjadi sulit untuk direalisasikan.

Semerdeka apapun proses belajar yang dilakoni SALAM, serangan wabah tetap menimbulkan banyak kendala dalam praktik belajarnya. Apakah SALAM sebagai sebuah komunitas mampu menghadapi ini bersama-sama?

Saksi Sejarah

Bagaimanapun juga, tahun ini akan diingat dengan sangat baik oleh siapapun dan menjadi sebuah sejarah besar bagi umat manusia. Penting bagi kami, baik sebagai orang tua maupun fasilitator, untuk terus menyadari ini. Melibatkan anak dalam diskusi dan tindakan yang kita lakukan dari hari ke hari, akan meninggalkan ingatan dan kesan bagi anak bahwa mereka juga menjadi bagian dalam peristiwa sejarah ini.

Hingga hari ini saya masih ingat betul bagaimana peristiwa kerusuhan Mei 1998 melekat dalam benak saya yang saat itu baru saja lulus SMP. Siang hari saat arak-arakan demo mahasiswa berbaris menuju balai kota, bapak saya mengajak untuk menyaksikan di pinggir jalan. Adik saya yang terkecil, saat itu usianya mungkin 9 tahun, menonton sambil asyik bermain sepeda.

Malam hari setelah pecah kerusuhan di pusat kota, Bapak mengajak saya dan kedua adik saya berkeliling dengan motor Binter hijau sambil membawa kamera. Sesekali kami berhenti dan Bapak memotret coretan-coretan di pintu-pintu gulung yang semuanya bertuliskan ‘Pribumi Asli’. Hingga hari ini saya tidak menganggap coretan itu sebagai aksi vandalisme karena dibuat sendiri oleh para pemilik toko, atau tetangga-tetangga mereka yang bersimpati terhadap pemilik toko, dengan tujuan untuk melindungi toko-toko itu dari penjarahan. Kakek saya lebih ekstrim lagi. Tanpa perlu membeli cat semprot, ia memilih mengeluarkan semua foto diri berbingkai keemasan yang sebelumnya terpajang di dalam rumahnya, dan menggantung foto-foto itu di depan rumah toko tempat beliau tinggal. Dalam semua foto itu kakek saya berbusana kejawen.

Setelah kerusuhan reda, saya diajak Bapak membuat kliping dengan foto-foto hasil jepretan amatir Bapak dan potongan-potongan koran. ”Ayo bantuin, ini sejarah yang tidak ada di buku pelajaran sejarahmu,” begitu ajakan Bapak yang saya ingat. Saya membantu sambil membaca semua berita dalam kliping tersebut. Meski tidak sepenuhnya paham, tapi saya merasa telah menjadi bagian kecil dalam sejarah.

Itu sebabnya saya berpikir, apa yang kita lakukan hari ini, itulah yang akan dikenang sebagai sejarah oleh anak-anak kita. Tentu saja untuk saat kita tidak perlu membawa anak berkeliling kota dan memotret sana-sini macam bapak saya. Namun kesadaran penuh bahwa ini sejarah, yang tidak hanya perlu diingat oleh orang dewasa saja tapi juga anak-anak, akan membawa kita dalam berbagai diskusi dan tindakan menarik. Yang terpenting, hasilnya harus terdokumentasikan. Bisa dalam bentuk kliping, jurnal harian, blog, atau vlog.

Pada akhirnya saya sangat bersyukur. Dalam situasi pandemi seperti ini, saya sekeluarga telah menjadi bagian dari himpunan komunitas belajar SALAM yang sangat dinamis. Banyak sekali ilmu-ilmu tentang praktik hidup bersama, urip bebrayan, yang menjadi bekal berkomunitas. Bekal itu sangat berguna saat kami harus berperan di komunitas lain seperti dalam mengelola usaha maupun bertetangga. Saya pun sepenuhnya yakin bahwa SALAM sebagai sebuah komunitas belajar akan mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam proses belajar warganya dalam situasi pandemi. Sembari terus meyakini bahwa seberapapun merusaknya, sebuah badai pasti berlalu.(*)