SALAM yang Tak Punya Pagar

Sebagai seorang mahasiswa Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, mendiskusikan isu-isu sosial merupakan suatu hal yang wajib dan dengan sengaja dikembangkan. Salah satu isu sosial yang menarik perhatian saya yaitu mengenai peran dunia pendidikan yang justru melanggengkan ketidakadilan, ketertindasan dan kemiskinan, baik melalui kurikulumnya (yang terlihat maupun yang tidak terlihat—hidden curiculum) dan metode pengajarannya.

Pendidikan yang memerdekakan.

Keresahan akan hal ini membawa saya pada sosok Y.B Mangunwijaya dengan model pendidikan yang memerdekakan. Model pendidikannya yang berani, membuat saya merasa tidak puas jika hanya sampai pada membaca buku-bukunya saja. Saya pun mencari sekolah yang sejalan dengan semangat Romo Mangun. Pencarian ini membawa saya pada Sanggar Anak Alam (SALAM) yang dibangun oleh ibu Wahyaningsih yang adalah teman seperjuangan Romo Mangun di Kali Code. Setelah berdialog bersama ibu Dian (salah satu fasilitator di SALAM), akhirnya kesempatan dibuka bagi saya untuk berproses bersama teman-teman di SALAM. Kira-kira itulah mengapa saya sampai pada titik ini.

Kalimat pertama yang terlintas di pikiran saya saat melihat SALAM yaitu “tempat menempuh pendidikan yang tak berpagar”. Tempat orang pada umumnya menempuh pendidikan (contoh: sekolah formal) biasanya memiliki beberapa lapisan pagar, seperti pagar bagian paling luar yang berfungsi sebagai akses pertama masuk-keluarnya orang-orang dan kendaraan. Sementara pagar kedua berfungsi untuk masuk ke dalam gedung sekolah. Tulisan ini ditulis kira-kira pada minggu ke-3 saya menjadi fasilitator di SALAM. Kesan lebih lanjut yang saya rasakan setelah berproses bersama selama ini ialah, bahwa ternyata tidak adanya pagar pada jalan masuk ke lokasi SALAM mengindikasikan tidak adanya juga pagar-pagar antar manusia dan manusia, serta manusia dan alam yang menjadi pembatas atau pemisah dalam kehidupan di SALAM. Semuanya hidup bersama.

Salah satu kegiatan bersama-sama anak SALAM di ruang Limbuk-Cangik.

Kesan yang saya dapatkan di SALAM tentunya tidak bisa lepas dari pengalaman saya bersekolah di sekolah konvensioal. Saya bisa merasakan relasi yang begitu indah antara setiap orang, baik antara anak-anak di SALAM, sesama fasilitator, ataupun antara anak dan fasilitator. Tidak ada pagar pemisah antar semua peran, entah anak SD dan anak SMA ataupun antara fasilitator lama dan fasilitator yang baru. Setiap orang diperlakukan secara manusiawi. Akhirnya, rasa kekeluargaanlah yang melingkupi setiap orang di SALAM. Sampai saat ini, saya belum pernah melihat anak-anak (khususnya TK dan SD) yang merengek-rengek tidak mau masuk ke lingkungan SALAM. Tidak seperti saya dulu yang sering menangis jika harus masuk ke halaman sekolah karena harus ditinggal pulang orang tua. Tidak saya temukan juga jurang antar kelas yang disebabkan oleh senioritas. Sebagai contoh, tidak ada yang menggunakan label “saya anak kelas 12” atau “saya anak kelas 6” untuk memandang dan memperlakukan rendah adik kelasnya. Lagi-lagi, tidak seperti kehidupan sosial yang harus saya temui dan jalani dulu yang sarat senioritas dan bullying. Relasi antara fasilitator dan teman-teman di kelas pun begitu hangat. Gaya mengajar yang top-down tidak saya temui, melainkan suasana dialog-lah yang dihidupi dalam proses belajar-mengajar.

Pengalaman tiga minggu berproses bersama teman-teman di SALAM juga memperluas pengetahuan saya tentang dunia ini. Setiap kali saya berdialog dengan seseorang, saya pasti mendapatkan pengetahuan yang baru, baik mengenai kerajinan tangan, rias wajah, fotografi, jenis-jenis kulit daur ulang, jenis kopi, tarian, memasak, dan sebagainya. Lebih dari pada itu semua, secara tidak langsung saya diajarkan untuk menghargai dan merayakan keunikkan dari setiap orang, termasuk diri saya sendiri. Saya jadi ingat kalimat bu Wahya saat diwawancarai oleh CNN Indonesia, katanya “anak-anak akan berkembang menjadi baik apabila mereka menjadi dirinya sendiri”. Dibanding dengan menyeragamkan setiap anak, membantu anak untuk menemukan, memahami dan merdeka menjadi diri sendiri merupakan proses yang cukup panjang. Namun, proses panjang itulah yang dipilih untuk dijalankan di SALAM. Keragaman yang dihidupi akhirnya membuat membuat kehidupan semakin kaya, semakin manusiawi dan tidak membosankan, karena setiap hari pasti memiliki unsur kebaruan.

Kira-kira begitulah kesan yang dapat saya ceritakan dalam tulisan ini. Jika menimbulkan rasa penasaran, silakan baca tulisan yang lain, stalk media sosial SALAM, atau main ke SALAM langsung.