Blog

Saya Belajar Teater dari Anak-Anak SALAM

Catatan Setahun Menemani Kelas Minat Teater Sanggar Anak Alam, Oleh: Khuluqul Karim Fasilitator Kelas Minat Teater di SALAM Yogyakarta, ko-inisiator Ruang Makmal dan redaktur-editor zine Seberang Kali di Teater Eska.

Saya datang ke Sanggar Anak Alam dengan keyakinan yang kerap dimiliki orang dewasa: rasa percaya diri yang sedikit pongah. Saya membawa metode, membawa rencana, membawa bayangan tentang bagaimana teater seharusnya diajarkan. Dalam kepala saya, teater adalah latihan tubuh, pengolahan suara, penguasaan panggung—dan, bila semuanya berjalan baik, sebuah pertunjukan yang layak ditonton.

Setahun kemudian, keyakinan itu runtuh pelan-pelan, seperti tembok rapuh yang disentuh hujan. Yang tersisa bukanlah rasa kalah, melainkan kesadaran: di SALAM, saya tidak sedang mengajar teater. Saya justru sedang belajar menjadi manusia—dari anak-anak.

Di SALAM, teater tidak menetap di panggung dengan lampu sorot dan tirai tertutup rapat. Ia hidup di lantai kelas yang berdebu, di tanah lapangan, di pinggir kali, di sela obrolan yang tampak remeh, bahkan di konflik kecil yang di sekolah-sekolah formal sering buru-buru dipadamkan. Teater tidak hadir sebagai mata pelajaran, apalagi sebagai target capaian. Ia hadir sebagai cara hidup: cara mendengar, cara hadir, cara berbagi ruang.

Sebagai fasilitator, saya segera paham bahwa peran saya bukan berdiri di depan sambil menggenggam rencana pembelajaran yang rapi. Peran saya justru mirip penjaga api kecil: memastikan ia tidak padam, sambil menerima kenyataan bahwa arah nyalanya tak selalu bisa ditebak. Anak-anak datang dengan ritme dan energi yang cair—kadang ingin bermain, kadang ingin bercerita, kadang hanya ingin diam. Dari situlah saya belajar bahwa teater, dalam konteks ini, bukan soal teknik bermain peran, melainkan latihan kehadiran.

Teater yang Tidak Lekas Bergegas

Di tengah sistem pendidikan yang tergesa mengejar hasil, SALAM memilih berjalan pelan. Proses adalah pusatnya. Teater tidak diburu untuk segera menjelma pertunjukan. Anak-anak tidak diajari cara “tampil bagus”, melainkan diajak menyadari tubuhnya sendiri, mendengar temannya, dan mengenali ruang yang mereka bagi bersama.

Latihan kami sering kali nyaris tak tampak sebagai latihan: berjalan bersama, melompat, berlari, menirukan suara, berimprovisasi dari cerita teman, atau memainkan kembali konflik yang baru saja terjadi. Dari kesederhanaan itulah saya menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam pendidikan seni: teater sebagai praktik etis, bukan sekadar praktik estetis. Anak-anak belajar menahan diri, belajar tidak menang sendiri, belajar menyampaikan pendapat tanpa harus melenyapkan yang lain.

Kelas kerap kacau. Rencana buyar. Waktu habis untuk berdebat. Energi anak-anak meluap ke arah yang sama sekali tak saya rancang. Namun justru di sanalah hidup berdenyut paling kuat. Ketidakteraturan tidak selalu berarti kegagalan. Kadang ia adalah tanda bahwa proses benar-benar berlangsung. Yang dibutuhkan bukan kontrol berlebihan, melainkan kepercayaan.

Dan Ketika Pertunjukan Itu Terjadi

Meski bukan tujuan utama, sepanjang 2025 Kelas Minat Teater SALAM tetap melahirkan beberapa pertunjukan—yang lebih tepat disebut sebagai jejak-jejak proses.

Mini drama “Sampah Ga Asik Ah!”, misalnya, lahir dari obrolan ringan tentang kebiasaan membuang sampah dan dipentaskan pada pembukaan pameran Sampah Kita, Cerita Kita di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Anak-anak berbicara tentang lingkungan dengan bahasa mereka sendiri: jenaka, lugas, tanpa nada menggurui. Teater menjadi cara mereka menyapa dunia yang mereka hidupi.

Ada pula monolog “Kita Hanya Belajar Pergi, Bukan Kembali” di Semarak Sinau #3 SALAM—ruang personal bagi saya untuk mengolah kegelisahan tentang pendidikan dan perjumpaan dengan SALAM. Di panggung itu, yang diuji bukan teknik akting, melainkan keberanian untuk jujur. Dan kejujuran, sering kali, lebih sulit daripada menghafal dialog.

Puncaknya adalah pertunjukan kolosal “Robohnya Sekolah Rakyat Kami” pada perayaan 25 tahun SALAM. Sebuah kerja kolektif lintas usia dan peran: anak-anak KB hingga SD, fasilitator, orang tua, komunitas lain. Teater menjelma medan perjumpaan ingatan dan politik pendidikan. Mereka tidak sekadar tampil; mereka bersuara tentang rapuhnya ruang belajar, tentang sekolah sebagai rumah yang terus-menerus harus diperjuangkan.

Ada pula pertunjukan boneka dan tari “To The Fireflies Returning” di Gulali Festival 2025 bersama Lisa Gautama. Boneka, gerak tubuh, dan nyanyian membuka bahasa lain bagi imajinasi. Tidak semua harus dijelaskan. Kadang satu nyanyian sudah cukup untuk membawa kami hanyut bersama.

Semua pertunjukan itu lahir dari proses yang penuh tawa, kegagalan kecil, dan perdebatan. Wajar. Sebab pertunjukan hanyalah satu simpul. Kehidupan sehari-hari tetap panggung utama.

Menegosiasikan Relasi Kuasa

Menjadi fasilitator di SALAM berarti terus-menerus menegosiasikan kuasa. Saya bukan sutradara dengan kendali mutlak, bukan pula pengajar yang selalu benar. Otoritas tidak datang dari suara paling keras atau instruksi paling rapi, melainkan dari kehadiran yang konsisten dan komitmen yang dirawat bersama.

Ada saat ketika anak-anak menolak arahan saya, memilih jalan yang sama sekali berbeda. Awalnya mengganggu. Lama-lama membebaskan. Saya belajar bahwa mendidik bukan mengarahkan ke satu tujuan tunggal, melainkan menjaga agar proses belajar tetap manusiawi.

Teater di SALAM tidak bertujuan mencetak aktor profesional. Ia merawat keberanian: keberanian berbicara, mendengar, berbeda, dan bekerja bersama.

Belajar Melambat

Setahun di SALAM menggeser cara pandang saya tentang seni dan pendidikan. Di dunia yang memuja kecepatan dan hasil, ruang ini mengajarkan nilai melambat—merayakan proses kecil, mengakui bahwa belajar bukan garis lurus menuju prestasi, melainkan perjalanan berliku yang membentuk manusia.

Saya datang untuk mengajar teater. Saya pulang membawa kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk tidak selalu tahu. Anak-anak SALAM terus mengingatkan saya bahwa seni dan pendidikan hanya bermakna bila berpihak pada manusia—terutama manusia yang sedang bertumbuh.

Refleksi ini belum selesai. Ia akan terus berjalan seiring anak-anak bertambah usia dan saya terus belajar bersama mereka. Namun satu hal kini jelas: teater bukan semata soal tampil di atas panggung. Ia adalah cara hidup bersama—lebih sadar, lebih pelan, dan, semoga, lebih manusiawi.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *