Sekolah Itu Candu

HARAP MAKLUM, sekali lagi, terutama dalam rangka membuat orang tersenyum dan tertawa itulah maksud utama buku kecil ini disajikan ke hadapan anda semua. Kalau ada banyak di antara pembaca nanti yang menyelewengkan, sengaja atau tidak sengaja, maksud utama itu—misalnya saja anda lantas berkerut dahi sambil mengangguk-angguk dan berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita, lantas anda berencana melakukan sesuatu untuk merombaknya habis-habisan– maka itu menjadi tanggungjawab anda sendiri.

Tetapi, kalau ternyata banyak atau semua pembaca buku kecil ini lantas melakukan penyelewengan yang serupa… nah, mungkin kita memang perlu melakukan sesuatu dan bertanggungjawab bersama. Yang jelas, semua isi tersurat maupun tersirat buku kecil ini menjadi tanggungjawab yang empunya tulisan sendiri, termasuk atas penyelewengan kalau isi dan makna buku kecil ini ternyata tidak mampu memenuhi tujuan utamanya: membuat anda tersenyum dan tertawa!”

Toto Rahardjo, penyunting.

“Sekolah Itu Candu”

Paling sedikit dua belas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekader mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.

Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang? Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka yang terutama masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!

“Jangan sampai putus sekolah, kalau putus sekolah bisa berabe,” demikian ujar Mandra dalam satu periwara televisi nasional ‘Ayo Sekolah’ yang disponsori oleh UNICEF dan Kementrian Pendidikan Nasional.

Demikian pentingya sekolah, sehingga Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia segera mengucurkan utang baru untuk menjamin anak-anak Indonesia tetap di bangku sekolah ditengah masa krisis beruntun seperti saat ini. Untuk menjamin dana tersebut dapat sampai pada tujuannya, maka jalur birokrasi pun dipangkas, sudah sejak beberapa tahun, anggaran belanja negara untuk sektor pendidikan merupakan primadona. Tetapi, jangan tanya soal kebocorannya. Simak saja laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap tahunnya yang menunjukan bahwah depertemen pendidikan nasional masih tetap merupakan salah satu lembaga pemerintah yang paling korup, banyak yang salah-urus, dan sangat ruwet.

Namun yang lebih penting adalah pertanyaan: apakah tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diraih lewat proses yang dipacu-laju (accelerated) dengan tambahan dana besar tersebut? Pertanyaan kunci adalah: apakah usaha ini merupakan usaha yang layak (benifit of risk)? Apakah program ini akan mampu menghindari bangsa kita dari keterpurukan yang lebih jauh, khususnya ketika pasar bebas mulai diterapkan?

Sistem kurikulum dan sistem manejemen sekolah juga tidak kalah seruhnya, karena hampir setiap kali pergantian mentri,  kebijakan mengalami bongkar pasang. Bukankah bisnis ‘buku pelajaran sekolah’ (‘buku INPRES’) merupakan bisnis yang sangat menguntungkan? Seragam sekolah anak SD pun hampir manjadi objek bisnis ‘kolusi-korupsi-nepotisme’ (KKN). Syukur, media massa cukup tanggap, sehingga proyek itu layu sebelum berkembang. Pendek kata, pendidikan telah menjadi sebuah komoditas.

Ini bermula dari kasus pemecatan Eko Sulistyo, seorang siswa SMA di Yogyakarta, ketika anak itu mencoba membuktikan bakatnya dengan cara mencari tahu lewat penelitian yang dirancang dan dilakukannya sendiri  tentang pandangan kaum remaja seusianya mengenai kehidupan seksual. Bukan hanya itu, bahkan beberapa unuversitas secara terang-terangan menolak Eko, justru sebelum ia diberi kesempatan sama sekali untuk mengikuti ujian masuk.

Selama beberapa minggu, koran-koran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung melaporkan secara eksklusif kasus Eko. Lalu, terjadi banjir surat pembaca dan polemik pun berkembang. Dari semua tanggapan tersebut, terlihat bahwa masyarakat umumnya tidak bisa menerima keputusan pemecatan Eko. Alasan bahwa Eko melakukan penelitian tanpa izin resmi dari sekolahnya dan dari pejabat pendidikan setempat, dianggap sebagai alasan yang dicari-cari dan mengada-ngada, bahkan makin memperlihatkan kelemahan dunia pendidikan nasional yang semakin birokratis dan serba formal, semakin tunduk dan diatur oleh kekuasaan politik, bukan oleh kaidah-kaidah asas ilmiah akademis yang seharusnya.

Ketika anak berbakat itu, dengan nada frustasi, menyatakan diri tak mau sekolah lagi, bahwa sekolah tak memberinya banyak hal yang didambakannya sebagai seorang anak yang memiliki rasa keingintahuan yang besar.

Ketika anak berbakat itu kemudian ternyata tidak benar-benar berhenti bersekolah, dan karena seorang rektor satu perguruan tinggi ternama menjadi tertarik dan bersedia menerimanya sebagai mahasiswa tanpa melaluiu ujian saringan masuk. Serentak mendapat banyak reaksi dari masyarakat. Masyarakat menyatakan dukungan dan menganggap keputusan itu lebih tepat, berani, dan lebih mendidik. Maka kehebohan ini mereda perlahan-lahan kemudian terlupakan orang.

Dalam ulasan lebih lanjut, penulis banyak menyayangkan masyarakat bersikap reaktif saja. Seakan-akan sekolah merupakan dewa yang tidak bisa ditawar lagi. Sebenarnya sekolah bukan satu-satunya alat untuk menuju apa yang kita mau. Sekolah hanya bisa sedikit membantu tentang apa yang kita inginkan. Tetapi masyarakat terlalu heroik seakan sekolah adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Jadi, sekolah jua lah yang benar dan kuasa, tak pernah salah dan tak kalah. Adapun yang salah (dan akan selalu dipersalahkan) adalah mereka yang justru gagal menjalaninya, yang ditolak olehnya: mereka lah senyata-nyatanya orang-orang yang kalah!!

Buku dengan bergaya campuran, yaitu menggunakan gaya deskripsi, narasi, dan eksposisi ini sangat menarik untuk dibaca. Buku ini ditulis oleh Roem Topatimasang,  berdasarkan pengalaman, dan berbagai penelitian. Serta banyak reverensi mendukung yang di pakai dalam buku ini. Buku ini menjelaskan asal-mulah sekolah dari zaman Yunani Kuno, hingga sekolah menjadi lahan bisnis seperti sekarang ini. Buku ini memang dapat digolongkan sebagai bacaan subversif, karena jelas-jelas menggugat kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung di republik ini sejak lebih dari dua dasawarsa lalu.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1998. buku ini digolongkan buku yang laris (best seller), dan sekarang ini adalah cetakan ke-12, dengan beberapa sentuhan baru, mulai dari perubahan sampul sampai tata-letak dan kompugrafi, untuk itu sangat menarik untuk dibaca, dan menjadi rujukan untuk para pencinta buku.

“Sekolah itu candu”, di Tulis Roem Topatimasang, menurut beritanya buku itu pernah di larang beredar di Orde baru, konon isinya mampu merobah cara pandang seseorang tentang dunia pendidikan, benar atau tidak hanya pembaca yang bisa menilai sendiri, sungguhpun begitu buku itu layak untuk kita jadikan sebagai renungan, masih pantaskah sekolah mengakui dirinya sebagai peran tunggal dalam mencerdaskan manusia, demikian pembukaan dari buku yang di tulis oleh bapak Roem Topatimasang itu, saya sendiri pernah membaca buku itu. kesenjangan sosial yang terjadi di kala itu membuat Roem tergugah untuk menyapa masyarakat, tokoh pendidikan dan penguasa itu sendiri.

Nampaknya kita perlu memilah pengertian sekolah dan aksi dari makna kata sekolah. Tidak mudah memang mendidik orang, pemuaian makna sekolah dari tipologinya membuat semua negara di atas bumi ini perlu mengatur orang-orang yang pantas pintar dengan selembar kertas ijazah keluaran sekolah. Lembar ijazah seperti kertas mantra yang siap digunakan untuk mengusir kebodohan dan kemiskinan. Dahulunya orang-orang Yunani menggunakan waktu luang mereka pergi ke tempat siapa saja yang di anggap cerdas di masa itu, dari SKHOLE (waktu luang) takdir dan alam semesta merubahnya menjadi kertas-kertas tebal nan wajib di kunyah dan ditelan anak-anak dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, siklus terus berlanjut. gaji dari hasil kerja di ukur dari ijazah juga, tak soal apakah ijazah itu berisi nilai-nilai yang jujur atau nilai hasil contekan.

Pada masyarakat kita sendiri, beragam pandang ditukilkan orang tua tentang apa itu sekolah, mulai dari “agar anaknya pintar, dapat kerja di kantor, dapat jodoh yang pintar, dan lain sebagainya”, Umpan balik dari proses sekolah tentu saja tidak sepenuhnya lancar, sebanyak yang pintar sebanyak itu pula yang bodoh, “lah gimana maksudnya ini!!”, proses metamerfosa “SKHOLE” mengharuskan ada anak yang pintar dan ada anak yang bodoh, seperti kelas unggul misalnya. Kan udah di sekolahin kok masih BODOH juga”, seperti Sunnatullah alam semesta berpasang-pasangan,  pintar-bodoh!

Tidak adil juga kiranya kesalahan mendidik itu di voniskan untuk para Guru (semoga Allah memberkatimu Guruku), perbanyaklah berkaca seperti apa cara yang di pakai dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan dan perbuatan. Dalam menetapkan masalah ujian saja kita kerepotan, masalah sumberdaya yang di perlukan demi menunjang lancarnya proses belajar-mengajar itu sendiri, belum lagi termasuk gaji Guru.

Akhir-akhir ini ada penambahan kosakata baru “sertifikasi”, Guru sertifikasi, ada Strata pula ternyata untuk membuat seseorang cerdas!

Orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah sebenarnya beragam motivasinya, terlepas dari motivasi apapun itu, menurut saya orang tua kunci utama cerdas atau bodohnya seorang anak, bahkan cacat genetika pada anak belumlah bisa kita stratakan dia di kelas Bodoh, pengetahuan manusia masih terbatas untuk menghakimi isi otak seseorang, menurut saya pak Roem menyapa kita semua agar memandang sekolah yang pada hakikatnya mendidik, dengan makna yang lebih santun menurut sifat alamiah kita sebagai manusia yang di-Beri Akal, memanusiakan manusia. Tak ada sesungguhnya batas seseorang untuk tidak mendapat kesempatan mencari sesuatu yang ingin dia ketahui dengan fasilitas yang baik, sepanjang dia masih bernafas selama dia masih punya keinginan, kesombongan KURIKULUM telah menyembelih mimpi putra-putri pertiwi, sebab waktu lebih banyak di sita oleh sinetron KBK, sila dan pasal, wajarlah mereka miskin dari cara menanam benih budi pekerti, mungkin sebab itu pula sehingganya UAN menjelma menjadi HANTU baru.

Kita tiada akan runut itu satu persatu, bercermin lalu membenahi dandanan semestinya akan meminimalisir resiko kebodohan itu. Terhadap pak Roem Topatimasang sendiri jujur saya nyatakan sekolah itu tidak candu, kebodohan kita yang telah men-Dewa-kan sekolah, membuat sekolah itu menjadi candu. hampir di setiap negeri terdapat orang-orang cerdas yang boleh kita bawakan sebungkus kopi segenggam gula di waktu luangnya, untuk kita teguk kepandaiannya lalu menjadikannya ilmu baru, bedanya dengan sekolah jelas disitu tidak ada UAN yang telah menjelma menjadi HANTU, fasilitas perbaikan untuk setiap mata pelajaran berlaku seumur hidup, tanpa dikekang limit semester. sekolah juga tempat anak-anak bermain, berlari berkejaran menangis dan tertawa, sekolah juga tempat pembuangan anak-anak yang dianggap nakal oleh orang tuanya, jelas tidak ada candu disini! (Rifai Rahayaan)

Gaudeamus igitur Juvenes dum sumus post jucundum juventutem post molestam senectutem nos Habebit humus…

Bait di atas adalah cuplikan sebuah lagu yang biasanya dilantunkan serentak saat wisuda bersama para insan akademia. Bersama para dosen, guru besar, dan tentunya mahasiswa. Saya sendiri mendengarkan lagu ini ketika penerimaan anggota baru Perhimpunan Mahasiswa Bandung tahun 2014, waktu itu saya sebagai peserta dan sedang ranum-ranumnya mencumbui kehidupan. Jadi bisa dipastikan ada sesuatu yang meletup-letup serta sayup-sayup mengalir di tubuh saya. Itu dulu ketika luka belum begitu menganga. Ya, momen itulah satu-satunya momen yang pernah saya lalui untuk menikmati lagu gaudeamus igitur (baca: belum lulus kuliah). Dan marilah kita bersenang-senang selagi masih muda setelah masa muda yang penuh keceriaan dan setelah masa tua yang penuh kesukaran akan menguasai kita…

Menyoal pendidikan dalam banyak kasus dengan segala sudut pandang memang tiada habisnya. Dan apakah seserius itu? Hanya untuk membahas pendidikan?. Memang zaman sudah sedikit berubah pada ranah dimensi waktu. Terlebih dengan adanya teknologi yang memungkinkan kita dapat mengakses materi-matari dari sekolah di belahan dunia manapun, dan tidak ketinggalan bertatap muka dengan para pakar yang menggeluti bidangnya masing-masing.

Buku ini sudah usang jikalau dibandingkan secara essence dengan zaman sekarang. Judul yang diberikan Roem memang agak menimbulkan spekulasi ke arah Marx, bahwa agama itu candu, apalagi sekolah, dan vice versa. Roem Topatimasang ingin mengajak kita memasuki ranah being dari pendidikan sampai merujuk ke arah method dan praxis yaitu sekolah.

Bab 1 buku ini mengajak kita mundur ke belakang, jauh lebih kebelakang lagi tepatnya di zaman Yunani Kuno yang mensistematisasi kata skhole. Roem mencoba membedah kata sekolah lewat cara demikian. Ia menggunakan pendekatan historis bahwa sekolah atau skhole secara harfiah mempunyai arti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Secara singkat dapat dikatakan sebagai “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.” Adalah Jogn Comenius, melalui mahakarya yang kemudian dianggap sebagai fons et origo-nya ilmu pendidikan (tepatnya teori pengajaran), yakni kitab Didactica Magna, melontarkan gagasan pelembagaan pola dan proses pengasuhan anak-anak secara sistematis dan metodis, terutama karena kenyataan memang adanya keragaman latar belakang dan proses perkembangan anak-anak asuhan tersebut yang memerlukan penanganan khsusus. Roem kemudian menjelaskan tentang sistem klasikal yang mana terjadi perjenjangan kelas dan tingkatannya berdasarkan cetusan seorang berkebangsaan Swiss, Johann Heinrich Pestalozzi. Dan sistem itu sampai sekarang masih dapat kita temui di banyak-banyak sekolah.

Bab 2 berisi contoh-contoh sekolah yang berada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kondisi universitas yang menjadi contoh tentu berbeda saat buku itu ditulis dan diterbitkan. Apakah masih ada wujudnya atau sudah lenyap ditelan waktu? Yang jelas, Roem ingin menunjukkan bahwa sekolah-sekolah bukan hanya sekolah yang terkenal seperti yang selama ini berada di benak kita, akan tetapi sekolah yang tidak terkenal pun dapat menjadi pilihan.

Ada pernyataan yang dapat saya garis bawahi pada bab ini, bahwa nama sekolah dalam bahasa kontingental bisa berarti “aliran pemikiran”. Sehingga terdapat nama sekolah Durkheim yang kita tahu itu. Dan juga di bab ini, penulis menyenggol Sekolah Frankfurt yang mana kita tahu merupakan suatu paguyuban ilmiah para pengusung Mazhab Frankfurt, Sekolah Wina yang merupakan paguyuban para pakar psikologi rintisan Alfred Adler.

Bab 3 dan 4 hanya berupa cuci mata penulis dengan seragam-seragam anak sekolahan dan sempilan gagasan Paulo Freire (yang tentu berbau pembebasan), sehingga saya langsung mengulas bab 5-terakhir yang memang agak (kalau boleh disebut kiri juga saya tidak tahu) menindih sekolah sebagi suatu perusahaan, suatu sistem yang bengis tapi tetap dibutuhkan, pun sekolah adalah lembaga yang harus bernilai benar di kalangan masyarakat kita. Setidaknya itu yang penulis ingin pembaca merenungi kembali ketercerabutannya dengan dunia pendidikan kita.

 Pereat tristitia pereant osores pereat diabolus quivis antiburschius atque irrisores

Pendekatan pendidikan di mana proses pembelajaran diutamakan terjadi melalui pengalaman (experiential learning), ala Dewey (2000) memberikan ruang bagi antisipasi, integrasi dan kontinuitas pengalaman individu (ezperienza in forma evolutiva) atas keterbukaan pengalamannya di masa depan. Bagi Roem dia mengambil jalur ini untuk urusan individu dalam proses belajar mengajar. Sebuah keniscayaan jika tidak mengambil suatu stage pada dimensi futuris, yaitu bahwa individu yang dididik sekarang ini akan menjadi anggota warga masyarakat di masa depan (Muttaqin, 2017). Hal ini tentunya kalau memakai Camus akan bertentangan.

Tidak ketinggalan Roem memasukkan Ortega, Bernard Shaw dan psikoanalisisnya Freud untuk menguatkan dan melengkapi paparannya. Buku ini sangat lembut jika dibaca sendirian, tidak terlalu dan juga tidak terlalu kencang untuk ukuran isinya yang ingin merubuhkan suatu tatanan lama. Keutuhan dan kelanggengan sebuah masyarakat akan sangat tergantung dari bagaimana masyarakat itu mendidik generasi mudanya sehingga mereka bisa berintegrasi secara baik di dalam masyarakat. Lebih dari itu, pendekatan pendidikan yang mengutamakan pembentukan individu juga memiliki relevansi erat bagi penguatan masyarakat demokratis. Ini terjadi karena ekspresi diri merupakan bagian dari wujud nyata praksis kebebasan individu, baik dalam pemikiran maupun tindakan.

Quis confluxus hodie Academicorum? E longinquo convenerunt Protinusque successerunt In commune forum

Di dalam buku ini disebutkan ada satu kasus seorang siswa yang dipecat oleh sekolahnya. Murid tersebut bernama Eko Sulistyo, seorang siswa SMA di Yogyakarta. Singkat cerita kasusnya sebagai berikut;

 Bermula ketika anak itu mengumumkan hasil penelitian terbatas yang diprakarsai dan dilaksanakannya sendiri tentang pandangan kaum remaja seusianya mengenai kehidupan seksual, sehingga kasus ini juga dikenal sebagai “Kasus Angket Sex Remaja”. Selama beberapa minggu, koran-koran Yogyakarta, Jakarta dan Bandung, melaporkannya secara eksklusif. Lalu, terjadi banjir surat pembaca dan polemik pun berkembang. Dari semua tanggapan umum tersebut, terlihat bahwa masyarakat pada umumnya cenderung tidak bisa menerima keputusan pemecatan Eko. Alasan bahwa Eko melakukan penelitiannya tanpa izin resmi dari pihak sekolahnya dan dari pejabat pendidikan setempat, dianggap sekedar alasan yang dicari-cari dan mengada-ada, bahkan makin memperlihatkan kelemahan dunia pendidikan nasional yang dinilai semakin birokratis dan serba formal, semakin tunduk dan diatur oleh kekuasaan politik, bukan oleh kaidah-kaidah ilmiah dan akademik yang seharusnya. Karena itu, ketika Prof. Dr. Andi Hakim Nasution, rektor IPB waktu itu, yang memang dikenal sangat gandrung dan banyak mencetuskan gagasan pembaharuan tentang penanganan pendidikan bagi anak-anak berbakat, menerima Eko sebagai mahasiswa IPB tanpa perlu ikut ujian saringan masuk, banyak reaksi dari masyarakat menyatakan dukungan mereka dan menganggap keputusan itu jauh lebih tepat, berani dan lebih mendidik. Maka, heboh ini pun segera mereda perlahan-lahan dan kemudian dilupakan orang lagi.

Pada akhirnya sekolah akan menang, walaupun dengan segala macam tuduhan dan penetrasi dari segala arah, makhluk satu ini akan tetap bertahan di singgasananya. Itulah titik temu yang ingin disampaikan Roem dengan mengambil contoh kasus Eko Sulityo.

Terakhir dari saya adalah bahwa manusia, dalam caranya berpikir dan berpengatahuan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai semacam tabula rasa-nya Lock, suatu kertas kosong, atau rak perpustakaan, di mana ilmu pengetahuan itu dicurahkan, dituliskan, disimpan, melainkan sebuah ruang di mana pengetahuan, kebenaran dan pemahaman terjadi. Selalu terjadi pembelajaran secara terus menerus dan terjadilah suatu frasa “sekolah itu candu” yang bermakna positif.  

Untuk mereka yang faham dan percaya bahwa sekolah hanyalah satu tempat singgah menghabiskan waktu luang yang tersisa sekedar bersuka-ria selagi usia masih muda. Gaudeamus igitur iuvenes dum sumus! (Zulfadli Adha SP)