Sindiran Empuk di Buku ‘SEKOLAH APA INI ?’

Nanti malam, 3 Agustus 2019, pukul 20.00 WIB. Diskusi Buku “SEKOLAH APA INI” digelar di Kopi Parang.  jln Parang Klithik 1. No 10, Sondakan, Laweyan, Surakarta. Tulisan  Listia seorang pekerja sosial di Perkumpulan Pappirus Yogyakarta yang menulis kesannya ketika buku ini didiskusikan di WARUNG MOJOK pada tgl 13 Juli 2019 lalu menarik untuk menghantar teman-teman yang akan mendiskusikan buku ini nanti malam ****

Buku dengan judul ‘Sekolah apa ini?’, memberi gambaran bagaimana perjalanan dan proses kreatif para pengelola dan fasilitator Sanggar Anak Alam (Salam) dalam menyelenggarakan aktifitas pendidikan. Diskusi buku yang digelar di Warung Mojok Jl. Haryadi Ngaglik Sleman 13 Juli 2019 lalu menghadirkan para penulis sekaligus pegiat Salam; Gernatatiti, Karunianingtyas Rejeni dan Sri Wahyaningsih, dengan moderator mas Marcel. Pada udara malam yang dingin menusuk saat makin larut, peserta yang sebagian besar anak-anak muda antusias hingga akhir acara dengan berbagai pertanyaan yang apresiatif dan penuh canda.

Kesan yang tergambar dalam buku ini, semua berangkat dari panggilan memaknai hidup semua manusia yang pada dasarnya bermartabat. Pertanyaan-pertanyaan tentang ketidakadian sosial sosial dari realitas kemiskinan di sekitar kala itu, oleh mba Sri Wahyaningsih sang perintis, terus menerus dikelola di tengah banyaknya keterbatasan dan hambatan sehingga tidak berhenti pada wacana, sebagaimana dipaparkan pada bagian awal buku ini.

Pencarian untuk menemukan jalan pemberdayaaan di tengah berbagai perubahan sosial  mendapatkan arkulasi dalam pendidikan yang menyadarkan, pendidikan yang memerdekakan manusia –dari situasi yang dapat menghancurkan martabatnya. Rintisan dimulai dalam aksi mendampingi beberapa komunitas masyarakat terpinggirkan, yang kemudian bergulir pada aksi-aksi selanjutnya, yang semua disadari juga sebagai pembelajaran membangun pembangun sikap kritis dan metode belajar yang kemudian bermuara pada usaha terorganisir dalam komunitas pendidikan di daerah Nitiprayan. Apa kritik atas pendidikan yang berlangsung selama ini di bawah departemen pendidikan atau organisasi-organisasi kemasyarakatan,  apakah lembaga-lembaga pendidikan ini tda peduli dengan masalah kemanusiaan ini?

Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki niat luhur yang sama dengan berbagai ekspresi dan narasi masing-masing. Persoalannya seringkali apa yang diniatkan dan jalan yang ditempuh tidak sinkron. Misalnya mengharap peserta didik cerdas, tapi tidak membantu mereka dengan menghadirkan proses be;ajar yang membangun pengetahuan sendiri, waktu justru lebih banyak dihabiskan untuk menghafal. Mengharap kreativitas peserta didik tumbuh optimal, tetapi tidak memberi kebebasan dalam cara dan tahapan belajar karena semua proses belajar harus seragam sesuai tagihan kurikulum. Mengharap berkembangnya karakter tanggung jawab, tapi tidak memberi cukup kepercayaan pada peserta didik dan yang ditekankan lebih banyak kepatuhan. Terlebih lagi ketika pendidikan disertai biaya mahal, bagaimana akan menanggapi persoalan kesenjangan sosial kini dan yang akan datang? Ketidaksinkronan antara niat dan cara mencapainya di banyak lembaga pendidikan umum ini terus menerus berlangsung dari generasi ke genersi karena penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga-lembaga tersebut memang tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan pikiran kritis. Arah pembelajaran yang berlangsung secara umum dibatasi pada hal-hal instrumental, misalnya agar kelak peserta didik mudah mendapat pekerjaan yang menghasilkan uang banyak dan secara moral menjadi orang yang tidak mengganggu harmoni sosial.

Dalam kaca mata masyarakat umum, komunitas Salam menunjukkan keberanian melawan arus dalam mengelola aktifitas belajar, khususnya dalam pilihan yang radikal atas pendekatan pendidikan yang memanusiakan manusia. Kesadaran bahwa pendidikan pada dasarnya adalah bagian perjuangan kolektif untuk semua manusia, bukan sekelompok manusia saja. Oleh karena itu pendidikan harus berangkat dari realitas kemanusiaan sebagaimana adanya yang beragam, dari latar belakang tiap keluarga, dalam minat dan cara belajar, dalam aspirasi yang mengekspresikan pertumbuhan kesadaran moral yang berbeda-beda dan seterusnya. Mengakomodir semua perbedaan tidak lain justru sebagai cara memberi apresiasi tertinggi pada martabat manusia yang setara, yang tidak tersekat oleh atribut-atribut sosial.

Ekspresi simbolik yang menjelaskan penolakan penyeragaman dalam penyelenggaraan pendidikan langsung terlihat pada tidak adanya pakaian seragam saat belajar. Penyeragaman adalah praktik yang mereduksi keunikan manusia. Selain soal pakaian seragam, untuk mengelola kebersamaan dalam belajar, seluruh peserta belajar dibiasakan membangun kesepakatan tentang tiga hal yang intinya adalah menjaga diri, menjaga teman dan lingkungan, yang dalam pelaksanaannya tergantung pada fase tumbuh kembang siswa. Yang ditekankan adalah kesadaran akan nilai=nilai kebakan bersama, bukan sekedar kepatuhan pada aturan tetapi dilakukan dengan terpaksa.

Akomodasi terhadap keragaman karakter intelektual anak sangat nyata dalam kurikulum Salam. Di lembaga pendidikan umum, peserta didik belajar tentang berbagai mata  pelajaran yang sama yang telah ditentukan materi dan ukuran capaian belajar yang sama pula dalam suatu kurun waktu tertentu. Demikian pula metode evaluasi pemebalajaran dan evaluasi belajar dengan ujian dan penugasan yang seragam.  Di Salam, kurikulum bersifat personal, siswa dan fasilitatornya yang menetukan. Artinya tidak ada kurikulum baku untuk semua. Tidak ada mata pelajaran yang terspesialisasi dalam disiplin tertentu yang saling terpisah. Pengetahuan dibangun secara interdisipliner melalui riset mandiri. Setiap peserta didik memilih topik penelitian sesuai minatnya dengan tingkat kesulitan yang disesuakan jenjang pendidikan di Salam yang tetap menggunakan tahapan kelas sesuaI pendidikan umum. Dalam buku ‘Sekolah Apa Ini?’ Beberapa catatan dan kisah tentang riset yang dilakukan oleh anak-anak untuk beberapa level, cukup memberi gambaran tentang bagaimana praktik belajar di Salam.

Meski Salam memiliki konsep dan praktik pendidikan yang berbeda, namun tetap terbuka menerima peserta didik pindahan dari lembaga pendidikan lain. Tentu butuh proses adaptasi, yang oleh mba Karunianingtyas disebut proses detox, yaitu mengganti caa pikir dan membangun mentalitas pembelajar baru. Sangat mungkin di lembaga pendidikan lama tidak dibiasakan menumbuhkan rasa ingin tahu, mencari tahu dan membangun pengetahuan temuannya sendiri dalam berbagai ekspresi. Mba Tyas menceritakan pengalamannya bahwa proses seperti ini pun harus diterima, bahwa anak sedang beradaptasi yang pada awalnya barangkali membutuhkan waktu tertentu.

Mba Gernatiti memberi catatan, bahwa dalam situasi dan proses pembelajaran yang tidak biasa ini, peran orang tua sangat menentukan. Pilihan belajar di Salam membutuhkan kemampuan berargumentasi, mengaingat ada banyak komentar, terutama dari keluarga besar yang umumnya memandang tampilan luar. Selain itu, mba Wahya menambahkan peran praktis orang tua juga sangat dibutuhkan karena pembelajaran berbasis riset membuat anak punya kesibukan yang ada kalanya butuh bantuan orang dewasa. Sehingga ora tua perlu memahai keseluruhan konsep pembelajaran di salam dan bagaimana berpartisipasi untuk pencapaian belajar anak. 

Sanggar anak alam menjadi oase bagi para pembelajar baik fasilitator, peserta didik dan para orang tua sesuai posisi masing-masing. Semua belajar pada semua dan pada banyak situasi serta peristiwa. Karena itu Salam melampaui sekolah yang dibayangkan umumnya masyarakat yang memiliki banyak pembatasan. Sanggar melampaui sekolah. Sanggar Anak (-anak) Alam, pegiat pendidikan semesta.

Diskusi buku ‘Sekolah Apa ini?’ seperti menguliti cara pikir publik tentang penyelenggaran pendidikan yang sesungguhnya penuh pemaksaan tetapi sangat halus dalam ambisi pada kuasa ilmu dan kesejahateraan. Namun perbincangan dalam suasana ger-geran membuat kritik yang sesungguhnya sangat tajam terasa empuk.  

 Listia *Penulis pekerja sosial di Perkumpulan Pappirus Yogyakarta