Sebutir Ultraflu yang Tak Sia-Sia

Satu kata untuk menggambarkan perasaan saya saat menyaksikan Presentasi Pra-Riset yang digelar anak-anak kelas 10-11, SMA Sanggar Anak Alam (SALAM) hari ini, Kamis, 1 Agustus 2019. Puas! Banyak sekali alasan yang membuat saya bisa menyimpulkan bagaimana presentasi kali ini terasa memuaskan. Salah satunya karena sebagai fasilitator, saya sama sekali tidak melakukan pengarahan teknis untuk acara yang terselenggara cukup mendadak ini. 

Pra Presentasi Rencana Riset Siswa SMA SALAM

Tepatnya 3 hari yang lalu, kami baru memutuskan bahwa presentasi Pra-Riset akan cukup efektif diselenggarakan minggu ini dengan pertimbangan bahwa minggu depan kami tentu akan disibukkan oleh persiapan dan penyelenggaraan kemah bersama seluruh kelas SMA, sementara minggu berikutnya anak-anak juga akan sibuk bekerja sebagai panitia perayaan kemerdekaan RI. Setelah memastikan setiap anak merasa mampu menyelesaikan tahap perencanaan riset, maka kami memutuskan hari ini sebagai hari pelaksanaan presentasi. Saya lantas membuat undangan berupa broadcast singkat via grup orang tua kelas. Selebihnya, mulai dari urusan teknis seperti menyediakan hidangan, meminjam pengeras suara hingga mempersiapkan ruang dilakukan atas inisiatif anak-anak sendiri. 

Namun lebih daripada itu, satu hal yang membuat saya sangat takjub, adalah kemampuan anak-anak dalam menerjemahkan inti dari Kuliah Umum yang terselenggara 16-17 Juli 2019 lalu. Dalam Kuliah Umum yang dipandu oleh Pak Budi Gemak dengan Pak Toto Rahardjo sebagai pemateri tunggal tersebut, Pak Toto mengajak anak-anak untuk memahami realita melalui riset mereka. Realita tersebut tentu saja digali dari hal-hal yang mungkin awalnya mereka sukai. Namun ketika riset telah berjalan dan data mulai terkumpul, maka riset bukan lagi tentang ‘suka atau tidak suka’. Namun lebih jauh, riset adalah tentang bagaimana mengawali pencarian pengetahuan dengan penuh keingintahuan dan kegelisahan.

Sebutir Ultraflu

Jujur, selepas mendampingi anak-anak kelas 11 mengikuti Kuliah Umum tersebut, kepala saya pening. Pening sungguhan. Perlu setengah butir ultraflu setiap sore selama dua hari berturut-turut untuk meredakannya. Pening kepala ini mungkin disebabkan faktor psikis. Yang berkecamuk dalam pikiran saya adalah kekhawatiran ‘Anak-anak paham nggak ya?’. Selama Kuliah Umum tersebut berlangsung, seringkali saya mengamati ekspresi mereka satu per satu, mencermati gerak-gerik tubuh, hingga sesekali mencolek pundak mereka sambil bertanya, “Paham nggak?”  

Tepat sehari setelah Kuliah Umum usai, kami berdiskusi tentang materi tersebut dengan duduk melingkar di kelas berdinding anyaman bambu sambil lesehan. Rachel, salah satu anak kelas 11 berceletuk, “Tenang, Bu. Aku paham kok.” Sementara Imung merasa sedikit cemas atas respon Pak Toto atas presentasinya. “Tapi aku tetep bisa kuliah psikologi kan, Bu?” Sementara Happy jadi galau luar biasa ketika cita-citanya menjadi kritikus ‘digugat’ oleh Pak Toto dengan pertanyaan, “Jika ingin melakukan kiritik, apa mediamu? Apa keprihatinanmu?”

Saya mencoba menyederhanakan inti Kuliah Umum tersebut dalam penjelasan bahwa apa yang diharapkan Pak Toto untuk anak-anak SMA SALAM sebagai pembelajar tingkat lanjut adalah bahwa RISET mereka bukan lagi sekadar tentang bagaimana menguasai TEKNIS/ ketrampilan, namun juga tentang bagaimana menemukan ISU/ keprihatinan.

Karena harus berselang-seling hari dengan kelas gabungan guna mempersiapkan kemah bersama, diskusi terkait perencanaan riset baru kami lanjutkan di minggu kedua. Pada minggu ini, saya membantu ketujuh anak kelas 11 bersama 3 anak dari kelas 10 untuk merumuskan SUBYEK riset. Subyek riset adalah beberapa hal yang menjadi minat mereka semester ini yang sekiranya akan diangkat sebagai tema riset. Saya kemudian meminta melengkapi subyek tersebut dengan predikat, objek, keterangan hingga menjadi sebuah PERTANYAAN untuk mengawali riset mereka. Dalam diskusi ini, setiap anak berpikir cukup keras untuk memastikan bahwa SUBYEK bukanlah MEDIA. Media adalah ‘hal yang akan ditempuh untuk menjawab pertanyaan’. 

Aduh, sampai di sini saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh dalam narasi. Maafkan saya. Singkat kata, diskusi tentang SUBYEK dan MEDIA yang berlangsung selama 2 hari ini rupanya cukup ampuh dalam memetakan rencana riset mereka semester ini, terutama bagi anak-anak kelas 11 yang dalam pemilihan tema riset sudah makin mengerucut. Saya cukup yakin akan hal itu karena setiap akhir diskusi, setiap anak dapat mempresetasikan dengan cukup jelas, baik mengenai PERTANYAAN yang akan mendasari riset mereka semester ini maupun MEDIA yang dipilih. 

Memasuki tahap penyusunan target capaian hingga penyusunan jadwal riset, kami sudah tak lagi melakukannya dalam kelas diskusi. Masing-masing anak menyusun sendiri agenda risetnya beserta target-target yang ingin mereka capai semester ini. Tepat sehari sebelum presentasi, seluruh anak kelas 11 sepakat untuk menggunakan media presentasi yang sama, yaitu dengan membuat materi presentasi secara manual di atas selembar kertas manila seukuran plano. “Buat semenarik mungkin,”pesan saya.

Mempertajam Kegelisahan

Presentasi hari ini, bagi anak-anak kelas 11, adalah Presentasi Pra-Riset yang paling banyak dihadiri dibanding dua Presentasi Pra-Riset sebelumnya. Dengan urutan tampil berselang-seling dengan kelas 10, anak-anak tampil percaya diri. Jika di semester sebelumnya setiap materi presentasi sudah dengan proses konsultasi dengan saya, tidak kali ini. Saya cukup kagum dengan cara masing-masing anak menggambarkan rencana riset mereka dalam grafik. Namun yang paling mengagumkan, masing-masing anak mampu menemukan ‘kegelisahan’ dan menarasikan dengan begitu lancar. 

Bisa jadi media yang mereka pilih sederhana saja. Seperti Happy misalnya, yang cukup menargetkan dirinya sendiri mampu membuka pra pemesanan untuk menu-menu kuliner nusantara yang akan ia dalami. Namun di balik itu ada kegelisahan kuat yang melatar belakangi pemilihan media. Happy gelisah dengan maraknya penggunaan bungkus makanan plastik sekali pakai yang sering ia jumpai dalam berbagai produk kuliner. Happy juga pernah mengalami sendiri, sakit karena jajan sembarangan. Itu sebabnya dalam riset kali ini, Happy ingin mengemas produk kulinernya dengan bungkus makanan dari besek dan daun serta menghindari penggunaan pengawet dan pewarna sintetis untuk produk kuliner yang akan ia buat. Lebih daripada itu, Happy juga ingin belajar lebih konsisten dan mampu mengatur waktu.

Penyederhanaan media dan penajaman kegelisahan juga ditunjukkan Kenar. Dua semester lampau, Kenar memulai risetnya dengan membuat novel grafis. Kenar berhasil menyelesaikan separuh, atau mungkin sepertiga, dari novel bergenre fantasi tersebut dan belum menuntaskannya. Semester berikutnya Kenar lebih banyak menggambar daripada menulis. Kenar juga gemar membaca kartun di webtoon. Dari cerita-cerita yang ia baca di webtoon, Kenar kerap menjumpai cerita-cerita romantis yang menggambarkan tokoh-tokohnya mendadak menjadi bucin. (Bucin, Pembaca, adalah akronim kekinian dari ‘budak cinta’. Setdah!) Kenar juga menyadari, bahwa isu remaja di era digital ini makin luas spektrumnya. Body shamming, bullying, ketergantungan pada media sosial, kurangnya kepedulian pada keragaman, buruknya komunikasi dengan orang tua, hingga cara pandang yang salah terhadap feminisme mulai menjangkit para remaja. Itu sebabnya semester ini Kenar ingin mencoba mengungkapkan perspektifnya terhadap isu-isu tersebut lewat media komik dan mencoba mengunggah karyanya di situs webtoon.

Inkonsistensi mungkin tampak pada riset Foni. Pada semester 1 tahun lalu, Foni bermimpi untuk membuat sekolah di kampung halamannya, Lumasebu, Kab. Maluku Tenggara Barat. Hari ini, Foni memilih media ‘pengolahan dan pengeringan bahan mentah’. Sungguh sebuah tema riset yang tidak berkesinambungan jika dipandang sekilas. Namun, ijinkan saya yang hampir setiap hari bertemu Foni, untuk berkisah. Setelah bermimpi untuk membuat sekolah di kampung halamannya, tepatnya pada libur Natal akhir tahun lalu, Foni pulang ke kampung halaman untuk pertama kalinya setelah 4 tahun menimba ilmu di Malang dan Yogyakarta. Pada kepulangannya itu, Foni mendapati fakta yang cukup mengejutkan bahwa di desanya banyak sekali sarjana-sarjana yang menganggur. Tidak hanya menganggur, mereka juga kerap menjadi biang onar. Sementara Foni juga melihat banyak sekali potensi alam yang belum tergarap optimal , seperti kelapa dan ikan laut.

Sekembalinya Foni ke Jogja, kami berdiskusi panjang. Pertanyaan Foni membuncah: Apakah masalah-masalah itu bisa selesai dengan menyelenggarakan sekolah? Apakah orang-orang tua di desanya bisa percaya begitu saja dan mengirimkan anak-anaknya bersekolah di sekolah yang akan ia dirikan? Bagaimana dengan tetangga-tetangganya yang sudah bersekolah tinggi di kota besar namun hanya berakhir menjadi pengangguran di desanya sendiri? Subyek keprihatinan Foni lantas bergeser. Bukan lagi tentang ‘bagaimana memasuki dunia anak’, yang merupakan subyek kesukaannya, tapi tentang ‘bagaimana mengatasi masalah pengangguran di desanya’. Itu sebabnya pilihan Foni terhadap media ‘Pengolahan dan pengeringan bahan mentah’ menjadi relevan karena dengan menguasai ketrampilan ini, Foni dapat melanjutkan upaya untuk membuka lapangan pekerjaan baru di kampung halamannya. Dalam peristiwa riset Foni ini, pesan Pak Toto terasa kuat. Ini bukan lagi tentang ‘suka atau tidak suka’ namun tentang bagaimana kegelisahan menjadi awal dalam pencarian pengetahuan.

Lagi-lagi, saya belajar banyak dengan mengambil peran sebagai rekan belajar di SMA SALAM. Bahwa ‘sekolah’ sesungguhnya bisa menjadi sebuah proses dialogis, bukan penjejalan satu arah. Bahwa pengetahuan adalah buah dari keingintahuan. Bahwa kurikulum seharusnya melekat pada masing-masing pembelajar itu sendiri, bukan seragam, berurutan, dan berderet menjadi materi ajar yang baku.

Ah, sudah panjang. Saya sudahi sampai di sini saja ocehan saya tentang kegembiraan hari ini. Kegembiraan yang membuat sebutir ultraflu yang saya tenggak dua minggu lalu tak sia-sia. Semoga apa yang dipresentasikan anak-anak kelas 10-11 SMA SALAM hari ini, tidak hanya sekadar memandu langkah mereka untuk satu semester ke depan, namun juga memandu langkah mereka untuk melampaui kehidupan yang masih terbentang panjang.[]