Hatinya Berbicara

Menit pertama saya menulis artikel ini, saya membayangkan kira-kira, apa sih sebenarnya yang Pak Toto Rahardjo inginkan dari kami? Selama dua hari kami berdiskusi, kemana muaranya? Anak-anak ini, mau dibawa kemana? 

Anak-anak SMA SALAM Yang Presentasi di depan Pak Toto. Foto: Aji Prasetyo
Anak SMA SALAM Berdiskusi

Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi pemandu bagi jalannya proses belajar kami kedepan. Peserta Workshop ini (Siswa kelas IX-XII) adalah anak-anak remaja yang sedang merekah. Tak sepatutnya, jika karena kebodohan atau kesombongan kami, para fasilitator, bunga-bunga yang tengah merekah ini rusak. Secara priadi inilah yang menakutkan, tapi juga menantang saya untuk terus mendampingi proses belajar mereka. 

Dan pagi ini—setelah kemarin kami berdiskusi tentang bagaimana menentukan Riset anak-anak remaja ini berbicara impian, tujuan, proses pencarian dan persoalan yang ingin mereka selesaikan. Mula-mula anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, didampingi oleh fasilitator, mereka kemudian berdiskusi tentang rancangan riset mereka dan menyepakati, siapa yang akan bicara mewakili kelompoknya di depan forum yang lebih besar. 

Saya ikut mendampingi salah satu kelompok kecil. Dalam diskusi kami, banyak hal yang menarik, salah satunya kegelisahan Lutfi, salah satu siswa kelas 3 SMP. Ia bercerita tentang kegelisahannya melakukan riset soal. Menjadi umum terjadi jika anak-anak SALAM memasuki kelas terakhir di jenjangnya, mereka akan melakukan persiapan ujian Kejar Paket jika menginginkan ijazah.  Biasanya mereka melakukan riset soal. Mereka mempelajari soal-soal yang pernah diujikan, untuk mereka pahami, kerjakan dan sangsikan. Saya tanyai dia tentang riset yang akan dia lakukan bersama teman-temannya, kira-kira begini pembicaraan antara Saya (S) dan Lutfi (L):

S : Lut, gimana dengan riset soalmu? 

L : gimana ya mas, sebenarnya mau nolak tapi ya tetep diterima aja. 

S : kok gitu, kenapa menolak? 

L : ya kerena ujian pasti ribet, sulit dan ya gitu lah. 

S : lantas kenapa kamu terima?

L : aku masih pengen dapat ijazah mas. Buat modal berkelana. Saya ingin menemukan bakat saya. 

S : memangnya risetmu yang dulu bukan bakatmu?

L : enggak mas, dulu risetku tentang ikan cupang. awalnya aja seneng, tapi setelah diseriusin, kok saya nggak sreg. Seperti bukan saya. Makanya saya mau ikut ujian, biar dapat ijazah dan bisa meneruskan pencarian bakat di luar.

Anak ini memiliki kesadaran bahwa ia belum menemukan jati dirinya dan berupaya terus mencarinya. Dan ia tahu, bahwa untuk tetap survive, ia harus melakukan hal yang tak ia sukai yakni mengikuti ujian. Di satu titik hal ini juga menunjukkan ketidaksempurnaan/kemanusiaan fasilitator, tak semua bakat terpendam yang dimiliki anak bisa dimunculkan/difasilitasi oleh fasilitator. Anak sendiri itulah yang bisa mengenali bakatnya, melalui pencarian yang tak berkesudahan. Di titik ini, Lutfi mulai menjadi pembelajar yang mandiri. Ia tahu yang cocok dan tidak untuknya, dan ia mau berusaha untuk melampaui ketakutannya. Bibit kemandirian berpikirnya mulai muncul.

Kemandirian berpikir ini pula yang ditekankan oleh Pak Toto ketika mengomentari rencana riset Imung, siswi kelas XI SMA. Imung yang tertarik dengan psikologi perkembangan, ingin meneruskan risetnya tentang Dunia Anak. Pak Toto menyarankan Imung agar tidak jadi follower di dunia psikologi, “Jangan cuma menjadi penghafal teori-teroi psikologi, Kamu harus temukan psikologi versimu sendiri. Tidak apa jika kuliah di psikologi, tapi Imung harus punya modal. Berpikir mandiri itulah modalnya. Bila kita Ibaratkan ilmu psikologi itu rotan dan dunia anak itu hutan. Maka jika kita masuk hutan hanya untuk mencari rotan, Apa kita tidak rugi? Padahal sebenarnya disana kita bisa dapati berbagai macam tanaman dan hewan”. Perkataan Pak Toto ini semacam deklarasi melawan profesionalisme yang berkembang pesat hari ini. Profesionalisme ini, juga menurut Edward Said—salah seorang pengkritik Barat (baca Peran Inteletual)—cukup berbahaya. Sebab prefesionalisme membuat orang menjadi lupa untuk melihat suatu fenomea secara utuh, karena ia membuat kita terbiasa membaca fenomena secara sebagain saja. Dan yang lebih berbahaya lagi, tidak punya keberpijakan pada realitas yang luas.  

Keberpijakan pada realitas yang luas ini, coba dilakukan oleh Fonny, siswi kelas XI SMA dalam risetnya. Remaja Asal Maluku ini mendasarkan risetnya pada pembacaan atas kampung halamannya. Fonny merasa gelisah tentang banyaknya sarjana yang menganggur di kampung halamannya. Mereka bersekolah begitu jauh dan mahal namun tak punya kontribusi apa-apa terhadap tanah kelahirannya. Fonny tidak mau menjadi bagian dari mereka. Untuk itu, Ia akan belajar pengelolaan dan pengeringan bahan mentah sebagai modalnya kembali ke kampung halamannya. Sehingga, Kopra, komoditas utama kampungnya, bisa bernilai jual tinggi. Tidak anjlok di tengkulak. Ia mempunyai impian, suatu saat orang–orang di desanya bisa mengolah sumber daya mereka sendiri. Mereka bisa menjadi mandiri dengan kemampuan mereka sendiri. 

Nilai kemandirian begitu ditekankan dalam workshop ini. Menjadi orang yang mandiri dalam hidup ini membuat kita menjadi tidak cuma pengunyah informasi, tetapi juga produsen informasi. Itulah mengapa, di SALAM, yang utama adalah belajar dari hal yang nyata disekitar kita. Referensi diletakkan belakangan, supaya anak tidak cuma mereproduksi atau mereplika dari apa yang ada di buku dan sumber informasi lainnya tapi melupakan realitas tempat ia berpijak. 

Saya merasa, dua hari ini Pak Toto Rahardjo lebih banyak bicara dengan hatinya ketimbang pikirannya. Dengan pandangan lembut ia melihat ke remaja-remaja ini dan mengatakan “Kebahagiaan saya adalah ketika melihat kalian menjadi orang yang mandiri. Saya tidak tahu apakah saya masih hidup untuk mengetahui ini, sebab ini menunggu waktu yang lama. Kalian jadi apapun itu terserah kalian, Kalian punya usaha kecil-kecilan pun tak apa, tapi yang paling penting adalah kalian mempunyai cara hidup dan berpikir yang mandiri. Itu saja”.  []