Swadisiplin, Bukan Sulap Bukan Sihir

HUKUMAN DAN HADIAH

Kalau kamu tidak mengerjakan PR, keluar dari kelas! Kalau kamu datang terlambat, berdiri di depan kelas! Kalau kamu tidak bawa topi saat upacara, berdiri di barisan menghadap ke timur! Kalau ga nurut, mama masukin kamar mandi Kalau kamu ga bangun pagi, ibu siram pake air dingin! Kalau nakal, papa kurung, ga boleh main di luar!

Diskusi ORTU Taman Anak & Kelompok Bermain

Atau ini:

Kalau kamu naik kelas dengan nilai yang bagus, papa beliin sepeda baru!

Kalau kamu jadi  anak manis, bunda tambahin uang jajannya!

Kalau bisa rangking 1, bapak beliin Tamiya!

Dan masih banyak lagi “kalau kamu”  sebagai bentuk hukuman dan hadiah yang lain.

Terkenang juga dengan kata-kata di atas? Pernah mengalaminya? Pernah merasakan penderitaan batin karena dipermalukan di depan kelas? Saya pernah mengalaminya, dan sayangnya terkadang  saya masih melakukan kata-kata semacam pernyataan hukuman di atas terhadap anak saya sendiri, yang kemudian saya sesali.

Kata-kata yang diucapkan tanpa berpikir dengan jernih tersebut, sedikit banyak tentu melukai perasaan anak saya. Dan betapa kata-kata seperti itu sangat mudah meluncur saat kita sebagai orangtua berada dalam situasi yang tegang, lelah, karena terlalu banyak beban sehari-hari. Sementara kata-kata yang menjanjikan hadiah jika anak berperilaku baik, sama juga tidak membentuk karakter anak dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh pada diri sendiri ketika dewasa. Seperti itu pula pernyataan dari beberapa orangtua lain yang hadir pada saat kegiatan parenting Jumat, 21 September 2018 yang lalu. Parenting yang diselenggarakan atas kerjasama orangtua kelas TA dan KB SALAM ini memilih tema: MEMBANGUN KESEPAKATAN BERSAMA, dengan narasumber Mbak Tyas (Karunianingtyas Rejeki), yang juga merupakan fasilitator kelas 4 di SALAM.

Telah saya singgung di atas, bahwa hukuman dan hadiah kerap kali menjadi senjata andalan dalam membentuk perilaku anak-anak untuk menjadi disiplin. Disiplin seperti apa yang dihasilkan dari metode reward dan punishment yang begitu banyak diidolakan para psikolog, orangtua dan praktisi pendidikan sejak dahulu kala? Kesadaran akan hal ini yang coba disampaikan Mbak Tyas dalam pengantar materi parenting tersebut. Pemberian hukuman dan hadiah adalah cara-cara yang ditempuh dalam penerapan disiplin konvensional.

Bertempat di Ruang Bagong (lantai 2 di atas perpustakaan ), acara yang dihadiri sekitar 20 orangtua KB dan TA SALAM ini dimulai pada pukul 9.25, berlangsung dalam suasana akrab dan santai. Mbak Tyas memberi kesempatan terlebih dahulu kepada orangtua untuk memperkenalkan diri dan beberapa orangtua menceritakan pengalaman seputar membangun kesepakatan sebagai gambaran awal sebelum materi inti diberikan.

Tyas memandu diskusi

Apakah sebetulnya kesepakatan itu?

Seperti yang diceritakan Mbak Tini (mama Sofi TA), beliau pernah menjadi guru dan punya pengalaman buruk saat mencoba membuat kesepakatan di sekolah bersama anak-anak di kelasnya. Kesepakatannya yaitu berdiri di depan kelas. Menurut Mbak Tini hukuman tersebut memang diberikan tapi semua anak sudah setuju kok dan saat pelaksanaan tidak ada yang protes, semua anak terlihat biasa saja. Namun keesokan harinya, Mbak Tini ditegur oleh kepala sekolah dan mendapat protes dari para orangtua murid. Mbak Tini pun menanyakan hal ini kepada Mbak Tyas, benarkah sikap sedemikian ini? Sekalipun salah, Mbak Tini sebetulnya berharap kepala sekolah bisa menghargai upayanya saat membuat kesepakatan bersama anak.

Mbak Tyas menjawab dengan cukup santai dan mempersilakan orangtua lain terlebih dahulu menanggapi. Mbak Tyas mengajak kami kembali pada slide powerpoint yang ditampilkan di layar, yaitu perbedaan hukuman dan konsekuensi, serta syarat konsekuensi, untuk menemukan jawaban bersama atas pertanyaan Mbak Tini. Mari kita simak:

Perbedaan hukuman dan konsekuensi

Hukuman Konsekuensi
Menimbulkan ketakutan Membuat anak punya kemandirian
Menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan
Ketergantungan pada si penghukum
Tidak punya control terhadap diri sendiri

Syarat Konsekuensi:

  • Berhubungan dengan kesalahan
  • Masuk akal
  • Memberikan pengalaman belajar
  • Menjaga harga diri anak

Setelah mengamati dan berdiskusi diiringi tawa renyah, kami pun menyadari bersama bahwa pilihan berdiri di depan kelas ternyata memang masih merupakan hukuman, karena tidak memenuhi syarat-syarat sebuah konsekuensi yang baik.

Dari diskusi santai ini, kami juga diajak kembali ke masa lalu saat masih berlakunya helm ciduk (karena bentuknya seperti ciduk dalam bahasa Jawa yang berarti gayung). Bukan ujug-ujug kami bicara tentang helm ciduk ini. Sebelumnya Mbak Tyas bertanya,”Bapak Ibu kalau pakai helm di mana? Apakah saat di jalan raya saja, atau di gang-gang kecil juga?” Kami pun saling menimpali. Kemudian Mbak Tini menceritakan lagi kisah masa lalunya. Mbak Tini di zaman helm ciduk tersebut, memperoleh kesadaran tinggi untuk selalu menjaga keselamatan saat berkendara, khususnya saat bersama anak-anaknya, karena pengalaman lagi yang mengHAJAR sekaligus mengajarkannya, yaitu saat beliau mendapat kecelakaan dan harus mendapat jahitan di kepala. “Pemberian hukuman menyebabkan ketergantungan pada si penghukum. Mestinya helm dipakai kapanpun dan di manapun berkendara, karena tujuannya untuk safety, bukan karena takut pada polisi”. Begitulah cara Mbak Tyas berbicara mengenai efek buruk pemberian hukuman.

Suasana semakin riuh dan penuh tawa, manakala Mbak Tyas melempar lagi sebuah studi kasus, “Bagaimana bila, seorang anak menumpahkan susu cokelat ke atas sofa kain, sofanya baru (agar lebih dramatis situasinya)? Apa hukumannya? Apa konsekuensinya? Mari kita bandingkan.”

Dari berbagai obrolan, saya mencatat beberapa hal berikut:

Hukuman bentuknya biasa dengan cara diomelin, berbagai bentuk kekerasan fisik, dan hukuman kurung. Sedangkan konsekuensi, bentuknya bisa membersihkan kotoran bersama sebisanya (usul dan kisah nyata dari Mbak Dini, mama Ryyan TA), lalu karena tidak bisa terlalu bersih, maka perlu dibawa ke laundry khusus sofa. Uang yang digunakan untuk biaya laundry memakai uang tabungan anak, sehingga anak bisa belajar bertanggung jawab juga. Semua orangtua juga sepakat bahwa ini adalah bentuk konsekuensi karena masuk 4 syarat di atas tadi. Dengan ini pun kami semakin memahami perbedaan hukuman dan konsekuensi.

HADIAH vs DUKUNGAN

Saya paling suka kata-kata ini ,” Dukungan merupakan bentuk cinta tanpa syarat.” Kita bisa memberikan dukungan kepada anak-anak dengan cara memberi pujian yang spesifik. Mbak Tyas memberi contoh saat beliau memberikan dukungan pada salah satu siswa di kelasnya yang punya kebiasaan makan siang dalam waktu lama. Mbak Tyas memuji dengan kata-kata,”Hari ini kamu berhasil makan sampai habis lho, besok dicoba makan lebih cepat yuk.” Jadi bukan sekadar dengan kata,”Keren…hebat..” yang terkesan berlebihan dan anak belum tentu menangkap makna pujian tersebut.

Sebuah pujian yang kita lontarkan pada anak pun bisa menghasilkan reaksi yang berbeda-beda tergantung kepribadian si anak juga. Misalnya saat Mbak Tyas terheran-heran saat mengetahui anak di kelasnya ngeroki Kang Waryo (salah satu karyawan di SALAM). Bagi Mbak Tyas, hal itu sangat mengejutkan, namun bagi si anak ternyata hal itu biasa dilakukannya di rumah. Mbak Tyas saat itu tidak memberikan pujian berlebihan, hanya mengucapkan terima kasih sewajarnya karena si anak sudah mau membantu orang lain.

Bagimana kita bisa membedakan hadiah dengan dukungan?

Hadiah Dukungan
Dijanjikan sebelum perilaku terbentuk Diberikan secara spontan
Fokus pada factor dari luar Menumbuhkan motivasi internal
Label global/umum Pujian spesifik, anak dapat umpan balik
Jumlah atau reaksinya ditentukan orangtua Sesuai antusiasme anak
Diberikan saat sukses Diberikan saat dibutuhkan

Hadiah menumbuhkan motivasi eksternal, menumbuhkan anak yang tergantung pada hadiah. Dukungan menumbuhkan motivasi internal dan bisa mandiri menghadapi berbagai situasi.

Memahami tahap perkembangan anak akan membantu kita memiliki ekspektasi yang realistis.” Setiap anak itu unik, satu dengan yang lain tidak bisa dibanding-bandingkan proses perkembangannya. Orangtua dan guru lah yang harus lebih paham dan realistis. Pernyataan cemerlang ini menjadi penyataan kesimpulan awal sebelum masuk ke materi inti.

SWADISIPLIN

Kesepakatan bersama adalah salah satu alat paling mendasar untuk mulai menumbuhkan swadisiplin dalam keluarga. Swadisiplin dalam referensi lain sering disebut sebagai disiplin positif. Namun di SALAM, seperti yang dijelaskan Mbak Tyas dari hasil diskusi bersama Bu Wahya sebelumnya, penggunaan kata swadisiplin lebih tepat untuk menggambarkan nilai yang ingin dibangun di SALAM, karena swadisiplin berarti disiplin yang tumbuh dari diri sendiri. Tanpa hukuman dan hadiah, perilaku anak bisa dibentuk, namun prosesnya berbeda-beda dan perlu kesabaran dari orangtua. SABAR, itu menjadi kuncinya.

Semua perlu belajar bagimana membuat kesepakatan bersama, dan berikut adalah panduannya:

  1. Melibatkan seluruh anggota keluarga
  2. Penting untuk semuanya
  3. Isinya sedikit
  4. Menyatakan dengan jelas nilai yang ada dalam keluarga
  5. Dinyatakan dengan positif
  6. Menjelaskan konsekuensi
  7. Dibuat tertulis
  8. Evaluasi berkala

Bagaimana jika saya sudah terlanjur membangun kesepakatan / konsekuensi yang salah?

Pertanyaan tersebut dilontarkan Mbak Dini. Mbak Dini mempunyai kesepakatan dengan putranya, dengan menjanjikan hadiah uang tabungan setelah si anak mau ikut Jumatan. Mbak Dini sadar hal itu memang kesalahannya, tapi bagaimana caranya agar hal itu dapat diperbaiki? Pertanyaan lain yang juga sangat berhubungan dengan pengalaman orangtua yang lain yaitu,”Kapan orangtua boleh intervensi ke dalam proses anak. Misalnya saat bermain bersama temannya, mereka berebut?’

Pada kasus Mbak Dini, kesepakatan uang tambahan bisa dievaluasi kembali lalu diubah ke bentuk lain yang lebih baik, tentunya akan berat di awal, mungkin si anak tidak mau Jumatan, namun relakah orangtua bersabar berproses? Jika sudah terlanjur membangun kesepakatan yang salah, ya sudah direlakan saja, berikutnya tugas orangtua lah untuk mencari yang lebih baik. Dan mengenai intervensi terhadap anak, bisa dilakukan apabila pada saat itu membahayakan. JIka tidak bahaya, contohnya jika anak sedang makan, karena tertarik dengan yang dilakukan temannya, kemudian berjalan keluar dan meninggalkan makannya, atau main tidak mau gantian, orangtua dapat membicarakan bersama anak setelah proses selesai.

Bagimana mengolah kesalahan menjadi proses belajar?

Contoh kasus: kakak adik rebutan buku, lalu bukunya sobek.

Pada kasus tersebut, orangtua bisa mendorong anak untuk melakukan UPAYA PERBAIKAN buku terlebih dahulu, bukan langsung memarahinya. Kemudian anak diajak untuk mengevaluasi kesalahannya dan BERJANJI TIDAK MENGULANGI. Berikutnya, yang ketiga adalah ajak anak MEMINTA MAAF. Minta maaf dilakukan di urutan ketiga, karena biasanya pada saat peristiwa terjadi kedua belah pihak dalam kondisi yang tegang dan belum siap untuk memaafkan atau meminta maaf. Dengan demikian, kesalahan yang terjadi dapat dijadikan bahan pelajaran. Apabila peristiwa yang sama terulang kembali di masa mendatang, anak-anak dapat belajar, apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi atau apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi lagi.

Bagaimana kalau tiba-tiba orangtua marah-marah (muntab kalau bahasa Jawa), wajarkah? Bagaimana cara untuk ngereh-reh anak yang sudah terlanjur diomelin?

 Ada pertanyaan yang sangat menarik dari Mbak Pradit (mama Dira KB). Lalu kami masuk ke dalam diskusi yang asyik. Mbak Ivy (mama Didy TA dan Arsa kelas 9 SALAM) pun mengingatkan kami semua bahwa anak-anak juga perlu tahu saat orangtuanya marah, karena juga untuk mengajak anak bisa menghargai perasaan orang lain. Ketika orangtua marah, sebetulnya sedang melampiaskan kemarahan kepada anak karena sedang punya permasalahan sendiri atau masalah lainnya? Marah itu boleh tapi sewajarnya. Setelah orangtua sampai pada kesadaran atau lebih stabil emosinya, maka segera bertanya pada diri sendiri,”apakah kemarahanku ada manfaatnya?” Setelah itu ambil jeda waktu, bebaskan segala emosi negatif agar anak tidak menjadi korban. Masing-masing orang punya cara andalan untuk melepaskan pikiran yang membebani tersbut, kata Mbak Tyas.

Mbak Ivy juga berbagi cerita tentang pengalamannya sebagai orangtua dengan dua anak di rumah (masalah kakak-adik). Berdasarkan saran dari psikolognya dalam mendampingi perkembangan Arsa, putranya yang juga merupakan seorang anak dengan special needs (autistic). “Individu autistic harus belajar menghargai setiap makanan yang diberikan orangtuanya, tidak selalu makan apa yang disukai dan harus dituruti. Arsa dan Didy juga saya beri pengertian di rumah, agar keduanya bisa menghargai milik masing-masing, harus meminta izin jika ingin mengambil milik adik atau kakaknya.”

Mbak Ivy juga mengungkapkan, pada awalnya beliau selalu mengambil mainan yang jadi rebutan Arsa dan Didy. Namun setelah belajar, Mbak Ivy punya pemahaman yang lain tentang anak-anaknya. Mbak Ivy menyadari bahwa Arsa hanya sedang perlu melampiaskan kemarahannya, bukan bermaksud mengambil mainan Didy/ mengganggu adiknya tersebut. Maka kemudian Mbak Ivy mendekati sang kakak agar tidak mendekati adik. Adiknya juga diberi tahu untuk menjauhkan diri dari mainannya sejenak, tidak memegang atau bahkan menyulut kemarahan kakaknya. Didy pun sudah bisa beraksi dengan mengatakan, “Tunggu…aku belum selesai dengan mainanku,” dan hal ini menjadi reaksi yang lebih efektif daripada yang dilakukan orangtuanya. Mbak Ivy juga membuat semacam teritori khusus bagi kedua anaknya untuk menjaga privasi masing-masing.

Bagaimana jika ortu dan anak sudah membuat kesepakatan, namun terhalang oleh pihak-pihak lain yang tidak ikut bersepakat?

Pertanyaan di atas saya ajukan karena hal ini yang sering juga saya hadapi di rumah, ketika anak saya berada dalam situasi keluarga yang lain seperti simbah atau eyangnya. Mbak Tyas dan orangtua yang lain mengatakan bahwa penting juga untuk menyampaikan apa yang sudah kita sepakati sebelumnya. Saya sebagai orangtua bisa menyampaikan kepada simbah dan menjelaskan karakter yang ingin dibangun dari kesepakatan bersama anak. Misalnya kesepakatan makan sendiri. Hal ini untuk mendukung kemandirian si anak. Namun jika terjadi lagi, simbahnya bisa diingatkan kembali agar tidak menyuapi dan mengikuti si anak ke mana-mana. “Jangan lelah untuk mengingatkan dan membuka pintu diskusi.”  Dan lagi, ada yang menyatakan, bahwa seorang kakek atau nenek punya kasih sayang yang lebih untuk cucunya. Kami-kami yang hadir belum ada yang jadi nenek kakek, mungkin suatu hari nanti kami akan sadar pernyataan tersebut memang benar. Dan kami pun tertawa bersama.

Di penutup acara, Mbak Tyas mengatakan bahwa kesepakatan yang dibuat bersama itu bukanlah semacam”obat mujarab untuk segala jenis penyakit.” Kesepakatan bisa direvisi dan diganti jika memang tidak efektif. Tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan selalu baik-baik saja, namun SWADISIPLIN yang prosesnya mungkin lebih lama, pada akhirnya juga akan bertahan lebih lama sampai anak-anak dewasa.

Swadisiplin memang bukan sulap dan bukan sihir. Tidak bisa dibentuk jika orangtua hanya mengeluh dan nyinyir Dari anugerah Tuhan, setiap anak lahir. Sudah layak dan sepantasnyalah orangtua mendidik sampai akhir. Belajar membuat kesepakatan bersama mengolah pikir. Jangan sampai perkembangan budi terpinggir. Cinta tanpa syarat teruslah bergulir. Kisah manis kehidupan kan terukir []