Pengalaman duka sekolah di tempat lain

“Aku datang telat aja ya, Bu! Aku ga mau baris dan nyanyi-nyanyi. Aku mau langsung masuk kelas saja.” “Kenapa sih guru-gurunya suka maksa, aku kan udah bilang ga mau ikut senam? Emang senam itu buat apa?” “Aku ga mau pakai seragam warna putih, nanti kalo aku main jadi gampang kotor.” “Kenapa sih sekolahnya lama? Liburnya kapan?” “Aku bosan, Bu. Boleh aku belajarnya di rumah saja sama ibu, lebih seru.”

Kenapa belajar disiplin harus dengan cara yang menakutkan

Pada hari kelima, tepat seminggu pertama Vadin bersekolah, sudah ada begitu banyak rentetan pertanyaan yang panjang yang keluar dari mulut Vadin. Saya masih menganggap itu sebuah kewajaran, sebagai bagian dari rasa penasarannya, dan saya jawab juga semampunya.

Rupanya ada banyak kejutan ketika Vadin mencoba nyemplung di sekolah formal. Bener-bener anaknya mogok sekolah pada minggu ketiga di sekolah barunya lalu meminta pindah. Orang tua mengalami putus asa karena sudah hampir empat belas sekolah dijajal, namun tidak menemukan apapun di dalamnya yang membuat kita jatuh cinta dan ingin berlama-lama. Lalu muncul berbagai peristiwa yang akhirnya melahirkan pertanyaan: Adakah yang pernah merasa sakit hati karena hasil lebih dihargai daripada proses? Adakah yang pernah mengalami disambut dengan pandangan meremehkan ketika kita hendak bertanya-tanya di sebuah sekolah hanya karena kita berasal dari kalangan yang berbeda? Apakah ada yang pernah ikut terluka karena anak kita dipaksa melakukan sesuatu hal, sementara dia jelas tidak suka, dan hampir menangis karenanya? Piye sikapmu  sebagai orangtua ketika melihat anak kita membawa mainan ke sekolah kemudian ada guru yang tanpa permisi mengambil mainan anakmu dan membawanya ke ruang guru karena ternyata membawa mainan tidak diijinkan, sementara anakmu meraung-raung sakit hati karena si guru tidak meminta ijin kepadanya sebelum meminta bahkan tidak meminta maaf? Kami mengalami itu semua dalam perjalanan kami mencari sekolah untuk Vadin. Saya merasa terluka  ketika berproses mendampingi Vadin. Saya hampir tidak bisa lagi berkata-kata betapa semua sekolah yang saya temui itu rata-rata hanya mementingkan keunggulan di bidang yang mereka anggap penting. Hampir sama sekolah yang saya temui rata-rata memuja kompetisi, menghamba peraturan yang yang dilatarbelakangi oleh pandangan disiplin saklek—tapi tidak konsisten disiplin menjaga, menghormati interaksi, relasi setiap orang di dalamnya, sehingga tidak membiarkan bullying beranak-pinak serta tidak menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Sesungguhnya seberapa mampu sekolah semacam itu menjaring siswa untuk dipertandingkan segala hal di dalamnya?

Masihkah ada setitik harapan di sini, di kota tempat saya lahir dan tumbuh?

Dulu, sebelum saya mendaftarkan vadin di sekolah ini, saya melihat bahwa sekolah tersebut memiliki visi-misi jelas dalam hal mengedepankan kebutuhan pribadi masing-masing anak, memandang bahwa semua anak pada dasarnya istimewa, inklusi, dan tentunya tidak ngotot dan ngebut dalam urusan pencapaian akademik. Semua disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak. Sekolahan ini juga mementingkan pendidikan karakter anak daripada urusan akademis semata. Sekolah ini memang kesannya “lambat” apabila dibandingkan dengan sekolah swasta lainnya yang jargon-jargonnya nge-hits di kalangan para orangtua. Saya lihat juga semua guru terlihat sabar, peduli dan sayang dengan semua muridnya, jadi saya boleh berlega hati. Tiap hari saya menunggui Vadin di balik pagar, di sebuah kursi yang memang disediakan untuk penunggu-lebih tepatnya kursi khusus untuk penjemput. Selama vadin bersekolah dan berkegiatan, saya mengamati dan membuat catatan-catatan kecil. Saya sibuk mencari. Mencari sebuah harapan.

Dua minggu yang telah kami lalui, saya sudah berjanji dalam hati untuk tidak  ikut campur dalam setiap hal yang Vadin putuskan nantinya, untuk setiap hal yang Vadin rasakan terhadap sekolah barunya. Bahkan saya sudah menahan diri untuk tidak terlalu komplain dan memberikan penilaian. Karena pastilah apa yang akan saya kemukakan itu bisa jadi tidak obyektif. Dalam hati saya sudah tidak tahan untuk berkomentar, sekolahnya kok ngebosenin banget ya? Kelasnya kok monoton banget ya. Ini pengelolaan kelasnya bagaimana sih? Ga bisa ya gurunya lebih kreatif lagi? Ini dan itu dan anu. Rupanya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan slogan yang didengungkan, ada hal-hal yang menurut saya kurang pas dalam penerapannya. Menurut pribadi saya, metode dan visi yang bagus tersebut tidak berjalan seimbang dengan praktiknya di lapangan. Perjalanan dua minggu ini membuka banyak mata saya. Saya merasa kecewa. Tapi lagi-lagi saya tidak ingin memberi Vadin pengaruh atas cara berpikir saya. Saya ingin Vadin mengalami, merasakan sendiri, berpendapat sendiri. Mungkin saja, apa yang saya rasakan tidak Vadin rasakan. Atau mungkin sebetulnya Vadin baik-baik saja dengan semua keadaan itu, sebagaimana teman-temannya yang lain. Mungkin saya saja yang terlampau idealis dan masih gagal move on dari SALAM. Ya, saya masih sibuk mencari alasan untuk menemukan setitik harapan.

anak-anak belajar dengan happy

Ketika Vadin membaur dengan teman-temannya yang lain, vadin memang tampak berbeda. Terlihat yang paling bebal, terlihat yang paling tidak mengikuti aturan, dan membuat para guru kelimpungan. Vadin tampak asyik dengan dunianya sendiri. Tapi untuk anak seusianya dia cukup kritis, dia selalu mempunyai alasan atau jawaban atas sikap dan perilakunya ketika gurunya bertanya, meski memang saya juga tidak memungkiri bagaimanapun dia adalah anak berusia lima tahun yang manjanya dan tengilnya kerap muncul. Sesekali dia mampir mendekati saya dari balik pagar ketika jam istirahat. Saya minta dia untuk bermain dan membaur dengan teman-temannya. Dia menggeleng. Dia hanya duduk sambil menyandarkan kepalanya di sebuah pilar kayu penyangga, lalu dia bilang, “Aku ingin duduk di sini saja, ngobrol sama ibu.”

Di akhir minggu kedua vadin mulai memperlihatkan keengganannya untuk mengikuti kegiatan di dalam kelas. Sekolah pun sudah tampak ogah-ogahan. Diiming-imingi dengan ini itu juga tetap tidak bersemangat. Bersemangat ketika sekolah libur. Sudah beberapa kali vadin membolos atau pulang sebelum jam belajar selesai.  Buat saya, ini adalah sebuah petunjuk. Petunjuk bahwa Vadin tidak nyaman dengan sekolah barunya.  Di minggu ketiga vadin sudah enggan bersekolah. Bahkan dia sudah bisa berpendapat bahwa sekolah membuatnya bosan dan tidak menarik. Dia lebih memilih berkegiatan dengan saya, ibunya di rumah saja. Ya, Vadin tidak gembira di sekolah barunya.

Pada minggu ketiga, dimulailah petualangan kami mencari sekolah lagi. Vadin ingin pindah. Cara berpikirnya membuat saya paham, bahwa sekolah yang sekarang ini tidak mampu menjawab dan memuaskan hasrat rasa ingin tahunya, juga kurang bisa mengakomodasi keaktifannya sebagai seorang bocah berusia lima tahun. Kurang menantang. Kami mulai masuk dan menjajal satu demi satu sekolah yang ada di kota kami ini. Dari sekolah yang favorit, sekolah swasta, sekolah negeri, bahkan sampai sekolah yang biayanya bisa bikin kita renang di dalam cendol, kami telah mendatangi empat belas sekolah. Hampir semua sudah kami jajal, tidak semua memang, ada tiga sekolah yang hanya berakhir di meja informasi karena kami tidak melihat ada hal yang menarik dan berbeda di dalamnya, atau karena sekolah tersebut tidak menerima masa trial.

Ketika  ada yang bertanya, “Apa dulu engga nyobain dulu tho?

Saya nyengir. Sudah. Sudah kami coba. Meski memang tidak sebanyak sekarang. Kami mendapatkan banyak pelajaran selama proses mencari. Sekolah formal, apapun sebutannya adalah sebuah institusi yang berjalan seirama, dimana-mana kemasannya serupa. Akan selalu ada acara baris berbaris sebelum masuk ke dalam kelas, bermain dengan teman-teman ketika jam istirahat dimulai, dan selalu akan ada aturan yang membuat muridnya seragam dalam berperilaku, bertutur, berbusana, dan bisa jadi berpikir juga. Mungkin, sekolah formal yang sempurna dalam pandangan kami itu memang hanya ada di dalam angan-angan.

Saya sendiri kemudian bertanya-tanya, adakah sekolah formal yang tetap menyenangkan? Adakah sekolah formal yang mengisi murid-muridnya dengan perasaan gembira sehingga penghuni di dalamnya merasa betah dan nyaman untuk tinggal berlama-lama? Dan sebetulnya, seberapa pentingnya kah sekolah itu untuk anak usia dini?

Saya acapkali melihat ada orangtua yang memaksa anaknya yang berusia 2 tahun pergi ke sekolah. Saya masih maklum apabila memang kedua orangtua bekerja, tidak ada sanak saudara lain yang bisa membantu untuk menjaga, dan karena alasan lain yang memang mengharuskan kedua orangtua bekerja, atau karena alasan yang memang tidak ada pilihan terbaik lainnya selain “menitipkan” anaknya kepada pihak lain. Sayangnya, saya cukup sering melihat anak-anak usia 2 tahun sudah dicemplungkan ke dalam sebuah institusi bernama sekolah karena orangtua ingin bisa memiliki waktu untuk dirinya sendiri dan tidak mau direpotkan oleh anaknya. Dengan dalih agar anak mandiri, agar anak engga mbok-mbok en. Ada juga anak yang usia 3 tahun disekolahkan, nangis kejer ditinggal sang Ibu, karena ibunya akan pergi senam dengan temannya.

Ketika saya bermaksud mengingatkan, dengan santai ibu itu menjawab, “Ga apa-apa Mba, sudah biasa begitu, nanti juga diam sendiri kalau sudah sama bu guru, justru kalau lihat saya memang begitu, jadi manja. Biar dia mandiri.” “Ini sih si Ibu yang ingin ‘mandiri’ bukan anaknya,” batin saya.

Banyak anak-anak yang dipaksa untuk bersekolah di usia yang menurut saya masih terlampau dini. Dipaksa berpisah dengan Ibunya, dan tidak sedikit para Ibu yang akhirnya tega karena katanya itu demi kepentingan dan kebaikan si anak juga nantinya. Benarkah demikian?

Mata saya mulai nanar. Pilu. Ngilu mendengar suara anak yang menangis kejer mencari ibunya. Anak itu memang kemudian menjadi mandiri setelah beberapa hari “dipaksa” berpisah dengan ibunya. Namun, hati saya kemudian terusik, adakah trauma yang akan dialami oleh anak tersebut nantinya? Di kemudian hari, ketika dia beranjak besar nanti? Atau malah memang akan baik-baik saja, saya saja yang terlalu khawatir dan nyinyir.

Ibarat menjaring angin. Saya tahu jawabannya tidak akan jatuh begitu saja turun dari langit. Bertemu dengan berbagai jenis sekolah saat melakukan pencarian sekolah untuk Vadin membuat saya merenung, inikah rupa pendidikan yang harus kami jalani, yang harus dihadapi oleh jutaan anak di negri ini? Apa yang sebaiknya kami putuskan? Vadin tetap bersekolahkah? Ada beberapa pilihan yang bisa kami ambil. Homeschooling, mencari sekolah non formal, atau tetap sekolah formal. Dan kami tahu, bahwa masing-masing pilihan ada konsekuensi, ada tanggung jawab, dan ada baik buruknya.

Kami perlu waktu untuk berpikir. Lebih lama. Mungkin sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Kami hanya ingin Vadin bahagia nantinya dalam proses belajarnya. Vadin bersekolah untuk belajar berteman. Vadin bersekolah untuk menemukan  tempat bermainnya.

Apakah ini akan menjadi perjalanan yang mudah nantinya? Saya kembali meragu. []

……… bersambung