Think Out of the Door

Jendela artinya lubang yang dapat diberi tutup dan berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara; tingkap; 2 lubang angin.,” begitulah KBBI berkata. Mosok ya? sepertinya harus direvisi itu. Buktinya di sekolah anakku, aku masuk ke dalam kelas lewat jendela. Lalu aku membayar uang SPP anakku di kantor administrasi jalan masuknya juga lewat jendela tuh?

Jendela apa pintu?

“Ini aneh!!! Mengapa di sekolah anakku boleh masuk keluar lewat jendela. Aku harus cari tahu,” itulah pendapatku saat pertama kali memasukkan anakku ke sekolah alam ini.

Saat aku ngantre di ruang administrasi sekolah, aku mengamati ekspresi wajah orang-orang yang hendak masuk. “Ahhh ternyata bukan aku saja yang bingung, mereka juga,” hahaha aku tertawa dalam hati. Lalu mereka juga tampak kikuk saat diperbolehkan masuk lewat jendela.

Saat aku mengajak anakku untuk mencoba ikut kegiatan di kelas Kelompok Bermain, ibu fasilitator mempersilakanku masuk. “Haaa lagi-lagi boleh lewat jendela ini?” batinku bertanya. Ini jendela apa sih?

Kuamati jendela-jendela di ruangan-ruangan sekolah ini. Tidak ada yang istimewa, hanyalah jendela berukuran besar dan panjang (tinggi), yang cukup untuk dilewati manusia, kecil hingga dewasa. Ya kalau yang lewat macam Hulk atau transformer sih belum cukup😁

Iseng aku bertanya kepada karyawan administrasi di sekolah itu.”Mbak, gimana rasanya keluar masuk lewat jendela? Dan pasti sering kali melihat orang-orang kikuk jika melewatinya kan?”

Si mbak admin menjawab,” Ini karena kesepakatan aja. Bahwa untuk memudahkan akses administrasi, maka meja saya ditempatkan begitu, dan jendela besar, disepakati sebagai pintu keluar masuk kalo mau ke ruang admin. Saya mendapat hiburan loh melihat ekspresi orang-orang yang bingung entah kaget atau takjub atau ga setujuh😆

Weladalah😆

Lalu aku bertanya lagi kepada anak-anak yang sedang bermain di sekitar, untuk meyakinkanku bahwa keluar masuk memang boleh lewat jendela. “Dek, kalau mau masuk ke kantor itu, lewatnya mana?”

“Lha lewat situ aja, Bu,” kata si anak sambil menunjuk jendela. “Ohhh ga papa Dek?” ulangku kemudian. “Iya ga papa kok, memang lewat situ,” aku percaya anak ini. Dia spontan dan meyakinkan.

Hmmm, aku berpikir. Sejak aku mendapatkan pengetahuan pertama sampai sebesar ini di masa aku harus menularkan pengetahuan yg kupunyai kepada anakku sendiri, aku meyakini bahwa yang digunakan orang untuk keluar masuk itu pintu, bukanlah jendela.

Aku belum puas. Aku harus cari tahu lagi, kepada pengelola atau penggagas sekolah ini. “Pak, filosofinya apa ya sehingga di sekolah ini tidak menabukan keluar masuk ruangan lewat jendela.”

“Menurut ibu sendiri bagaimana?” Waduhhh kok aku balik ditanya ya.

“Menurut saya, Pak, kalau memang bisa dilewati dan tidak ada yang keberatan ya berarti boleh pak. Pasalnya dari kecil, saya dimarahi orang tua jika keluar masuk lewat jendela, hehehe,” kata saya jujur.

Si bapak pun berkata,”Kalau KB memang dirancang agar jendela juga bisa jadi pintu, sebetulnya hal seperti itu tidak perlu dikawatirkan, kelak ketika mereka dewasa tentu dengan sendirinya malu melangkah melalui jendela.”

“Ohhh begitu, Pak. Saya kira ada maksud khusus dengan hal itu.”

“Maksud khususnya ya seperti ekspresi orang-orang itu😁,” kata si bapak lagi.

“Duh…bapak ini lucu,” kataku dalam hati.

“Kalau saya secara pribadi, sih Pak, jendela di sekolah ini bisa untuk keluar masuk, agaknya supaya kita bisa open mind, think out of the door, kali ya Pak?” selorohku kemudian mengakhiri perbincangan santai siang itu.

Buka mata, buka jendela: jendela pikiranmu sendiri, karena setiap tempat punya keunikannya, filosofinya, peraturannya dan kesepakatannya.

Aku sadar, di sekolah biasa saja, yang berdiri di tengah sawah ini, jendela punya makna terdalamnya: mengajak orang-orang untuk berpikiran terbuka.

Dan aku pun menggandeng tangan mungil anakku, meniti sawah, berjalan pulang, menuju rumah. Aku berharap di sekolah ini, kami semua bisa terus belajar, memahami perbedaan, berpikiran terbuka, di negeri yang di dalamnya penuh warna serba aneka, Indonesia.