ILMU TIDAK MELULU YANG TERDAHULU

Belajar selalu ada dalam kehidupan kita, begitu pula dengan prosesnya. Oleh karenanya belajar tidak melulu hanya didapat melalui bangku sekolah maupun guru atau orang yang dianggap sudah lebih tahu segalanya.

Febe (baju ungu) menjelaskan proses membuat confetti.

Proses belajar dapat berjalan ketika ada interaksi antara yang diajar dan yang mengajar, tak lupa dengan timbal balik dari keduanya berupa hasil dari belajar. Menjadi fasilitator di SALAM justru bukan menjadi yang maha tahu, karena kami yakin ilmu bisa datang dari siapa saja dan tentunya semuanya dapat memberi pengetahuan. Begitu pula dengan anak-anak. Tiba suatu hari, Febe warga belajar kelas 4 SALAM meminta ijin pada fasilitator untuk berbgai pengethauan mengenai cara membuat confetti yang biasa digunakan pada acara-acara tertentu seperti saat ulang tahun atau peryaaan lainnya. Kami lihat Febe memiliki antusiasme yang cukup tinggi untuk berbagi bersama teman-temannya, begitu pula dengan seluruh temannya ketika tahu bahwa Febe akan berbagi ilmu pada mereka.

“Senang rasanya bisa berbagi pengetahuan baru dengan teman-teman. Ini juga bisa jadi mainan baru untuk kita. Asyik bisa jadi fasilitator untuk teman, cukup deg-degan juga tadi awalnya.”, Febe (9/10).

Tepat pada hari Selasa (9/10) saat jam kedua, Febe memipin kelas dan menjadi fasilitator bagi teman-teman dan fasilitator di kelasnya. Uniknya saat itu seluruh temannya langsung serius memperhatikan Febe saat menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat confetti yang terdiri dari tempat bola badminton bekas, kertas warna, dan gunting. Setelahnya Febe membagi teman-temannya ke dalam dua kelompok agar setiap kelompok mampu membuat confetti tentu saja dibantu oleh Febe dalam proses pembuatannya.

Awalnya Febe menjelaskan dengan suara yang sangat halus, bahkan teman-temannya meminta agar Febe membesarkan volume suaranya. Ia mengakui cukup deg-degan ketika harus menjelaskan ke teman-temannya. Selama proses itu berlangsung dan melihat ada penerimaan yang baik dari teman-temannya ia baru berani membesarkan volume suaranya dan semakin percaya diri untuk menjelaskan. Proses ini kemudian membuat anak-anak kelas 4 SALAM berkeinginan untuk menjadi fasilitator, sehingga kami memutuskan setiap hari selasa menjadi hari ‘Fasilitator Teman’.