DIBILANGIN SALAM BUKAN SEKOLAH ALAM KOK NGEYEL

“Dimana anak mu bersekolah?”

“Itu loh yang sekolahnya ditengah sawah”

“Anakmu sekolah alam?”

“Oh bukan, anak ku hanya sekolah yang bangunannya ada diantara sawah sawah”

“Sekolahnya namanya Sanggar Anak Alam”

“Loh, itu ada alamnya, berarti kan sekolah alam”

“Yo wes, sekolah alam” sambil saya tertawa tapi saya tahan.

Sekelumit tentang percakapan dengan seorang teman yang menanyakan di mana sekolah anak saya. Saya sering kali ditanya seperti itu dan jawaban saya ya hampir semuanya sama. Sanggar Anak Alam (SALAM), nama yang rada identik dengan alam, tetapi alam yang seperti apa, alam yang bagaimana, wong senyatanya anak ku tidak sekolah alam. Mungkin kalau sekolah di alam, bisa jadi iya, karena anak ku masih sekolah di bumi, bukankah bumi itu alam? Begitu sulit menjelaskannya, tapi ya sudah jawabannya begitu saja, kalau tertarik ya silakan datang dan merasakan sendiri, apakah sekolah ini bisa disebut sekolah alam atau bukan, hanya kita sendiri yang merasakannya.

Sanggar Anak Alam (SALAM) memang sebuah institusi sekolah, yang terdiri dari Kelompok Bermain (KB), Taman Anak (TA), SD, SMP dan SMA namun kalau disebut sekolah juga bukan, karena sekolah biasanya siswanya berseragam, punya jadwal belajar yang penuh, ada yang naik kelas dan tidak naik kelas, dan sebagainya, sedangkan di SALAM, kami tidak menemukan itu semua, bahkan anak-anak yang ada di Sanggar Anak Alam tidak disebut siswa, mungkin karena tidak ada gurunya. Di Sanggar Anak Alam memang tidak ada gurunya, yang ada adalah Fasilitator, kalau Fasilitator disebut guru juga tidak tepat. Lalu apakah Sanggar Anak Alam disebut sekolah? Sekali lagi jawabanya, terserah anda.

Berarti anak SALAM tidak bisa melanjutkan sekolah dong? Pertanyaannya akan terus mengejar, seperti balap motorGP antara Rossi dan Marcues. Anak ku yang pertama sekarang “Sekolah” di SMKN 6 Yogyakarta, padahal sebelumnya setingkat SD dan SMP dia di Sanggar Anak Alam, bahkan ada anak SALAM yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) dan beberapa di kampus lain, baik negri atau swasta. Karena semua bisa dijawab, akhirnya temanya saya bingung, mungkin jawaban saya terlalu mengena buatnya.

Sanggar Anak Alam  sekolah tempat kami belajar, belajar tentang apa saja yang kami suka dan kami mau, di sini tidak ada nilai yang didapat oleh anak, karena yang menilai diri anak sendiri. Kedudukan fasilitator dan anak sama, hanya usianya yang berbeda, pengetahuannya pun belum tentu lebih tinggi fasilitator dalam hal tententu, bahkan mungkin anak jauh lebih faham tentang semua itu, makanya disebut fasilitator dan bukan guru, fasilitator adalah orang yang memfasilitasi anak-anak untuk belajar bersama tentang apa saja, dan itulah SALAM.

SALAM memang berada ditengah persawahan tetapi bukan berarti pembelajarannya tentang bertani, bahkan sangat sedikit, kalau boleh dibilang tidak ada yang tertarik melirik pertanian sebagai bagian hidupnya, mungkin juga fasilitator dan orang tuanya juga sangat minim yang tertarik ke dunia pertanian. Padahal ada kegiatan rutin yang dilakukan, yaitu wiwitan, sebuah pesta panen padi, yang merupakan perwujudan dari kehidupan bertani itu sendiri. Bahkan dari riset yang dilakukan oleh anak, hanya sedikit yang menyentuh pertanian, mungkin memang tidak menarik menjadi petani, karena harus punya sawah, yang harganya sangat mahal. Anak saya pun pernah saya tanya “kenapa tidak tertarik kepada dunia pertanian, kan sekolah mu di tengah sawah?” Jawabannya, “malas dan apa yang bisa dipelajari di pertanian”. Jawaban yang lugas, meskipun kemudian saya kasih tahu apa yang bisa dipelajari di pertanian dengan bercocok tanam langsung, dari mulai pengolahan tanah, pembibitan, pemupukan, pembersihan, penyemprotan hama dan panen, memang bertaninya tidak di tanah sawah tetapi di polybag, pot dan pipa, bertani yang lebih mudah dan tidak harus mencangkul. Namun toh tetap tak tertarik namun tetap mau membantu. Itulah yang seringkali menjadi pemikiran saya, sekolahnya di tengah sawah tetapi tidak ada satupun yang menekuni pertanian, walaupun hanya sebagai riset.

Sebagai orang tua, kami juga berpikir mungkin anak-anak memang tidak dikenalkan dengan aktivitas bertani yang ada di sekitarnya, sehingga anak-anak kurang peduli terhadap pertanian, padahal itu salah satu sumber kehidupan. Pembelajaranya enak, karena sawahnya tersedia dan luas, petani sesungguhnya juga ada bahkan lewat sekolah setiap hari, dan anak-anak bisa belajar satu musim dari mengolah lahan sampai panen, bahkan kalau diperlukan anak-anak bisa bertanya pada yang lebih ahli dengan mendatangkannya ke Salam. Sebuah aktivitas belajar yang sangat mudah dan menantang.

Anak-anak sejak dini telah dikenalkan dengan sawah dan apa saja aktivitasnya, mumpung sawahnya masih ada, akan sangat berarti karena anak-anak akan lebih memahami bagaimana proses makanan diperoleh, proses yang tidak mudah namun membutuhkan upaya yang sangat luar biasa dan hasilnya tidak ada ditangan kita sebagai pengendali, sedang memasak adalah proses yang lebih mudah karena kendali ada ditangan kita. Betapa sinergi antara petani, pedagang dan orang tua merupakan sebuah sistem baku yang tak terputus, berputar terus untuk saling bekerjasama dan membutuhkan.

Apa yang bisa dipelajari ketika anak-anak nanti menekuni dunia pertanian, untuk menjawab pertanyaan anak saya dan mungkin anak-anak lainnya yang malas bersentuhan dengan dunia pertanian. Kita bisa mengenalkan mulai dari pengolahan lahan, yaitu mengolah tanah. Kita harus menjelaskan tentang jenis jenis tanah dan caranya untuk mengolahnya, apa saja lapisan tanahnya yang ada di sawah dan sangat dibutuhkan oleh tanaman. Anak-anak bisa belajar tentang musim dan iklim yang tepat untuk bertani yang sesuai dengan musim dan iklim. Kemudian anak bisa belajar tentang air yang sangat dibutuhkan oleh pertanian, bagaimana air yang cocok dan bagus untuk pertanian dan bagaimana jika airnya tersedia hanya terbatas. Kemudian anak bisa belajar tentang bagaimana udara dan oksigen juga sangat dibutuhkan oleh tanaman, tanpa udara dan oksigen tanaman akan mati dan bagaimana oksigen ada di dalam tanah untuk menyuplai tanaman nantinya dan bagaimana tanah yang kekurangan oksigen akan menumbuhkan tanaman.

Pembelajaran selanjutnya bisa tentang pupuk, anak-anak bisa dijelaskan macam-macam pupuk, fungsi pupuk, pengunaan pupuk dan bagaimana pupuk diperoleh, apa itu mikroba, apakah pupuk yang dimakan tanaman, apa yang terjadi di dalam tanah, apa saja mahluk yang hidup di dalam tanah yang berguna bagi tanaman, apa saja mahluk hidup yang ada di permukaan tanah yang berguna dandi butuhkan oleh tanaman, apa yang membuat  mahluk hidup di sawah mati dan bagaimana melestarikanya. Kemudian juga belajar tentang jenis pestisida dan fungisida terkait apa manfaat dan bagaimana cara kerjanya, pestisida dan fungisida pembunuh semua mahluk hidup yang ada di sawah, bagaimana cara agar pestisida dan fungisida aman buat mahluk hidup di sawah dan manusia dan sebagainya.

Selanjutnya bisa menuju cara pembibitan yang baik, dari mana asal bibit yang baik diperoleh, bagaimana mendapatkannya, bagaimana cara menyimpannya, bagaimana cara menebar bibit yang baik, bisakah bibit ditebar bukan di sawah, apa kelebihan bibit yang di tebar di sawah dan di non sawah, umur berapa bibit yang baik untuk ditanam, dan sebagainya. Setelah masalah pembibitan selesai lalu berlanjut ke proses tanam, berapa umur tanam yang paling baik, bagaimana cara tanam yang baik, berapa jarak tanamnya, apa saja yang dipersiapkan agar  bibit bisa tumbuh dengan baik dan tahan hama, berapa anakan padi yang muncul pada umur 1 bulan, 2 bulan dan sampai bulir padi mucul, berapa jumlah bulir padi pada tiap-tiap batang padi yang dihasilkan,  berapa kali proses perawatannya, apa saja hal-hal yang termasuk dalam proses perawatan, bagaimana jika perawatan kurang optimal dilakukan, apa yang harus dilakukan saat mulai muncul bulir, bagaimana penanganan jika terjadi serangan hama, tikus, burung, keong dan hama lainnya, bagaimana sirkulasi air seharusnya pada tanaman padi, bagaimana seharusnya tanah yang cocok untuk pertumbuhan padi, bagaiman udaranya, bagaimana sinar matahari cukup atau tidak, apa yang terjadi jika sinar matahari tidak cukup untuk tanaman.

Selanjutnya dapat menjelaskan tentang proses panen, yaitu bagaimana ciri ciri padi yang siap panen, padi untuk bibit, berapa bulir padi yang ada pada setiap batang yang siap penan, cara panen yang benar, cara perlakuan terhadap jerami yang benar, cara perlakuan terhadap sisa pokok padi yang tertinggal, cara pengemasan padi yang baik, cara efktif efisien mengangkut padi. Kemudian dijelaskan bagaimana proses padi menjadi beras, proses penjemuran dengan tingkat kekeringan berapa prosen sehingga bisa menjadi beras berkualitas baik, proses penyortiran gabah yang baik, proses penggilingan padi yang baik, apa hasil dari penggilingan, apa itu sekam, bekatul, dan beras, beras kepala, beras yang hancur dalam proses penggilingan, kenapa beras bisa hancur saat penggilingan, pengemasan beras untuk siap dipasarkan dan sebagainya.

Dari proses  bertani betapa banyaknya hal yang bisa dipelajari dan diteliti, apalagi jika untuk pertanian dengan menjaga kualitas tertentu, maka akan sangat banyak perlakuan yang dilakukan dan itu akan membuat perasaan malas menjadi menghargai, sehingga akan muncul sikap untuk lebih mencintai dan menghargai makanan yang ada ditangan mereka, sehingga prilaku membuang makanan sisa akan bisa dikurangi dan negri ini memiliki calon-calon generasi petani yang melek informasi dan mengehargai ilmu pengetahuan dan jika petani kita bertani dengan basis ilmu pengetahuan yang benar, ke depan masa depan pertanian akan lebih cerah, apalagi jika anak-anak mampu dibekali dengan pengetahuan marketing yang mumpuni terkait produk pertanian, maka petani akan layak menjadi profesi di masa depan dan bukan hanya menjadi objek penderita sepanjang jaman.

Foto-foto doc. SALAM Ketika dalang Sih Agung memainkan Wayang Serangga bersama anak-anak SALAM