Blog

“143.000 Ton Kesalahan yang Kita Sebut Kebiasaan”

Kita terlalu sering menganggap sampah sebagai urusan orang lain. Ia selesai ketika kantong plastik diikat, dilempar ke tong, lalu lenyap dari pandangan. Seolah-olah begitu saja—bersih, tuntas, tanpa sisa. Padahal, di balik ritual kecil itu, ada hutang panjang yang pelan-pelan ditagih oleh alam.

Hujan kini turun dengan amarah yang asing. Ia tidak lagi sekadar membasahi tanah, melainkan menggedor atap, meluap ke jalan, menyeret apa saja yang lupa kita rawat. Banjir datang bukan sebagai tamu tak diundang, tapi sebagai pesan yang berulang—pesan yang terus kita abaikan. Udara, yang kita hirup tanpa curiga, diam-diam menyimpan racun halus: partikel, asap, mikroplastik yang menyusup ke paru-paru, ke darah, ke tubuh kita yang rapuh.

Ini bukan kebetulan. Ini umpan balik. Alam sedang berbicara dengan bahasa sebab-akibat. Setiap hari, sekitar 143.000 ton sampah kita lepaskan ke ruang hidup bersama—ke sungai, ke laut, ke tanah—seolah bumi adalah halaman belakang yang tak pernah penuh. Kita lupa: bumi tidak punya tombol “hapus”.

Ketika negara akhirnya menyebutnya Darurat Sampah Nasional, itu bukan sekadar stempel di atas kertas. Itu pengakuan yang terlambat bahwa sistem kita retak: tata kelola yang setengah hati, kebijakan yang sering kalah oleh kebiasaan, dan budaya abai yang diwariskan dari hari ke hari. Darurat ini bukan hanya soal tumpukan di TPA, melainkan tentang cara hidup yang menormalisasi pemborosan dan memaafkan ketidakpedulian.

Drainase yang tersumbat bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah metafora tentang pikiran kita yang macet. Mikroplastik yang kini ditemukan di tubuh manusia adalah ironi paling pahit: sampah yang kita singkirkan kembali dalam bentuk lain—lebih sunyi, lebih berbahaya. Lalu siapa yang paling rugi? Bukan sungai, bukan laut. Kita sendiri.

Kita tidak punya planet cadangan. Tidak ada Bumi versi kedua yang bisa kita pesan ketika yang ini rusak. Yang kita miliki hanyalah pilihan-pilihan kecil yang sering diremehkan: memilah sampah, mengurangi plastik, berhenti berpikir bahwa urusan bersama bisa selalu diserahkan pada “nanti” dan “orang lain”.

Mungkin revolusi hari ini tidak dimulai di jalanan, tapi di dapur rumah kita. Di tangan kita sendiri. Karena merawat bumi, pada akhirnya, adalah cara paling jujur untuk merawat masa depan kita.

Dan di titik inilah pertanyaannya berubah. Bukan lagi apakah kita peduli, melainkan seberapa jauh kita berani mengubah kebiasaan. Sebab bencana ekologis tidak lahir dari satu keputusan besar, melainkan dari ribuan keputusan kecil yang dibiarkan berlalu tanpa refleksi.

Kita hidup dalam ironi: ingin lingkungan bersih, tapi enggan repot memilah; mengeluh banjir, tapi masih melempar bungkus ke selokan; marah pada negara, sambil diam-diam merasa diri kita terlalu kecil untuk berbuat apa-apa. Padahal justru dari rasa “kecil” itulah kerusakan ini tumbuh—ketika tanggung jawab dipreteli, dipecah-pecah, lalu tak ada yang benar-benar memeluknya.

Anak-anak hari ini tumbuh dengan langit yang lebih kusam dari masa kecil kita. Sungai yang dulu bisa disentuh kini hanya boleh dikenang lewat cerita. Kita sedang mewariskan krisis, lalu menamakannya kemajuan. Sejarah kelak mungkin akan mencatat kita sebagai generasi yang tahu, tetapi memilih menunda.

Sampah bukan benda mati yang netral. Ia adalah jejak cara hidup. Ia mencerminkan relasi kuasa: siapa yang nyaman mengonsumsi, dan siapa yang menanggung akibatnya. Kampung-kampung di hilir, pemulung di pinggir kota, nelayan yang pulang dengan jaring kosong—merekalah yang pertama kali membayar harga dari ketidakpedulian kolektif ini.

Maka Darurat Sampah seharusnya dibaca sebagai darurat nurani. Panggilan untuk berhenti pura-pura tidak tahu. Untuk mengakui bahwa krisis ini tidak akan selesai hanya dengan slogan hijau dan foto seremonial. Ia menuntut kerja yang sunyi, konsisten, dan sering kali tidak populer.

Barangkali yang kita butuhkan bukan sekadar teknologi baru, melainkan keberanian moral: untuk mengubah gaya hidup, menuntut kebijakan yang tegas, dan mendidik diri sendiri sebelum sibuk menggurui orang lain. Karena bumi tidak pernah menuntut kita menjadi pahlawan. Ia hanya meminta kita berhenti menjadi perusak.

Dan jika suatu hari nanti hujan kembali turun dengan tenang, sungai mengalir tanpa membawa luka, dan udara bisa dihirup tanpa rasa cemas, semoga itu bukan karena alam telah memaafkan kita—melainkan karena kita akhirnya belajar mendengarkan. Jadi, setelah semua ini, kita masih ingin bertanya: “Memangnya apa dampaknya kalau aku tidak memilah sampah?” Pertanyaan itu sendiri sudah menjadi jawabannya.

Karena setiap plastik yang kita anggap sepele adalah suara kecil yang memilih kehancuran. Setiap sikap “ah, satu orang tidak berpengaruh” adalah suara yang mempercepat kiamat ekologis dengan cara paling banal. Bukan ledakan, bukan perang—melainkan kebiasaan harian yang kita bela mati-matian atas nama kenyamanan.

Kelak, ketika air naik ke ruang tamu, ketika anak-anak bertanya mengapa udara terasa pahit di dada mereka, kita tak bisa lagi menyalahkan alam. Ia hanya menagih. Dengan rapi. Dengan adil. Maka sekarang pilihannya brutal dan sederhana: terus hidup seperti tak terjadi apa-apa, atau mengakui bahwa sampah adalah potret moral kita sendiri. Karena bumi tidak sedang sekarat—yang sedang diuji adalah manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *