Saya membayangkan sebuah sore yang teduh di Yogyakarta, angin berembus pelan membawa bau tanah basah dan daun jati yang gugur. Di serambi sebuah rumah tua, waktu seperti menahan napasnya sendiri. Di sana, saya duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang wajahnya lebih menyerupai ingatan daripada tubuh: Ki Hajar Dewantara. Ia tidak datang sebagai tokoh sejarah. Ia hadir sebagai kegelisahan.
“Sekarang pendidikan ya sekolah itu saja?” tanyanya, tanpa nada menghakimi. Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan apakah ia masih mengenali dunia yang dulu ia bantu lahirkan.
Saya terdiam sejenak. Di luar, suara sepeda motor melintas cepat, seperti zaman yang tak sempat lagi menoleh ke belakang. “Ya, Ki,” jawab saya akhirnya. “Sekolah menjadi pusat segalanya. Yang lain… seperti memudar.” Ia menghela napas panjang. “Padahal dulu, saya tidak pernah membayangkan sekolah sebagai pusat. Ia hanya salah satu simpul.”
Ia menyebut kembali sesuatu yang kini terdengar seperti artefak: Tri Sentra Pendidikan—keluarga, komunitas, dan gerakan pemuda, yang hidup bersama sekolah, bukan di bawahnya. Sebuah ekosistem, bukan struktur hierarkis.
“Tapi sekarang,” lanjut saya, “yang lebih parah, istilah seperti formal, nonformal, informal… itu bukan lagi cara memahami proses belajar. Mereka sudah berubah menjadi organisasi, bahkan menjadi birokrasi.”
Ki Hajar tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia—lebih seperti seseorang yang melihat kata-kata kehilangan maknanya sendiri. “Ketika metode berubah menjadi lembaga,” katanya pelan, “maka yang hilang adalah ruhnya.”
Saya teringat cerita-cerita lama tentang sekolah yang pernah dicap liar oleh pemerintah kolonial. Sekolah yang tidak tunduk pada kurikulum resmi, tidak mengabdi pada kekuasaan, dan karena itu dianggap berbahaya. Sekolah yang justru lahir dari kebutuhan rakyat untuk memahami dirinya sendiri.
“Sekarang,” saya berkata, “kami juga sering dianggap ‘liar’, Ki. Bukan karena melawan kolonialisme, tapi karena tidak sepenuhnya mengikuti sistem.” Ia menatap saya lebih dalam. Ada sesuatu di matanya yang menyerupai luka yang belum selesai. “Sejarah itu tidak pernah benar-benar pergi,” ujarnya. “Ia hanya berganti wajah.”
Dalam diam yang mengikuti, saya mulai merasakan bahwa percakapan ini bukan tentang pendidikan semata. Ia tentang ingatan yang tergerus—tentang bagaimana suatu bangsa perlahan lupa cara mendidik dirinya sendiri.
Dulu, keluarga adalah ruang pertama di mana nilai ditanam, bukan sekadar tempat pulang. Komunitas adalah ruang hidup, tempat anak-anak belajar dari kenyataan, bukan hanya dari buku. Gerakan pemuda adalah api, bukan sekadar organisasi formal yang mengurus administrasi kegiatan. Sekarang, semuanya seperti dipadatkan ke dalam ruang kelas.
Belajar menjadi aktivitas yang terjadwal. Merdeka menjadi slogan. Dan “belajar mendalam” menjadi proyek yang harus dilaporkan. Ki Hajar menggeleng pelan. “Merdeka itu tidak bisa diproyekkan,” katanya. “Ia harus dialami.” Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur ingatan.
Saya teringat wajah-wajah anak di ruang kelas: duduk rapi, diam, menunggu instruksi. Mereka belajar menjawab, tapi jarang belajar bertanya. Mereka menyelesaikan tugas, tapi jarang menyelesaikan kegelisahan.
“Apakah kami salah, Ki?” tanya saya akhirnya. Ia tidak langsung menjawab. Di kejauhan, suara adzan mulai terdengar, membelah senja. Seperti panggilan yang tidak hanya ditujukan pada tubuh, tetapi juga pada kesadaran.
“Bukan salah,” katanya kemudian. “Tapi kalian sedang kehilangan arah karena kehilangan ingatan.” Ia menatap halaman kosong di depan kami, seolah melihat masa lalu yang masih ingin kembali. “Pendidikan bukan soal sistem,” lanjutnya. “Ia soal hubungan. Antara manusia dengan manusia. Antara manusia dengan dunianya. Dan antara manusia dengan dirinya sendiri.”
Malam mulai turun perlahan. Saya ingin bertanya lebih banyak, tetapi saya tahu percakapan ini tidak pernah benar-benar selesai. Ia akan terus berlanjut di ruang-ruang lain—di rumah, di jalan, di kebun, di ruang kelas yang berani membongkar dirinya sendiri.
Sebelum ia menghilang kembali ke dalam waktu, Ki Hajar berkata satu hal terakhir: “Kalau sekolah kembali dianggap liar hari ini, mungkin itu tanda bahwa ia mulai hidup kembali.” Saya duduk sendiri setelah itu.
Dan untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa mungkin yang kita butuhkan bukan sistem pendidikan baru, melainkan keberanian untuk mengingat kembali apa yang pernah kita miliki—dan menghidupkannya dengan cara yang lebih jujur. Karena barangkali, yang hilang bukan pendidikan. Melainkan keberanian untuk merdeka dalam belajar.[]

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply