BERTUALANG MENGISI LIBURAN

Sudah lama Kerabat SALAM di luar Jogja yang meminta Sanggar Anak Alam (SALAM) untuk menyelenggarakan kegiatan anak-anak mereka mengenal khasanah SALAM sambil memanfaatkan musim libur. AKADEMI SALAM yang pada akhirnya merancang Bertualang 2022, sebuah kegiatan dalam rangka mengisi waktu liburan anak-anak sekolah di akhir bulan Juni, tepatnya di tanggal 27 Juni sampai 1 Juli. Walaupun masih perdana, kegiatan ini bisa dibilang cukup sukses. Diikuti oleh enam peserta berusia kisaran 10-16 tahun yang berasal dari luar kota Yogyakarta, mereka adalah Ilham, Tadeo, Radi, Taaraz, Raka, dan Khairy. Ada pula fasilitator sebaya dari SALAM yang ikut mendampingi selama kegiatan yaitu Rere, Imung, Jalu, Sadat, Lekha, dan Jenar.

Selama lima hari empat malam kami berkegiatan bersama dan menempati penginapan di daerah Sonosewu, Bantul. Tak lupa kami juga menyepakati beberapa hal seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga barang yang dipakai bersama, dan tanggung jawab mencuci alat makan yang dipakai. Juga tiga kesepakatan utama yang berlaku di SALAM, yaitu menjaga diri, menjaga teman, dan menjaga lingkungan.

Ada lima kegiatan utama yang kami sebut dengan jelajah, hari pertama diisi dengan Jelajah Seni, hari kedua Jelajah Pangan, hari ketiga Jelajah Komunitas, hari keempat Jelajah Alam, dan terakhir hari kelima Jelajah Kota.

Lewat Jelajah Seni bersama Pak Eko dan Pak Nardi, kami belajar teknik tie dye untuk pewarnaan kaos dan stamping di kain yang kemudian akan dijadikan tas. Malamnya kami berkunjung ke dua museum yaitu RuangDalam Art House dan Survive! Garage yang letaknya tidak jauh dari SALAM. Khusus untuk hari itu, dari satu tempat ke tempat lainnya kami menggunakan transportasi sepeda. Mungkin karena masih hari pertama, para peserta masih tampak belum terlalu akrab dengan sesama dan terhadap panitia. Barulah ketika Jelajah Pangan yang diisi dengan kegiatan memasak bersama narasumber Bu Endah dan Mimi, peserta terlihat dapat membaur dengan baik. Kami belanja bersama di Pasar Niten pada pagi hari, lalu memasak macam-macam jenis makanan di tempat Mimi dari siang sampai sore. Malamnya, masih di tempat yang sama, kami menonton film bersama yang berjudul “Percy vs Goliath”.

Dalam Jelajah Komunitas, kami berkunjung ke daerah bagian Utara Jogja, tepatnya di Cangkringan. Di sana, kami mengunjungi tempat produksi keju Mazaraat dan Konservasi Studi Kawasan Burung Hantu (KSKBH). Narasumber untuk pabrik keju adalah Mbak Nieta selaku pemilik dan Mas Fajar sebagai karyawannya. Di sana kami diceritakan banyak hal oleh Mbak Nieta, mulai dari pengalamannya membuat berbagai macam keju, sejarah keju, sampai alasan yang membuat Mbak Nieta berkeinginan untuk membangun usaha ini. Kami juga diizinkan untuk melihat proses pembuatan kejunya di dalam pabrik ditemani Mas Fajar, lalu mencoba dua jenis keju yang mereka produksi, yaitu Blue Cheese berusia dua tahun dan Halloumi Cheese.

Setelah itu kami makan siang baru kemudian melanjutkan kegiatan dengan narasumber dari KSKBH yaitu Pak Liem dan Mas Acil. Lewat kegiatan meramban bersama Pak Liem, kami diberitahu mana saja tanaman di sekitar yang layak untuk dimakan sambil jalan-jalan. Sore harinya kami juga melihat proses pelepasan burung hantu bersama Mas Acil. Karena terletak di daerah utara Jogja yang mana dataran tinggi dekat dengan gunung, angin dan suhu di situ terasa cukup dingin. Sayangnya di kegiatan kali ini ada satu peserta yaitu Taaraz yang merasa tidak enak badan, mungkin efek masuk angin. Khawatir sakitnya semakin parah, akhirnya ia dijemput oleh sanak saudaranya. Kakaknya, Tadeo, ikut menemani Taaraz ke rumah sakit. Karena kondisi ini, mereka berdua kemudian izin tidak mengikuti kegiatan sampai akhir.

Pada Jelajah Alam, kami diberi materi packing oleh Pak Sea, Mas Bolot, dan Mas Lemot. Materi yang terkesan remeh tetapi pada kenyataannya sangat berguna. “Wah, ini nih, berguna banget. Soalnya aku kalau berangkat koper penuh, kalau pulang nggak muat,” celetuk Ilham. Keempat peserta yang tersisa pun bergegas kembali ke kamar masing-masing untuk menerapkan ilmu baru yang didapatnya pada barang bawaan mereka. Selain materi packing, kegiatan pada hari itu adalah pergi ke daerah Utara Jogja lagi, tepatnya di Plunyon. Di sana kami melakukan hiking, susur sungai, sekaligus mempraktikan pengetahuan meramban dari Pak Liem kemarin lalu bahannya digunakan untuk memasak.

Di hari terakhir kami berangkat agak siang daripada biasanya, sekalian menyesuaikan dengan jam check out penginapan dan waktu Jumatan. Barang-barang sudah diharuskan keluar dari kamar penginapan sebelum jam sebelas pagi. Dari penginapan, kami diantar oleh minibus ke Masjid Kauman. Sadat, selaku salah satu panitia, ikut menemani peserta yang ingin melaksanakan sholat Jum’at, sementara yang lainnya menunggu di sekitaran sambil menikmati jajanan. Selesai sholat, kami berkumpul lalu berjalan kaki ke Museum Sonobudoyo untuk makan siang. Peserta juga diberi kesempatan untuk masuk ke dalam museum. Sekitar pukul satu siang barulah kami melanjutkan kembali perjalanan ke kawasan Malioboro. Setelah jalan-jalan sebentar kami berpencar, ada yang ingin belanja blangkon di Pasar Beringharjo, ada yang ke toko Hamzah Batik, dan ada pula yang memutuskan untuk langsung ke titik terakhir yaitu Benteng Vredeburg sekalian istirahat.

Di Museum Benteng Vredeburg inilah panitia dan peserta berpisah. Tak terasa sudah sampai di penghujung acara. Suasana sedih dan senang terjadi di saat yang bersamaan. Senang karena sudah melakukan banyak kegiatan seru dan sedih karena harus berpisah. Baik peserta maupun panitia sama-sama mendapat pengalaman menyenangkan dan berharga. Bagi peserta, banyak pengetahuan baru yang mereka peroleh lewat berbagai jelajah, termasuk terbentuknya jalinan pertemanan baru karena di awal mereka saling tidak kenal. Bagi panitia, kami belajar bagaimana menjalankan sebuah event dengan baik, berkomunikasi dengan beberapa pihak terkait, dan promosi. Saat ditanyai panitia pada sesi wawancara pagi di hari terakhir, para peserta mengungkapkan bahwa kegiatan selama lima hari empat malam ini kurang, mereka berharap kalau durasi kegiatan Bertualang berikutnya bisa diperpanjang menjadi seminggu sampai sepuluh hari. Buat para panitia, persiapkan fisik dan mental kalian sebaik mungkin untuk Bertualang selanjutnya ya.