“SEKOLAH TANPA JURUSAN” CATATAN ETNOGRAFI PENDIDIKAN

Sekolah Tanpa Jurusan karangan Gernatatiti. Berisi catatan harian seorang fasilitator jenjang SMA yang oleh Roem Topatimasang dalam pengantarnya disebut sebagai etnografi pendidikan. Sang etnografer menggambarkan secara rinci pengalaman riilnya selama melakukan proses pendampingan belajar anak di SALAM. Dari urusan penyiapan acuan dasar pembelajaran hingga tata laksana teknis di lapangan, Gerna dengan jeli menguak praktik partisipatoris pendidikan di sanggar yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta itu.

Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) Gerna & Gemak

Saat ditanya Budi Gemak, sang moderator, motif di balik penulisan buku, Gerna mengatakan laku dokumentasi. Galibnya seorang fasilitator bukan hanya menstimulasi dan menemani anak sepanjang proses belajar, melainkan juga rajin mencatat pengalaman keseharian guna disiplin literasi. “Di SALAM ini unik cara belajarnya. Bagi latar pendidikan formal yang ada di SALAM kan baru. Nah, apa yang saya alami di sini saya dokumentasikan,” ucap Gerna.

Bila pendidikan formal menganut kebakuan dan kekakuan praktik pendidikan, di SALAM cenderung dinamis. “Yang terpenting paradigmanya, kalau metode pembelajarannya bisa berubah-ubah,” kata Gerna melanjutkan. Ia menerangkan kalau memang merdeka belajar maka semestinya tiap semester berganti metode. Ironisnya, jargon anutan pemerintah itu alih-alih memerdekakan, kenyataannya justru sudah dipatenkan. Dinamika telah diseragamkan.

Membuka kemungkinan dinamika berarti memfasilitasi kemungkinan-keunikan setiap anak. Sekolah Tanpa Jurusan merekam keluasan dan keluwesan anak seputar keingintahuan, kekritisan, dan penyerapan anak sehingga melahirkan kreativitas serta produksi pengetahuan berharga. Gerna mengharapkan agar buah penanya itu dibaca luas para pelaku pendidikan alternatif. Setidaknya menjadi rujukan bagi mereka yang hendak melakoni jalur serupa.

Gus Muh, panggilan akrab Muhidin M. Dahlan, mengomentari posisi buku Gerna di tengah hiruk-pikuk perbukuan mengenai pendidikan. Ia langsung menyebut halaman 94. Angka ini menunjuk salah satu esai bertajuk Khayalan Bus Kota. “Apa yang dilakukan mbak Gerna seperti bus kota. Posisinya sepi. Mungkin hanya guru yang punya waktu luanglah yang mencatat,” kata arsiparis partikelir itu. Waktu luang ini menurutnya adalah kerja ilmuwan. Seorang etnografer memang hendaknya berjibaku dengan jurnal. Ada jurnal kecil dan besar.

Ibarat bus kota, sekolah semestinya dinamis. “Dia bergerak,” lanjut Gus Muh. Pada esai itu Gerna membicarakan kegiatan kepanduan bagi kelas SMA. Anak diajak jalan-jalan, mengenal rute Trans Jogja, sekaligus menemukan lokasi kedaruratan—tambal ban, klinik kesehatan, dan tukang kunci di sepanjang rute yang dilalui. Gus Muh menyayangkan mengapa memilih nama kepanduan, bukan pramuka, misalnya. Ia menilai kepanduan identik dengan Amerika. “Kalau komunis itu pramuka,” kelakar Gus Muh.

Satu hal penting dalam esai itu adalah anak diajak ikut kegiatan kepanduan di kota. Biasanya kepanduan berkisar di gunung. “Bertualang di kota itu menarik. Kalau itu dilakukan ya seperti mbak Gerna tadi: bertahan hidup. Siswa juga bisa belajar tentang pemetaan,” imbuhnya. Di sepanjang menyusuri gang-gang kota anak membaca berbagai papan nama. Pengalaman itu tanpa disadari mengajarkan ilmu ekonomi. “Berapa yang jual nasi goreng, di situ sukunya apa, dan lain sebagainya. Nah, sekolah kita nggak melakukan itu.”

Pendiri Radio Buku dan Warung Arsip itu menyitir perkataan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya: “sekolah tidak mengenal sejarah tempat dia berdiam.” Kutipan ini mengandaikan pentingnya berakrab terhadap riwayat lingkungan sekitar. Anak-anak SALAM menggumulinya dengan melakukan “sekolah jalan-jalan” yang menurut Gus Muh dapat memberikan pelajaran banyak hal. Khususnya memetakan sosiologi masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial.

“Pemetaan ini penting Jika sejak dini diajari begini kita tidak akan berdebat tentang statistik pemilu. Sebab masyarakat tidak diajari kuantitatif, padahal ini bisa diajarkan sejak ini,” ungkapnya.

Garis besar Sekolah Tanpa Jurusan identik dengan bus kota. “Sebab jurusan itu lurus,” ujar Gus Muh, “kalau kita ketik di Google yang muncul rute bus. Tapi pengetahuan publik yang disebut jurusan itu angkutan. Berarti jurusan itu dinamis. Sekolah yang statis yang lurus. Padahal hidup tidak begitu. Hidup nggak ada yang lurus seperti jurusan.”

Gus Muh menjabarkan asal kata jurusan. Menurutnya, ia berasal dari kata dasar jurus. Manakala mendapatkan tambahan [-an] artinya berubah. “Jurus itu kuda-kuda, metode, dasar hidup. Untuk mendapatkan yang disebut sebagai jalan hidup yang lurus. Tapi hampir mustahil. Dari mana asalnya? Dari pendidikan tentara. Semua harus lurus. Padahal Tamansiswa yang bulan ini berusia seabad tidak mau begitu,” paparnya.

Hidup Ki Hadjar Dewantara berkelok-kelok. Menteri Pengajaran Pertama I itu bolak-balik sekolah dan penjara.

***

Di balik dapur penulisan, Gerna menceritakan naskah buku sebelum diterbitkan ke penerbit Mojok. Mulanya ia menyusun sebanyak 21 esainya secara kronologis. Namun, pihak penerbit menganjurkan agar disusun tematik. Akhirnya keseluruhan esai terbagi menjadi tiga bagian, yakni Perencanaan, Ketika Kelas Berjalan, dan Refleksi. Setelah diterbitkan, penerbit mengklasifikasikan buku Gerna untuk pembaca berusia 15 plus.

Ia berharap kalangan pembaca bukan hanya kalangan pendamping, fasilitator, ataupun pemerhati pendidikan, melainkan juga anak-anak sekaligus orang tua. “Bahkan ke teman-teman komunitas yang mungkin susah akses pendidikan,” ujarnya.

Fasilitator di SALAM yang berpotensi menulis amat banyak. Gerna kilas balik proses penulisannya bersama teman-teman lain. Buku teranyarnya ini bukan perdana. Ia pernah menulis secara lepas di berbagai media dan bunga rampai bersama kawan lain. “Semoga fasilitator SALAM juga memublikasikan catatan-catatan yang kelak dibukukan. Etnografi pendidikan itu sangat langka di Indonesia,” tambahnya.

Meski catatan etnografi pendidikan di Indonesia sepi dan dingin, sebab paling banyak buku bertema “Trans Jogja” yang ramai seperti di pusat kekuasaan jantung keraton, buku semacam itu tetap dibutuhkan. Catatan etnografi pendidikan memang tak semenggelegar jargon merdeka belajar. Bagi Gus Muh, jalur tol dan jalur alternatif, “Semua ada tempatnya masing-masing, ada jalan masing-masing. Nggak usah dipaksakan.”

“Yang pasti SALAM ITU jalan alternatif karena becek,” Gus Muh menunjuk lokasi tengah sawah Sanggar Anak Alam, “maka  SALAM tidak bisa dipaksa menjadi kurikulum negara.” Menurutnya, merdeka belajar itu berlebihan. Sebab lebih penting merdesa. Orientasinya kesejahteraan. “Maka saya bilang berlebihan. Apalagi ini menteri kan ekonominya ditopang oleh transportasi.”

Dalam kurikulum besutan negara, guru tak mungkin merdeka karena berjibaku pada tetek-bengek administrasi. Gus Muh menilai bukan berarti guru juga tak mampu menulis. Mereka sangat mampu. Hanya lupa caranya. Juga tak diberi waktu luang untuk berekspresi. “Karena pendidikan kita tidak membuat guru berefleksi. Buku mbak Gerna ini membuat guru berefleksi. Kadang guru jadi murid, siswa jadi guru. Guru sekarang susah. Bebannya sangat tinggi,” katanya.

Kunci kurikulum adalah membuat guru berdaya. Guru berdaya telah dicontohkan Ki Hadjar Dewantara.

Peluncuran sekaligus diskusi buku kemarin sore gayung bersambut penanya. Pertanyaan mereka berkisar antara contoh sistem among, paradigma pendidikan yang semestinya dipegang seperti apa, dan masalah kurikulum sekarang tak mewujud dalam pembelajaran bermakna.

Di penghujung acara, Pak Toto Rahardjo mengutarakan catatan penutup. “Wah, Gus Muh ini membongkar selama ini yang saya tutup-tutupi. Yang jelas SALAM ini bukan jalan lurus, kadang ke kanan dan banyak juga mengambil arah belok kiri. Untuk mbak Gerna jangan saya komentari, lebih baik Anda baca saja sendiri bukunya. Terhadap praktik pendidikan nasional, Pak Toto mengkritik kecenderungan pemakaian LOGFRAME (Logical Framework Analysis) pendesainan pendidikan. Ia mempreteli problem mendasarnya, itu cara berpikir dan instrumen yang biasa digunakan oleh para perencana industri dalam memproduksi barang massal dan upaya mendistribusikan (baca: memasarkan) ke konsumen, secara tidak sadar meletakkan siswa tak lebih sebagai barang, kini proses itu digunakan sejak dari perencanaan hingga pembentukan undang-undang, menurut Toto Rahardjo semuanya dilandaskan sedemikian rupa. Padahal “Logframe” yang sudah lama dipakai NGO itu justru menjadi alat penjinakan sekaligus menjadi katub penghambat gerakan sosial,” pungkasnya. []