karya anak salam

Pahit Manis Secangkir Presentasi

Pagi itu, Jumat, 8 Mei 2026, ruang Togog Bilung masih lengang ketika GabriElla Arthavia Aditha—Ella—datang sebelum jam delapan. Kursi-kursi belum penuh. Suara anak-anak belum riuh. Di luar ruangan, udara pagi masih membawa sisa dingin malam. Ella duduk menunggu sambil membawa persiapan presentasinya tentang sejarah kopi, sebuah topik yang selama beberapa bulan terakhir ia telusuri dengan rasa ingin tahu.

Sedikit demi sedikit ruangan mulai hidup. Menjelang pukul sembilan kurang lima belas menit, teman-teman kelas enam berdatangan. Para fasilitator hadir. Beberapa orang tua ikut duduk di belakang. Ada pula kakak-kakak PPL dan siswa yang mampir untuk menyimak. Suasana yang semula sepi berubah menjadi ruang belajar yang ramai, dengan suara percakapan kecil dan bunyi kursi yang digeser. Tepat pukul sembilan, presentasi dimulai.

Namun pagi itu rupanya tidak berjalan mulus. Laptop yang dipakai Ella mendadak membeku. Layar berhenti bergerak. Presentasi tersendat di awal. Ella yang sejak pagi tampak bersemangat perlahan berubah murung. Wajahnya terlihat kesal. Beberapa kali gangguan teknis kembali muncul. Ketika fasilitator dan kakak OAS mencoba memperbaiki laptop, Ella sempat merebahkan badan dengan ekspresi kecewa, seperti anak yang sedang kehilangan ritme kepercayaan dirinya. Tetapi setelah semuanya kembali berjalan, Ella bangkit lagi.

Walau sedang batuk, ia tetap melanjutkan presentasi dengan suara yang cukup mantap. Ia membacakan slide demi slide dengan lancar. Topik yang ia pilih sederhana tetapi luas: sejarah kopi. Ia ingin mengetahui bagaimana kopi berkembang di dunia hingga sampai ke Indonesia, dan mencari jawaban sampai dirinya merasa puas dengan informasi yang didapat.

Dalam proses risetnya, Ella banyak mencari bahan dari Wikipedia, Instagram, dan berbagai artikel di internet. Ia mengakui kesulitannya mencari buku yang secara khusus membahas sejarah kopi. Namun keterbatasan itu tidak menghentikannya untuk terus mencari informasi dari sumber lain.

Dari penelusurannya, Ella menemukan dua hal yang menurutnya penting: manfaat kopi dan bahaya mengonsumsi kopi secara berlebihan. Ia menjelaskan bagaimana kopi bisa membantu tubuh tetap fokus, tetapi juga dapat berisiko jika dikonsumsi terlalu banyak, terutama bila dicampur gula dan krimer berlebihan. Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling hidup sekaligus paling mengesankan.

Ayya bertanya tentang kopi gula aren yang sedang populer. Jika gulanya dikurangi setengah, apakah tetap berbahaya? Ella menjawab singkat namun yakin, “Risikonya berkurang.” Tante Gita bertanya apakah Ella sendiri rutin minum kopi. Ella menjawab jujur: ia tidak minum kopi secara rutin. Kopi yang pernah diminumnya adalah robusta, dan pertama kali ia mencobanya saat berusia enam tahun. Ketika ditanya apakah ada efek tertentu setelah minum kopi, Ella menggeleng. “Tidak ada efek.”

Pertanyaan yang paling membuat suasana berubah datang dari Mas Rayyi. Ia bertanya tentang kopi luwak—tentang luwak yang dikandangkan dan dipaksa hanya makan biji kopi. “Menurutmu, apakah itu etis?” Ella terdiam. Ia akhirnya menjawab pelan, “Aku nggak tahu, karena aku nggak belajar itu.”

Belakangan diketahui, Ella sebenarnya tidak memahami arti kata “etis”. Ia lebih akrab dengan bahasa Inggris dibanding sebagian kosakata bahasa Indonesia yang abstrak. Sepulang ke rumah, pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya. Ia sedih karena merasa tidak bisa menjawab. Ibunya kemudian menjelaskan bahwa ketika tidak memahami sebuah pertanyaan, tidak apa-apa untuk bertanya balik: “Maksudnya apa?” Sebuah pelajaran kecil tentang keberanian mengakui ketidaktahuan.

Di ruang presentasi itu, yang terlihat bukan sekadar anak menjelaskan kopi. Yang tampak adalah proses seorang anak belajar menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman: laptop rusak, pertanyaan yang sulit dipahami, rasa kecewa pada diri sendiri, dan usaha untuk tetap berdiri di depan banyak orang.

Pertanyaan lain datang dari Mbak Sofia tentang batas aman minum kopi. Ella menjawab bahwa semuanya tergantung kekuatan tubuh masing-masing. Menurutnya, minum kopi tiga kali sehari masih bisa aman selama kopi tersebut hitam tanpa gula dan krimer. Ketika Ayya kembali bertanya mengapa latte dianggap memiliki kafein lebih tinggi, Ella menjawab jujur bahwa ia belum tahu. Kejujuran itu justru menjadi bagian penting dari presentasi tersebut. Tidak semua pertanyaan harus dijawab sempurna. Tidak semua pengetahuan selesai dalam satu riset.

Teman-temannya mendengarkan dengan serius dan aktif bertanya. Orang tua mendampingi sejak proses riset hingga hari presentasi. Fasilitator membantu sebagaimana biasanya: mendampingi, mengarahkan, dan memberi ruang agar anak belajar melalui pengalamannya sendiri.

Dari proses ini, Ella bukan hanya belajar tentang sejarah kopi global dan Indonesia. Ia juga belajar tentang ketekunan, tentang rasa malu ketika tidak bisa menjawab, tentang bagaimana menghadapi gangguan yang tidak direncanakan, dan tentang keberanian untuk tetap melanjutkan presentasi meskipun suasana hati sedang buruk.

Mungkin itulah bagian paling penting dari seluruh proses pagi itu. Bahwa belajar bukan hanya soal menemukan jawaban, tetapi juga tentang mengenali batas pengetahuan diri sendiri—dan pelan-pelan berani melampauinya. []

Diolah dari notulensi yang ditulis Pita

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *