Pagi itu, Senin 11 Mei 2026, halaman Salam sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Meja-meja kecil ditata berjajar seperti pasar mini yang hangat dan penuh warna. Di atasnya ada hasil riset anak-anak kelas 1 SD selama satu semester: poster, buku catatan, hasil karya tangan kecil yang dikerjakan dengan kesungguhan yang tidak kalah dari orang dewasa. Bau lem kertas bercampur aroma makanan buatan rumah mengambang di udara pagi.
Di antara keramaian itu, Helena Swastika Shilo Prakestari—yang lebih akrab dipanggil Shilo—datang bersama kakak-kakaknya dan ayahnya. Hari itu ia mendapat urutan presentasi keenam, mengikuti kesepakatan kelas bahwa siapa datang lebih awal, ia tampil lebih dulu.
Namun pagi itu Shilo tidak langsung tampak bersemangat. Wajahnya murung. Sesekali ia melihat ke arah pintu masuk, menunggu seseorang datang. Mamanya belum tiba. Di tengah riuh anak-anak lain yang mulai sibuk menata hasil riset, Shilo tampak menyimpan kecemasan kecil yang diam-diam besar bagi anak seusianya. Ia takut orang-orang tidak menyukai kue buatannya. Ia juga khawatir salah memberi uang kembalian saat jualan nanti.
Kecemasan anak kecil sering terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Di atas meja presentasinya, Shilo sebenarnya sudah menyiapkan semuanya dengan rapi. Ada poster kecil ukuran A5 di dalam akrilik bergambar dirinya dan kue putu ayu. Ada dua buku dokumentasi berisi catatan proses riset, lengkap dengan tulisan tangan dan rekam jejak percobaan yang telah ia lakukan. Di sampingnya berjajar tiga jenis putu ayu: putu ayu dengan topping kelapa, putu ayu tanpa topping, dan putu ayu ukuran besar.
Semuanya tampak seperti toko kue kecil yang dibuat dengan cinta. Shilo sudah lima kali melakukan praktik selama riset ini. Karena itu, ketika pengunjung, pembeli, atau MC bertanya, ia dapat menjelaskan dengan lancar. Dengan suara pelan namun mantap, ia bercerita tentang proses membuat putu ayu, tentang adonan, tentang telur, tentang kukusan.
Bagian yang paling ia sukai adalah memecahkan telur. Ada kegembiraan khas anak-anak ketika kulit telur retak dan isi kuningnya jatuh ke mangkuk. Hal sederhana yang bagi orang dewasa mungkin biasa saja, tetapi bagi anak kelas satu SD bisa menjadi pengalaman penuh rasa ingin tahu.
Meski begitu, ada satu bagian yang masih membuatnya takut: mengukus kue. Uap panas dari kukusan membuatnya belum berani bekerja sendiri. Ia masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk bagian itu.
Dalam lima kali percobaan, tidak semuanya berhasil. Pada praktik pertama, putu ayu buatannya bantat. Setelah dicari tahu, penyebabnya ternyata telur ayam kampung yang dipakai terlalu kecil sehingga adonan tidak mengembang sempurna.
Kegagalan pertama itu tidak membuat Shilo berhenti. Praktik kedua dan ketiga mulai menunjukkan hasil yang lebih baik. Namun menurut Shilo sendiri, praktik terbaik terjadi pada percobaan keempat dan kelima. Saat itu ia menggunakan resep dari Bu Utami, teman mamanya yang biasa menerima pesanan kue. Dengan rasa penasaran yang serius, Shilo meminta resep itu, lalu mencobanya sendiri di rumah. Dan berhasil.
Mungkin di situlah salah satu bentuk pendidikan paling sederhana namun penting bekerja: seorang anak belajar bahwa keberhasilan sering lahir dari mencoba lagi, bertanya kepada orang lain, lalu mempraktikkannya dengan tekun.
Menjelang jualan dibuka, Mama akhirnya datang. Perubahan wajah Shilo terlihat jelas. Anak yang tadi murung perlahan menjadi ceria. Ia mulai menikmati suasana. Bahkan diam-diam menikmati putu ayu buatannya sendiri sambil melihat orang-orang berdatangan ke mejanya.
Satu per satu kue mulai terjual. Ada momen yang membuat Shilo benar-benar sumringah: ketika Kinan, kakak kelas 2 SD, bolak-balik membeli putu ayu buatannya karena merasa rasanya enak. Pujian sederhana dari teman sebaya ternyata memiliki kekuatan besar bagi seorang anak.
Hari itu, bukan hanya kue yang sedang dijual Shilo. Ia sedang belajar menerima penilaian orang lain, belajar percaya pada hasil kerjanya sendiri, dan belajar bahwa rasa takut bisa perlahan hilang ketika ada dukungan di sekelilingnya.
Dalam sesi tanya jawab bersama Bu Umi dan Pak Bomo, Shilo menjawab dengan penuh senyum. Ia tampak lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya karena sebenarnya ia sudah beberapa kali latihan presentasi di kelas. Lalu datang pertanyaan yang paling disukai anak-anak: “Hasil jualannya mau dipakai untuk apa?” Dengan polos dan tanpa ragu, Shilo menjawab, “Buat beli mainan.”
Jawaban itu segera mengundang tawa hangat di sekitar halaman Salam. Tetapi justru di situlah keindahannya. Dunia anak-anak belum penuh bahasa pencitraan. Mereka belum belajar menyembunyikan keinginan kecilnya di balik kalimat besar.
Selama proses riset ini, para fasilitator seperti Mbak Audrey, Bu Umi, dan Bu Deby menjadi bagian penting dalam perjalanan Shilo. Di kelas, proses mentoring dilakukan dengan cara yang sederhana namun penuh perhatian. Setiap selesai mentoring, fasilitator memberikan catatan kecil dan stiker di buku anak-anak. Bagi orang dewasa, mungkin hanya stiker kecil. Namun bagi anak-anak, itu adalah tanda bahwa usaha mereka dilihat dan dihargai.
Orang tua Shilo pun merasakan sesuatu yang menarik selama proses riset berlangsung. Mereka tidak perlu mengejar-ngejar Shilo untuk praktik atau menulis laporan. Justru sebaliknya, Shilo yang sering mendesak orang tuanya agar segera mulai praktik lagi. Semangat itu muncul karena judul riset ini dipilih sendiri olehnya.
Ia memang menyukai putu ayu. Itulah pelajaran paling penting dari seluruh perjalanan ini: ketika anak diberi kesempatan mengikuti rasa sukanya sendiri, belajar tidak lagi terasa seperti kewajiban. Ia berubah menjadi petualangan yang dikerjakan dengan gembira.
Di penghujung acara, di tengah aroma kelapa kukus dan suara anak-anak yang berlarian di halaman Salam, Shilo tampak berdiri di belakang meja kecilnya dengan wajah yang jauh berbeda dari pagi tadi.
Tidak lagi murung. Tidak lagi cemas. Ia tersenyum sambil melihat orang-orang menikmati putu ayu buatannya—seolah hari itu ia baru saja menemukan bahwa hasil kerja tangan kecilnya ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. []
Diolah dari notulensi Puput
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply