Pagi itu, ruang Togog Bilung dipenuhi suasana yang hidup. Teman-teman kelas 4 dan 5, para fasilitator, serta orang tua duduk memenuhi ruangan untuk menyaksikan presentasi riset Amoroso Nuladdarpa—yang akrab dipanggil Aros. Di tengah suasana yang ramai itu, Aros tampak cukup tenang. Tidak terlihat gugup berlebihan. Dengan sikap sederhana namun percaya diri, ia berdiri di depan audiens untuk mempresentasikan risetnya yang berjudul Pembibitan Durian.

Aros membuka presentasi dengan menyapa semua yang hadir dan memperkenalkan dirinya. Menariknya, media presentasi berupa Canva PPT dibuat sendiri olehnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses riset yang dijalani bukan hanya tentang tanaman durian, tetapi juga tentang belajar menyusun dan menyampaikan pengetahuan kepada orang lain.
Sejak awal, Aros menjelaskan proses risetnya secara runtut. Ia menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Foto-foto dan gambar yang ditampilkan membantu audiens mengikuti alur cerita penelitiannya. Meski begitu, ada satu bagian yang masih tampak membuatnya ragu, yaitu ketika membahas perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil.
Riset ini bermula dari rasa penasaran Aros tentang bagaimana cara menanam durian agar bisa menghasilkan buah yang enak dan banyak. Dari rasa penasaran sederhana itulah proses belajar dimulai. Ia membeli durian Medan di Lazorta, lalu mencari berbagai informasi melalui Google dan YouTube mengenai cara menyemai biji durian. Setelah itu, ia mencoba menyemai biji hingga berkecambah, memindahkannya ke media tanam, lalu mengamati pertumbuhannya dari waktu ke waktu.
Namun riset Aros tidak berhenti pada proses menanam dari biji saja. Ia mulai mengenal cara perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif seperti stek, cangkok, dan okulasi. Bersama Mbah Kakung di rumah, Aros mencoba praktik mencangkok pohon durian secara langsung. Pengalaman belajar itu semakin kaya ketika ia bersama teman-teman kelas 4 dan fasilitator mengunjungi Dinas Pertanian. Di sana mereka belajar sekaligus mempraktikkan stek, cangkok, dan sambung pucuk.
Dari proses tersebut, Aros menemukan bahwa tumbuhan dapat berkembang biak melalui dua cara utama: generatif menggunakan biji, dan vegetatif melalui teknik-teknik tertentu. Pengetahuan ini menjadi salah satu temuan penting dalam risetnya.
Meski demikian, perjalanan belajar Aros tidak selalu mudah. Ia menghadapi tantangan ketika harus membaca berbagai sumber literatur tentang perkembangbiakan tumbuhan. Buku-buku yang tersedia terasa cukup sulit dipahami. Ia masih membutuhkan bantuan orang lain untuk menjelaskan materi agar lebih mudah dimengerti.
Di tengah suasana presentasi yang cukup serius, beberapa jawaban Aros justru menghadirkan gelak tawa. Ketika Ave bertanya, “Kenapa dulu kamu tidak suka durian, kok sekarang jadi suka?” Aros menjawab singkat dengan wajah datar, “Karena aku berevolusi.” Jawaban spontan itu langsung mencairkan suasana ruangan.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Saat ditanya tentang jenis akar pohon durian, Aros menjawab dengan percaya diri bahwa durian memiliki akar tunggang. Namun ketika Bu Issana bertanya apakah biji durian termasuk dikotil atau monokotil, Aros menjawab “monokotil” dengan nada ragu-ragu. Keraguan itu menunjukkan bahwa proses belajarnya masih terus berkembang.
Ada pula momen lucu ketika Bu Ochie bertanya siapa yang akan merawat pohon durian jika ditanam di Salam. Dengan santai Aros menjawab, “Hujan.” Jawaban-jawaban seperti ini memperlihatkan karakter Aros yang tenang, polos, namun juga memiliki selera humor khas anak-anak.
Dalam diskusi yang lebih mendalam, Pak Tandang bertanya bagaimana cara agar pohon durian bisa cepat berbuah tanpa harus menunggu hingga lima belas tahun. Aros mencoba menjawab bahwa mungkin dengan cara mencangkok tanaman bisa lebih cepat berbuah. Namun ketika ditanya kembali apakah bibit kecil miliknya sudah bisa dicangkok, Aros tampak bingung dan belum mampu menjawab. Momen ini menjadi bagian penting dari proses belajar: keberanian untuk mengakui bahwa dirinya belum tahu.
Mas Andre kemudian membantu menjelaskan kemungkinan menggunakan teknik sambung pucuk dengan mencari pohon induk yang tepat sebagai batang bawah. Dari sini terlihat bahwa presentasi bukan hanya ruang untuk menunjukkan hasil belajar, tetapi juga tempat bertemunya pengetahuan bersama.
Dukungan sosial di sekitar Aros juga terasa sangat kuat. Teman-temannya aktif bertanya dan memberi perhatian pada proses risetnya. Orang tua turut memfasilitasi proses belajar di rumah, termasuk saat praktik mencangkok bersama Mbah Kakung. Para fasilitator pun mendukung dengan mengajak anak-anak belajar langsung ke Dinas Pertanian agar pengalaman belajar tidak hanya berhenti pada teori.
Melalui riset ini, Aros mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia tanaman, terutama tanaman buah. Ia belajar bahwa menanam membutuhkan kesabaran. Dari proses menyemai hingga muncul kecambah diperlukan waktu yang tidak sebentar. Ia juga mulai belajar tentang pupuk, perawatan tanaman, hingga mengenali hama yang dapat mengganggu pertumbuhan.
Riset ini sekaligus mempertemukan Aros dengan pelajaran IPAS secara lebih nyata. Materi-materi yang sebelumnya hanya ada di buku mulai terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun dalam prosesnya, Aros masih membutuhkan banyak stimulasi untuk menggali pengetahuan lebih dalam. Rasa ingin tahunya sering kali muncul setelah mendapat dorongan dari fasilitator atau pertanyaan dari orang lain.
Walaupun proses risetnya belum maksimal, perjalanan belajar Aros memperlihatkan sesuatu yang penting: belajar bukan hanya soal mengetahui jawaban yang benar, tetapi juga tentang keberanian mencoba, kesediaan mengakui kebingungan, dan kesabaran merawat sesuatu yang tumbuh perlahan. Seperti bibit durian yang ia tanam, rasa ingin tahu itu mungkin masih kecil hari ini, tetapi suatu saat bisa tumbuh menjadi pohon pengetahuan yang kuat dan berbuah banyak. []
Dari notulensi: Ariani Setyaningrum
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply