karya anak salam

Gentza dan Es Lumut yang Mengajarkannya Berani Mencoba

Suasana ruang Bagong pagi itu terasa hangat dan penuh semangat. Presentasi kelas 2 SD SALAM semester dua dibuka oleh para MC, Aksara, Sada, dan Bagas, yang dengan antusias menyemangati teman-teman mereka. Di antara peserta yang akan tampil hari itu, Gentza Rakan Sultan Iskandar mendapat kesempatan pertama untuk mempresentasikan hasil risetnya. Dengan penuh percaya diri, Gentza maju ke depan untuk berbagi cerita tentang perjalanannya membuat es lumut.

Meski salam pembukanya terdengar sedikit terbata-bata, Gentza tetap berbicara dengan suara lantang dan penuh semangat. Ia menggunakan presentasi PowerPoint untuk membantu menjelaskan proses riset yang telah dilakukannya. Satu per satu, Gentza menceritakan lima kali percobaan yang ia lakukan dalam membuat es lumut menggunakan bahan yang berbeda-beda, mulai dari jelly instan berbagai rasa, daun cincau hijau, hingga daun cincau hitam kering.

Ide riset ini muncul dari kesukaan Gentza terhadap es lumut yang rasanya manis. Dari rasa suka itu, tumbuh rasa ingin tahu tentang bagaimana cara membuat minuman tersebut. Dalam prosesnya, Gentza tidak hanya menemukan keberhasilan, tetapi juga mengalami kegagalan. Salah satu percobaan yang tidak berhasil adalah saat ia menggunakan daun cincau hitam kering yang dicampur tepung tapioka dalam jumlah tertentu. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Justru ia menceritakannya dengan jujur sebagai bagian dari pengalaman belajar.

Dari seluruh percobaan yang dilakukan, Gentza menilai bahwa es lumut yang menggunakan jelly instan adalah yang paling mudah dibuat. Selain itu, penggunaan daun cincau hijau juga termasuk mudah karena tidak memerlukan proses perebusan. Setelah bahan diproses, ia hanya perlu menunggu hingga jadi. Sebaliknya, penggunaan daun cincau hitam kering menjadi tantangan terbesar karena membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang lebih rumit.

Menariknya, meskipun percobaan menggunakan daun cincau hitam merupakan yang paling sulit, justru itulah bagian yang paling disukai Gentza. Alasannya sederhana dan khas anak-anak. Saat harus menunggu daun cincau direbus dalam waktu lama, ia bisa mengisi waktu dengan menonton televisi. Baginya, proses panjang itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Presentasi Gentza ditutup dengan slide bertuliskan “Tamat”. Namun, penutupan itu menjadi lebih meriah ketika secara spontan Gentza dan teman-temannya menyanyikan lagu, “Tamatlah sudah al kisah kami, terima kasih dan jumpa lagi.” Ruangan pun dipenuhi tawa dan suasana gembira.

Pada sesi tanya jawab, Gentza menunjukkan sikap yang jujur dan apa adanya. Ketika ditanya mengapa memilih riset es lumut, ia menjawab singkat bahwa ia menyukai rasanya yang manis. Saat ditanya bagian mana yang paling disukainya, Gentza menjawab bahwa ia senang merebus daun cincau hitam karena prosesnya lama sehingga ia bisa menonton TV sambil menunggu.

Pertanyaan dari orang tua dan fasilitator juga dijawab dengan percaya diri. Ketika Pak Tanto bertanya apakah ia sudah puas dengan hasil risetnya, Gentza menjawab bahwa ia belum puas karena masih ingin menikmati lebih banyak es lumut yang dibuatnya. Bahkan ketika pembicaraan mengarah pada kemungkinan menjual hasil produksinya, Gentza dengan polos mengatakan bahwa jika dagangannya tidak habis, sisanya akan dimakan sendiri.

Jawaban spontan itu menjadi salah satu momen yang paling mengundang senyum dari para peserta yang hadir. Di balik candaan tersebut, tampak bahwa Gentza mulai belajar melihat hasil karyanya sebagai sesuatu yang bernilai dan bahkan memiliki peluang untuk dijual.

Menjelang akhir sesi, Gentza juga mengungkapkan rencana riset berikutnya. Ia tertarik untuk mencoba menetaskan telur. Ketika ditanya siapa narasumbernya nanti, ia menjawab dengan lucu bahwa narasumbernya adalah “dikurung sendiri”. Jawaban sederhana yang menunjukkan cara berpikir kreatif dan spontan khas anak-anak.

Selama presentasi berlangsung, dukungan dari teman-teman membuat Gentza semakin berani berbicara di depan umum. Ia tidak hanya belajar tentang cara membuat es lumut, tetapi juga belajar membangun kepercayaan diri, bersikap jujur terhadap hasil percobaan, serta berani mengakui kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Presentasi Gentza menunjukkan bahwa sebuah riset sederhana dapat menjadi ruang yang kaya untuk bertumbuh. Dari mencampur bahan, menunggu proses, mengalami kegagalan, hingga menjawab pertanyaan di depan banyak orang, Gentza sedang belajar bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari keberhasilan semata. Kadang-kadang, justru dari percobaan yang belum berhasil, muncul pengalaman yang paling berkesan dan cerita yang paling menarik untuk dibagikan.

Dari notulensi: Ika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *