karya anak salam

Atar dan Segelas Beras Kencur: Belajar Meracik Warisan Nusantara

Suasana Ruang Bagong SALAM Yogyakarta pada Selasa pagi, 12 Mei 2026, terasa hangat ketika Nandana Akhtar Parivara Atar, Kelas 5 SD SALAM atau yang akrab dipanggil Atar, mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul “Membuat Jamu Beras Kencur.” Di hadapan sekitar dua puluh peserta, didampingi kedua orang tuanya, Lanang dan Siwi, Atar berbagi pengalaman mempelajari salah satu minuman tradisional Indonesia yang telah diwariskan turun-temurun.

Ketertarikan Atar pada jamu beras kencur membawanya pada proses belajar yang tidak hanya mengenalkan bahan-bahan alami, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam risetnya, Atar melakukan dua kali praktik pembuatan jamu. Dari kedua percobaan tersebut, ia menemukan bahwa hasil praktik kedua lebih sesuai dengan seleranya. Salah satu perbedaannya adalah penggunaan bahan dan cara pengolahan yang berbeda dibandingkan praktik pertama.

Pada awal presentasi, Atar menjelaskan bahwa jamu merupakan minuman herbal khas Indonesia yang dibuat dari berbagai tanaman obat. Jamu dikenal sebagai minuman kesehatan yang dipercaya dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, mencegah penyakit, dan mendukung proses penyembuhan secara alami. Khusus untuk jamu beras kencur, Atar mempelajari bahwa minuman ini memiliki manfaat untuk menambah nafsu makan dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Dalam proses pembuatannya, Atar menggunakan beberapa bahan utama, yaitu beras, kencur, gula merah, gula putih, jahe, dan daun pandan. Langkah pertama yang dilakukan adalah merendam beras, mengupas serta memotong kencur dan jahe. Setelah itu, bahan-bahan tersebut dihaluskan. Menariknya, Atar mencoba dua metode yang berbeda. Pada praktik pertama ia menggunakan ulekan untuk menumbuk bahan, sedangkan pada praktik kedua ia memanfaatkan blender.

Dari pengalamannya, Atar menyimpulkan bahwa penggunaan blender menghasilkan tekstur yang lebih halus dibandingkan metode tumbuk. Meski demikian, ia mengaku belum dapat merasakan perbedaan rasa yang signifikan antara hasil yang diblender dan yang ditumbuk. Pengalaman membandingkan dua teknik ini memberinya kesempatan untuk memahami bahwa alat yang digunakan dalam proses memasak dapat memengaruhi hasil akhir suatu produk.

Selain mengolah bahan utama, Atar juga belajar membuat juruh gula aren, yaitu larutan gula aren yang dibuat dengan cara memanaskan gula dalam panci hingga mencair. Larutan ini kemudian dicampurkan ke dalam hasil saringan beras kencur untuk memberikan rasa manis yang khas. Menurut Atar, penggunaan juruh gula aren membantu membuat jamu menjadi lebih nikmat saat diminum.

Dalam sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan menarik muncul dari audiens. Salah satu pertanyaan menyinggung kesulitan yang dialami selama proses riset. Atar bercerita bahwa ketika melakukan praktik kedua di Jakarta, ia mengalami kesulitan mencari bahan yang disebut sunti. Karena bahan tersebut tidak ditemukan, ia menggantinya dengan jahe. Jawaban ini kemudian memunculkan rasa ingin tahu baru mengenai fungsi masing-masing bahan dan alasan penggantiannya, sebuah pertanyaan yang dapat menjadi bahan penelitian lanjutan di masa depan.

Ketika ditanya mengenai cara terbaik menikmati jamu beras kencur, Atar menjawab dengan yakin bahwa ia lebih menyukai jamu yang disajikan dingin setelah terlebih dahulu disimpan di dalam kulkas. Jawaban sederhana ini menunjukkan bahwa selain memahami proses pembuatannya, ia juga mulai mengenali preferensi rasa yang sesuai dengan dirinya.

Ada pula pertanyaan mengenai daya tahan jamu beras kencur. Atar mengaku belum mengetahui jawabannya karena setiap jamu yang dibuat langsung habis diminum. Kejujuran ini justru memperlihatkan sikap ilmiah yang penting dalam sebuah riset: mengakui hal-hal yang belum diketahui dan membuka peluang untuk mencari jawabannya di kemudian hari.

Melalui riset ini, Atar tidak hanya belajar membuat minuman tradisional, tetapi juga belajar mengamati proses, membandingkan metode, mengenali manfaat bahan alami, dan berani membagikan hasil temuannya kepada orang lain. Dari segelas jamu beras kencur, Atar memperoleh pengalaman berharga tentang warisan budaya Indonesia sekaligus keterampilan praktis yang dapat terus dikembangkan di masa mendatang.

Riset sederhana ini mengingatkan bahwa pengetahuan sering kali tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari dapur rumah, dari rempah-rempah yang mudah ditemukan, hingga dari keberanian seorang anak untuk mencoba, bertanya, dan berbagi cerita tentang apa yang telah dipelajarinya.

Dari Notulensi: Tanpa nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *