Pagi itu, 11 Mei 2026, Lapangan Sanggar Anak Alam (SALAM) berubah menjadi ruang pameran yang penuh energi. Di tengah keriuhan anak-anak kelas 1 SD yang sibuk menyiapkan meja lapaknya, Satmika Dewani—atau yang akrab disapa Mika—datang dengan langkah mantap. Didampingi Sika dan Ibunya, ia membawa perlengkapan risetnya: Jelly Tusuk.
Semester kedua ini menjadi babak baru bagi Mika. Jika sebelumnya ia masih sering malu-malu, kali ini ia terlihat sigap menata wadah jelly dan menyiapkan uang receh untuk kembalian. Tak ada lagi sosok Mika yang bersembunyi di balik pelukan Ibu; hari itu, ia tegak berdiri di belakang lapaknya, siap menyambut pembeli.
Keinginan Mika untuk meneliti jelly tusuk bermula dari rasa penasaran saat menonton video di YouTube. Ia ingin menciptakan jelly yang memiliki tekstur kokoh sehingga bisa ditusuk dengan sempurna. Namun, perjalanan menuju “hasil akhir” tidaklah instan. Mika melakukan lima kali percobaan dengan berbagai dinamika: Percobaan Pertama: Dilakukan bersama Papih. Rasanya sudah pas, namun teksturnya masih terlalu lembek. Percobaan Kedua & Ketiga: Menjadi ruang belajar tentang ketelitian. Mika belajar pentingnya kebersihan alat setelah cetakannya berjamur, serta belajar tentang presisi posisi cetakan agar bentuk jelly tidak terbalik. Percobaan Keempat & Kelima: Mika menemukan kunci sukses. Dengan mencampur dua merek jelly berbeda berdasarkan referensi yang ia cari sendiri di YouTube, ia berhasil mendapatkan tekstur yang kokoh.
Satu hal yang luar biasa adalah prinsipnya: meskipun banyak referensi menunjukkan warna-warna mencolok, Mika bersikeras tidak menggunakan pewarna tambahan karena ia ingin produknya lebih sehat.
“Ini Risetku”: Satu kalimat yang menjadi ruh riset Mika semester ini adalah, “Ini risetku.” Kalimat itu sering ia ucapkan saat menolak bantuan Ibu atau gangguan Sika di dapur. Mika ingin memiliki kontrol penuh atas proses belajarnya. Ia hanya meminta bantuan saat harus menuang cairan jelly panas ke cetakan—sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa ia mulai memahami batasan keamanan diri tanpa kehilangan kemandiriannya.
Kemandirian ini pun merambah ke aktivitas sehari-hari. Mika kini berani pergi ke warung sendiri, menyebutkan belanjaannya dengan lantang, hingga membawa tas belanjanya sendiri. Proses riset telah mengubahnya menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Saat sesi presentasi dimulai bersama fasilitator Bu Umi dan Pak Bomo, sebuah momen kunci terjadi. Ketika ditanya siapa yang ingin maju lebih dulu antara dirinya atau Sika, Mika langsung mengangkat tangan tanpa ragu.
Di depan para penguji dan tamu, Mika menjelaskan dengan lancar berbagai rasa yang ia tawarkan: leci, cokelat, stroberi, dan cincau. Ia melayani pembeli dengan luwes, menghitung kembalian dengan teliti, dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Hubungannya dengan Sika pun mendewasa; jika dulu mereka sering berebut peran, kini Sika hadir sebagai pendukung dan pengingat yang hangat bagi kakaknya.
Melalui sebatang jelly tusuk seharga Rp3.000, Mika sebenarnya sedang meramu nilai-nilai kehidupan yang jauh lebih besar. Ia belajar tentang higienitas, urutan logika dalam memasak, prinsip kesehatan, hingga seni berinteraksi dengan orang lain.
Sebagai orang tua, Wahyu Lestari mencatat bahwa perkembangan Mika adalah bukti nyata bahwa ketika seorang anak diberi kepercayaan dan ruang, ia akan tumbuh dengan kesadaran dan tanggung jawab yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Mika tidak hanya berhasil menjual jelly, ia telah berhasil memiliki proses belajarnya sendiri.
Disarikan dari Notulensi Wahyu Lestari
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply