Alat Tulis

Sabak adalah buku tulis kuno yang digunakan untuk menulis sebelum adanya buku tulis digunakan secara luas. Sabak terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak lempengan segi empat dan ditulisi dengan menggunakan grip (mirip pensil). Sebelum digunakannya buku tulis yang terbuat dari kertas, sabak merupakan alat tulis wajib yang dimiliki siswa sekolah di Indonesia pada tahun 1960-an.

Alat tulis “Sabak” pada tahun 60-an

untuk alat bantu belajar tulis menulis. Sabak bukanlah piranti menyimpan berkas permanen. Alat ini hanya digunakan sementara waktu untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru yang kala itu menuntut siswa harus punya kemampuan mengingat. Setelah selesai, sabak dapat dihapus dan ditulisi dengan materi pelajaran lainnya, begitu seterusnya. Di era serba digital, keberadaan sabak sudah langka dan hanya dapat ditemukan di museum diantaranya adalah Museum Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Apa saja yang dibutuhkan seorang siswa atau siswi kelas 4 SD saat bersekolah di era 2000-an? Pertama, buku tulis sesuai mata pelajaran dan tidak lupa buku cetaknya. Kedua, tentu saja alat tulis yang disimpan di kotak pensil yang cukup besar dan komplit, lengkap dengan orotan, penyimpan penghapus bahkan cermin. Ketiga, tidak lupa tas koper yang akrab dengan sebutan ‘tas geret’ untuk menyimpan semuanya agar tidak berat dan menyakitkan punggung.

Tapi bagaimana dengan generasi 50-an? Apakah sekomplit itu? Bila tahun 2000-an tas koper menjadi tas idaman semua siswa atau siswi berbeda sekali dengan keadaan kurang lebih lima puluh tahun yang lalu, sangat simpel dan sederha, mereka hanya butuh sabak dan grip.

Sabak dan grip ini dua hal yang harus dibawa atau bahkan untuk ke sekolah hanya perlu dua hal ini saja dan tidak bisa terpisahkan. Sabak dan grip merupakan alat tulis zaman dahulu, yaitu ketika penjajahan kolonial Belanda masih berlangsung di Indonesia, ketika SR (Sekolah Rakyat).

Sehingga murid-murid zaman dahulu tak memiliki buku catatan karena keterbatasan media, sabak ini digunakan agar lebih memahami materinya. Buku memang sudah ada di zaman ini, namun harganya masih terbilang cukup mahal di Indonesia. Sehingga sabak dan grip lah jalan pintasnya.

Menulis di sabak ini tidak terlalu susah karena terdapat garis yang akan membantu kita dalam menulis, jadi dapat dijamin tulisan kita akan lebih rapi. Untuk membersihkan sabak kita cukup mencucinya dengan air atau menggosoknya dengan arang. Sabak bisa untuk menulis, berhitung atau menggambar. Guru memberi nilai dengan kapur pada sabak, lalu anak-anak menempelkan pada pipi mereka. Cukup unik memang proses pembelajarannya?

Bila di era modern seperti saat ini mungkin seperti tab, kita mengetahui bahwa anak zaman sekarang membawa tab tak lagi menjadi barang mewah. Bahkan tab menjadi media pembelajaran.

ipad

Kalau mengingat alat sekolah jaman dahulu khususnya alat tulis, sungguh sangat penting untuk dikenang—jika dibandingkan dengan alat tulis masa kini. Anak sekolah jaman sekarang membawa tas yang sarat dengan buku-buku pelajaran dan buku tulis untuk mencatat atau mengerjakan tugas/ulangan. Bahkan ada sekolah yang mengharuskan siswanya untuk memiliki note book (laptop) sebagai kelengkapan sekolah. Bagaimana dengan anak sekolah jaman dahulu?

Saya pernah mengalami sekolah menggunakan alat tulis yang disebut dengan sabak. Nama itu mungkin sangat asing di telinga anak sekolah jaman sekarang, tetapi tidak bagi yang bersekolah dan duduk di sekolah dasar pada era 60-an. Sabak dan grip merupakan alat tulis yang lazim digunakan sebagai ganti buku tulis pada saat itu. Mungkin waktu itu keberadaan buku tulis sangat langka atau kalau ada harganya juga mahal.

Cara menggunakan sabak

Sabak harus selalu berdampingan dengan grip. Sabak sebagai media untuk menulis sedangkan grip adalah alat tulisnya maka sampai sekarang tempat menyimpan pensil atau balpen disebut doosgrip, seharusnya kan doospen.

Jadi kalau mengerjakan tugas atau ulangan ya sabak itulah yang digunakan. Dengan menggoreskan grip yang runcing di permukaan sabak, akan menghasilkan bekas seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari pensil. Menulis huruf, membuat angka pada pelajaran berhitung dan menggambarpun dengan menggunakan sabak dan grip. Bagaimana kalau mencatat? Itulah kelebihan anak sekolah jaman dahulu. Tidak mempunyai catatan, tetapi memahami pelajaran. Ingatan dan pendengaran sangat memegang peranan. Saat diterangkan guru mendengarkan dengan seksama dan menyimpan semua penjelasan guru dalam ingatan sebagai catatan.

Alat tulis yg dibuat dari batu berbentuk papan tipis diberi bingkai untuk ditulisi, pada sekitar tahun 1949 ,kebanyakan murid menulis di atas sabak. dulu nama sekolah nya bukan SD (Sekolah Dasar ) tapi SR ( SekolahRakyat)

Alat tulis antik alias SABAK , dengan grip untuk menulisnya. Zaman dulu memang serba terbatas dan langka, sampai buku tulis pun susah didapat sehingga sarana belajar pun apa adanya. Sabak ini telah menjadi saksi bisu atas perkembangan dunia pendidikan di tanah air ini, sepatutnya dirawat sebaik baiknya. Sabak harus selalu berdampingan dengan grip.

Sabak sebagai media untuk menulis sedangkan grip adalah alat tulisnya maka sampai sekarang tempat menyimpan pensil atau balpen disebut doosgrip, seharusnya kan doospen.

Jadi kalau mengerjakan tugas atau ulangan ya sabak itulah yang digunakan.  Dengan menggoreskan grip yang runcing di permukaan sabak, akan menghasilkan bekas seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari pensil.

Menulis huruf, membuat angka pada pelajaran berhitung dan menggambarpun dengan menggunakan sabak dan grip. Bagaimana kalau mencatat? Itulah kelebihan anak sekolah jaman dahulu. Tidak mempunyai catatan, tetapi memahami pelajaran.

Ingatan dan pendengaran sangat memegang peranan. Saat diterangkan guru mendengarkan
dengan seksama dan menyimpan semua penjelasan guru dalam ingatan sebagai catatan.

kalo sekarang, menyerupai IPAD, tapi analog.