PENDIDIKAN KRITIS

Pendidikan kritis lahir pada dekade 20-an dan mulai berkembang pesat sekitar dekade 70-an. Awalnya merupakan pemikiran pendidikan progressif dari George S. Counts. Beliau mengemukakan tiga masalah vital pada masa itu, dan kemudian dari masalah-masalah tersebut lahirlah yang dinamakan pendidikan kritis.

Masalah pertama, mengkritik masalah pendidikan konservatif, kedua, memberikan ruang terhadap peranan guru untuk menjadikan pendidikan sebagai agen dari perubahan sosial dan yang terakhir yaitu masalah penataan ekonomi sebagai salah satu syarat untuk perbaikan pendidikan.

Pendidikan kritis (critical pedagogy)  madzhab pendidikan yang tidak netral serta meyakini adanya muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan. Aliran ini dalam wacana/diskursus pendidikan disebut juga “aliran kiri” karena orientasi politiknya yang berlawanan dengan madzhab liberal dan konservatif. Pendidikan kritis meyakini  melalui proses yang membebaskan serta dilaksanakan melalui pemberdayaan dalam rangka membangkitkan kesadaran kritis para siswa belajar. Pendidikan kritis bukan pendidikan yang mengambil jarak dengan masyarakat, tetapi yang menyatu dengan masyarakat dan memihak pada rakyat yang tertindas.
Suatu pendidikan dikatakan pendidikan kritis apabila pendidikan tersebut menjadi arena untuk melakukan perlawanan terhadap politik ideologi yang berkuasa. Pendidikan ini menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada.

Pendidikan Kritis merupakan sebuah aliran pemikiran alternatif, setelah kejenuhan menghadapi dunia baru yang terlampau didominasi oleh pemikiran positivistik, yang melahirkan pola masyarakat yang matrealistik dan kapitalistik. Secara sederhana asumsi tentang globalisasi mampu mengoyak dan dapat mengubah tata kehidupan ekonomi, politk, sosial, budaya dengan sangat pasti proses pendidikan di abad 21 ini.

Pendidikan baik teori maupun praksisnya perlu meninjau kembali posisinya di dalam krisis global dewasa ini, proses pendidikan merupakan proses pemanusiaan termasuknya di dalam membentuk dan mengarahkan perkembangan manusia, dalam menghadapi krisis global diperlukan pendidikan kritis yang mampu mempersiapkan manusia didalam perkembangan globalisasi.

Pendidikan kritis merupakan arena menanamkan kesadaran bahwa terdapat penindasan struktur yang membuat tidak adanya pembebasan—maka proses pendidikan harus pencerahan—pendidikan perlu dikembangkan sebagai solusi memberantas korupsi secara komprehensif dan struktural. Dalam pendidikan kritis, peserta didik akan bersikap kritis terhadap struktur yang menindas, baik yang menindas dunia ide maupun praktik sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

IVAN ILLICH

Menurut Illich, Sekolah merupakan sarana umum yang palsu, sekilas memang sekolah memberi kesan terbuka terhadap semua orang yang datang ke sekolah. Tetapi dalam kenyataannya sekolah hanya terbuka kepada mereka yang terus-menerus memperbarui surat kepercayaan mereka. Maka Sekolah di ibaratkan seperti jalan tol, bagi mereka yang mampu membayar biaya sekolah, maka mereka akan dengan leluasa masuk pada pendidikan di sekolah dan menikmatinya, tetapi bagi mereka yang tidak mampu membayar, maka mereka tidak ada kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah, ini diakibatkan karena mahalnya biaya pendidikan.

Karena mahalnya biaya sekolah inilah, kemudian Ivan Illich berharap adanya sebuah demokrasi dalam memperoleh pendidikan, dimana pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan, baik kaya ataupun miskin. Sejenak mari kita telaah anak-anak usia sekolah dasar yang tertampung dan dapat mengenyam pendidikan di beberapa negara.

Menurut Illich sistem pendidikan yang baik dan membebaskan harus mempunyai tujuan, yaitu:

Pendidikan harus memberi kesempatan kepada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat.

Pendidikan harus mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya.

Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan.

Dari tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan pendidikan bagi Illich adalah terjaminnya kebebasan seseorang untuk memberikan Ilmu dan mendapatkan Ilmu. Karena memperoleh pendidikan dan Ilmu adalah hak dari setiap warga negara dimanapun.

Untuk lebih kongkritnya ide-ide pembebasan Ivan Illich dalam dunia pendidikan tertuju pada sasaran-sasaran sebagai berikut : Untuk membebaskan akses pada barang-barang dengan menghapus kontrol yang selama ini di pegang oleh orang atau lembaga atas nilai-nilai pendidikan mereka. Untuk membebaskan usaha membagikan keterampilan dengan menjamin kebebasan mengajar atau mempraktekkan ketrampilan itu menurut permintaan. Untuk membebaskan sumber-sumber daya yang kritis, dan kreatif yang dimiliki rakyat dengan mengembalikan kepada masing-masing orang, kemampuannya dalam mengumpulkan orang dan mengadakan pertemuan. Suatu kemampuan yang kini makin dimonopoli oleh lembaga-lembaga yang menganggap diri berbicara atas nama rakyat. Untuk membebaskan individu dari kewajiban menggantungkan harapan-harapan pada jasa-jasa yang diberikan oleh profesi mapan manapun seperti sekolah, dengan memberikan kesempatan belajar dari pengalaman teman sebayanya dan mempercayakannya kepada guru, pembimbing, penasehat yang dipilihnya sendiri. Upaya membebaskan masyarakat dari kecenderungan menganggap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan mau tidak mau akan menghapus perbedaan ekonomi, pendidikan, dan politik yang menjadi tumpuan stabilitas tatanan dunia dan stabilitas banyak bangsa sekarang ini.

Dari poin-poin di atas dapat kita simpulkan bahwa Illich mencoba membebaskan masyarakat dari anggapannya tentang sekolah sebagai sarana satu-satunya untuk memperoleh pendidikan. Ilmu pengetahuan bagi Illich, tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah, akan tetapi dapat diperoleh dari luar sekolah seperti lingkungan sekitar dan alam. Pada akhirnya, seorang siswa hanya bisa menuruti apa yang telah dijajakan oleh sekolah berupa ilmu pengetahuan, tanpa harus tahu dari mana dan bagimana ilmu pengetahuan tersebut.

Pada akhirnya dapat kita simpulkan, bahwa gagasan demokrasi Ivan Illich hanya dalam tataran demokrasi dalam memperoleh pendidikan, karena kondisi obyektif masyarakat Amerika Latin saat itu telah mengalami diskriminasi dalam memperoleh pendidikan.

POULE FREIRE

Selama ini kita dan dunia mengenal Paulo Freire sebagai tokoh pendidikan kritis. Dengan berbagai karyanya tentang pendidikan kritis, menjadikan kita semakin tidak ragu bahwa Freire benar-benar sebagai tokoh pendidikan kritis. Paulo Freire dikatakan sebagai tokoh pendidikan kritis karena pemikirannya yang menolak pendidikan sebagai media pengukuhan sistem ideologi, politik, dan ekonomi yang dominan dengan teori perlawanannya bahwa pendidikan yang ada adalah pendidikan model bank, dimana pendidikan hanya sebuah transfer ilmu pengetahuan. Bagi Freire pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menciptakan tatanan hidup yang baru, dinamis dan mensejahterakan semua lapisan masyarakat.

Berangkat dari konsep tentang manusia, Freire mengemukakan bahwa filsafat pendidikan bertumpu pada keyakinan bahwa manusia secara fithrah mempunyai kapasitas untuk mengubah nasibnya. Dengan demikian, tugas utama pendidikan sebenarnya adalah mengantarkan peserta didik menjadi subjek. Untuk mencapai tujuan ini, proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakan ganda: meningkatkan kesadaran kritis peserta didik dan sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung.

Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap “the dominant ideology” ke arah transformasi sosial. Dengan demikian tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, dekontruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Ini lahir karena adanya sistem dominan yang mengabaikan aspirasi rakyat kecil lagi tertindas sehingga tidak tercipta tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera.

konsep Paulo Freire yaitu Problem Possing Education (pendidikan hadap masalah). Karena selama ini gaya mengajar yang kita lihat di persekolahan adalah guru cenderung untuk memberi perintah kepada peserta didik dan memberikan rumus-rumus yang di anggap tepat dan dipandang cocok menurut guru. Guru memainkan peran otoriter. Peranan guru yang otoriter ini pada dasarnya merampas kebebasan peserta didik untuk mengembangkan cara berpikir kritis dan reflektif. Untuk menghindari gaya mengajar tersebut, makaFreire mengajukan gaya mengajar dengan menerapkan konsep tersebut.

MANSOUR FAKIH

Menurut Mansour Fakih pendidikan kritis adalah pendidikan yang mengarahkan pendidikan untuk melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan ke arah transformasi sosial. Pendidikan kritis adalah pendidikan yang berusaha menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis segenap potensi yang di miliki oleh peserta didik secara bebas dan kritis untuk mewujudkan proses transformasi sosial.

Pendidikan kritis adalah pendidikan yang menerapkan pola kritis, kretif dan aktif kepada para peserta didik dalam menempuh proses pembelajaran. Dengan kata lain, pendidikan kritis adalah suatu proses pendidikan yang hendak memanusiakan kembali manusia yang telah mengalami dehumanisasi karena adanya struktur dan sisitem yang tidak adil. Pola pendidikan kritis adalah pendidikan yang lepas di belenggu internal kelembagaan, hegemoni sosial tertentu atau terstruktur untuk mempertahankan stabilitas politik, dan ekonomi tertentu dari suatu sisitem. Pendidikan bukan merupakan reproduksi sosial, tetapi produksi sosiali. Pendidikan bukan untuk melahirkan manusia yang jinak sesuai dengan kondisi sistem sebagaimana yang berlangsung sepanjang sejarah nasional Indonesia. Pendidikan adalah hak manusia untuk meningkatkan kedewasaan dan kemandirian dalam rangka pengabdian kepada Tuhan YME.

Pendidikan kritis pada dasarnya merupakan kelanjutan dari gerakan pembebasan dari berbagai sudut pandang keilmuan. Maka dalam perspektif pendidikan kritis, pembebasan dan kritis bukanlah dua hal yang bisa dipisahkan

Dari 3 pemikiran tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan kritis banyak dipandang sebagai aliran pemikiran pendidikan yang hanya melontarkan kritik sehingga selalu dicap anarki, memang demikian pendidikan kritis konsentrasi pada persoalan marjinalisasi masyarakat yang terampas hak-haknya oleh masyarakat borjuis (pemodal). Epistemologi pemikiran pendidikan ini mengacu pada pemikiran Marx sehingga di cap kiri dan radikan. Oleh karenanya pendidikan kritis menentang segala bentuk kekuasaan yang tidak berimbang di dalam masyarakat sehingga pendidikan yang berkualitas hanya di dapat oleh masyarakat yang berekonomi tinggi. Sedangkan, konstitusi negara Republik Indonesia menunjukan dengan jelas bahwa pendidikan yang berkualitas adalah hak bagi seluruh rakyat dan pemerintah wajib melaksanakanya.

Pendidikan kritis, aliran pendidikan yang meyakini akan adanya muatan politk dalam segala aktifitas pendidikan, aliran ini sangat berlawanan dengan aliran yang berorientasi pada liberalisme dan konservatif. Dalam konteks akademik aliran ini disebut dengan “the sosiology of education” atau “critical theory of education”. Visi pendidikan kritis dilandaskan pada suatu pemahaman bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial, kultural, ekonomi, politik yang lebih luas, sehingga ada asumsi bahwa pendidikan bukan lembaga yang netral, independent yang terbebaskan dari kepentingan, akan tetapi sebaliknya pertarungan kepentingan. Pendidikan harus dipahami sebagai relasi pengetahuan, ideologi, kekasaan. Dari kepentingan itulah, membentuk wajah institusi pendidikan dapat mempengaruhi subyektifitas peserta didik. Perlu disadari subyektifitas manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang dibaca, di dengar dan dipelajari yang dimana lingkungan dimana tempat manusia itu belajar.

Maka dengan demikian, pendidikan kritis berupaya untuk menggerakan idologi dominan terhadap perubahan sosial, dengan tugas utamanya adalah menciptakan ruang agar sikap kritis manusia terhadap sistem dan struktur kekuasaan yang tidak adil. [] B e r l a n j u t