Foto: Yanuar Surya.

Apresiasi Seni Tradisi Untuk Pendidikan

Sangat relevan seni tradisi menjadi materi dalam proses belajar. Mengingat Jogja dengan dinamika seni tradisinya yang subur, sebagai salah satu elemen budaya lokal, memungkinkan menjadikannya materi pembelajaran bagi siswa sebagai upaya penyerapan nilai pendidikan, berkaitan dengan norma, etika, dan estetika kebudayaan yang responsif sebagai kontrol terhadap perubahan kondisi sosial yang pesat.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Karena budaya sangat dinamis, memungkinkan peserta didik untuk menumbuhkan sifat yang selaras dan menekankan kecintaan terhadap budaya sendiri, dimana hal tersebut merupakan kriteria normatif keterkaitan antara kemampuan berapresiasi pada seni dengan rasa cinta terhadap bangsa dan budayanya. Sebutlah langkah apresisi sebagai idiom awal berkesenian, merupakan wujud sederhana materi pengajaran yang jarang dilakukan. Sangat disayangkan kota Jogja yang marak dengan pertunjukan seni tradisi namun kurang dimanfaatkan pada proses pembelajaran, terbukti sebagian besar pelaksanaan didominasi penyampaian materi teoretis hanya di dalam kelas.

Aplikasi seni tradisi sebagai bahan apresiasi bagi siswa merupakan hal gampang-gampang susah, diperlukan metodologi yang relevan agar pembelajaran bisa berjalan dengan lancar. Maka dibutuhkan cara pandang ekstra estetik yang memerlukan pemikiran mendalam sehingga proses pembelajaran tidak sia-sia, yakni konteksasi interdisiplin yang menuntun apresiasi peserta didik terhadap objek materi. Dengan cara pembiasaan dapat diajukan sebagai pendekatan sistematis yang relevan dalam proses apresiasi peserta didik terhadap seni tradisi yang ada agar dapat berjalan optimal. Pembiasaan dapat menggunakan model hubungan stimulus-respons. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan reaksi (respons) berdasarkan sebab akibat.

Pilihan metode pembiasaan diharapkan mampu menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dinilai secara konkret. Pengaplikasian seni tradisi sebagai materi apresiasi mata pelajaran seni budaya dapat dilaksanakan melalui empat tahapan elemen yang tertera dalam teori behaviorisme yaitu stimulus (rangsangan), proses, penguatan, dan respon.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Stimulus/rangsangan yang menggugah minat peserta didik dapat dilakukan dengan pengenalan berbagai macam seni tradisi yang ada di kota Jogja. Penyampaian oral diharapkan tidak begitu berat dengan berbagai macam konteks bahasan yang memaksa siswa terhindar dari hafalan, namun lebih pada gaya penyampaian ringan secara historis bagaimana material seni tradisi itu terwujud dan apa saja elemen yang meliputi di dalamnya. Ajaklah siswa ke dalam situasi yang menarik layaknya penyampaian cerita antar pertemanan dan ciptakan situasi agar siswa ikut andil dalam jalanya cerita melalui pancingan-pancingan pertanyaan ringan sehingga komunikasi terjalin erat. Hal ini bertujuan untuk mengantarkan proses agar penyampaian materi inti siap diberikan pada langkah berikutnya.

Langkah proses merupakan kegiatan inti sebuah pembelajaran. nilai-nilai apresiasi  materi mengenai seni tradisi dapat disampaikan setelah siswa mendapatkan stimulus yang cukup dalam tahapan awal secara oral ditandai dengan rasa keingintahuan siswa yang bergairah memperoleh cerita yang berkelanjutan. Proses penyampaian apresiasi disampaikan secara langsung dengan mengamati salah satu dari berbagai macam pertunjukan seni tradisi yang ada di kota Jogja. Apresiasi seni tradisi secara langsung jarang dilakukan dalam lingkup pendidikan formal. Sangat disayangkan di kota Jogja banyak dijumpai berbagai macam pertunjukan seni tradisi yang gratis sekalipun untuk diapresiasi. Hal tersebut juga merupakan wujud penyegaran bagi siswa setelah sekian banyak bentuk pembelajaran secara baku di dalam kelas. Dalam langkah apresiasi ini, biarkan siswa mengamati pertunjukan yang terselenggara. Langkah apresiasi adalah upaya mewujudkan cara proses belajar kreatif, yang memberikan peluang pada siswa untuk mampu berimajinasi dan mengekspresikan secara mandiri. Pada ahir apresiasi, tugaskan siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan pada langkah materi pembelajaran berikutnya.

Pada tahap penguatan, setelah apresiasi seni tradisi selesai, guru menyampaikan kembali penguatan beberapa materi-materi yang dianggap penting agar tidak terlewatkan. Memastikan bahwa siswa benar-benar memahami apresiasi yang telah dilaksanakan, dan proses apresiasi sudah benar-benar berlangsung dengan baik.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Terakhir merupakan tahapan respon. Dalam kesempatan ini dibuka sesi dialog, diskusi, kesempatan siswa saling bertanya dan menjawab segala sesuatu yang berkaitan dengan materi apresiasi seni tradisi yang telah dilaksanakan dalam tahapan sebelumnya. Pola-pola yang membebaskan siswa agar agar berfikir dari berbagai sudut pandang dari objek materi apresiasi.  Pola tersebut diharap dapat memacu kreativitas para peserta didik, untuk kemudian siswa mampu mendeskrepsikan, menguraikan secara singkat mengenai materi apresiasi seni tradisi yang telah dilaksanakan. Hal tersebut dapat digunakan sebagai parameter guru guna mengevaluasi penyerapan materi yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran. 

Seni tradisi adalah  elemen budaya yang syarat dengan kandungan-kandungan nilai luhur, dengan harapan idiom norma, etika, dan estetika di dalamnya berguna bagi perkembangan karakter personal. Seni tradisi dalam lingkup masyarakat lebih menekankan fungsi, simbol, dan makna, berkembang menurut kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Menurut almarhum Profesor Umar Kayam “Seni sebagai penyangga kehidupan selalu berada di tengah-tengah kebudayaan masyarakat, karena kesenian itu sendiri merupakan wujud dari kebudayaan”. Upaya yang mendasar dimana seni tradisi merupakan unsur kebudayaan yang dapat dipergunakan sebagai materi pembelajaran formal yang bermanfaat. Kebudayaan adalah milik masyarakat yang dipergunakan bersama sebagai acuan warga masyarakat, saling bertalian guna memenuhi kebutuhan hidupnya.