Bahasa Indonesia sedang mengalami pubertas keduanya. Ia bergetar, tumbuh liar, dan seperti remaja, tengah mencari jati diri di tengah kebisingan digital. Di tangan Zilenial—anak-anak yang lahir dari rahim antara revolusi industri keempat dan budaya pop global—bahasa menjadi benda cair: bisa menirukan logat Korea, menyinggung idiom Jepang, dan bercampur slang Inggris dalam satu napas TikTok berdurasi 15 detik.

Kita menyebutnya kreativitas. Tapi mungkin juga, pelan-pelan, ia adalah tanda keterasingan: bahasa yang kehilangan pusat gravitasinya.
Di masa lalu, bahasa adalah rumah kesadaran. Chairil Anwar mengubahnya menjadi alat pemberontakan. W.S. Rendra menahannya di atas panggung, agar tetap berdiri tegak melawan kekuasaan. Goenawan Mohamad sendiri menyulamnya menjadi kabut puisi dan argumen, tempat makna bersembunyi sekaligus dilahirkan. Tapi kini, bahasa sering diperas menjadi caption dan meme—dipakai bukan untuk berpikir, melainkan untuk tampil.
Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya. Sebab bahasa memang harus hidup, dan kehidupan kini berlangsung di layar. Setiap emoji, setiap singkatan absurd—btw, lol, ‘anjay’? Atau ‘ytta’, ngakak sih ini—adalah fosil kecil dari kebudayaan baru. Zilenial sedang menciptakan dialek zaman mereka, sama seperti kaum pergerakan menciptakan “bahasa Indonesia” di Kongres Pemuda 1928: dari campuran bahasa Melayu, Jawa, dan semangat untuk merdeka.
Namun ada yang beda. Kalau dulu bahasa adalah alat untuk menyatukan, kini ia lebih sering memisahkan: antara mereka yang ngeh dan mereka yang gaptek, antara Gen Z yang cepat dan guru-guru yang gagap. Di sinilah paradoksnya—bahasa yang seharusnya jembatan, kini bisa menjadi jurang pemisah.
Riset terbaru menyebut kemampuan menulis dan berbicara sesuai kaidah menurun. Tapi barangkali, yang menurun bukan sekadar kemampuan, melainkan penghormatan pada bahasa itu sendiri. Di ruang digital, kecepatan lebih dihargai daripada ketepatan. Kalimat panjang dianggap membosankan, tanda baca terasa usang. Bahasa baku pun tampak seperti pakaian resmi di pesta kasual—terlalu rapi untuk dunia yang serba spontan.
Namun sejarah selalu berputar. Dulu, kaum kolonial menganggap bahasa Melayu pasar tak layak dipakai kaum terpelajar. Tapi justru dari “bahasa pasar” itulah lahir bahasa persatuan. Mungkin hari ini kita sedang menyaksikan versi baru dari itu: bahasa digital sebagai pasar baru, tempat bahasa Indonesia diuji ketahanannya di tengah arus global.
Pertanyaannya: akankah bahasa Indonesia tetap menjadi rumah bagi pikiran, atau sekadar jadi tenda sementara bagi hiburan?
Di sinilah pendidikan dan media sosial seharusnya berperan, bukan sebagai penjaga puritan yang melarang perubahan, melainkan sebagai pengingat arah. Bahasa boleh menari, tapi jangan kehilangan ritmenya. Kreativitas boleh melompat, tapi tetap berpijak pada tanah asalnya.
Bahasa, pada akhirnya, bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cara bangsa ini bermimpi, mengeluh, dan mengingat dirinya sendiri. Dan bila suatu hari nanti kita tak lagi bisa menulis dengan benar, barangkali yang hilang bukan sekadar tata bahasa—melainkan cara kita memahami dunia.
Sebab kehilangan bahasa, pada dasarnya, adalah kehilangan ingatan.
Dan bangsa tanpa ingatan hanyalah gema di ruang digital yang sunyi.[]
Rumah Sawah, 24 Oktober 2025
Seorang otodidak, masa muda dihabiskan menjadi Fasilitator Pendidikan Popular di Jawa Tengah, DIY, NTT dan Papua. Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST. Pendiri Akademi Kebudayaan Yogya (AKY). Pengarah INVOLPMENT. Pendiri KiaiKanjeng dan Pengarah Sekolah Alternatif SALAM Yogyakarta.
Leave a Reply