Beda itu Biasa

Perbedaan akan menjadi biasa, saat ada ruang untuk menjadi berbeda.

Kami Semua Berbeda

“Dia kok beda sih?”, “Oh, Anak Berkebutuhan Khusus?”, “Dulu kok bisa gitu kenapa?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu dihadapi seorang orang tua dari anak yang “berbeda”. Dan pertanyaan itu juga berlaku, kadang bagi anak yang “beda”. Pertanyaan klasik yang terlalu sering terdengar, sampai akhirnya dianggap lumrah. Dianggap pertanyaan sederhana, yang mengesampingkan kenyamanan si penjawab. Saya tidak menuduh. Saya pun kadang menjadi pelaku. Tapi, ada yang berbeda di SALAM. “Tidak berkebutuhan khusus, wong semua orang juga punya kebutuhan khusus.” Kata Pak Toto.

Garis pembeda yang terbentang bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan “Anak Normal” di dunia pendidikan memang sudah ada sejak sebelum abad ke 20. Anak-anak dibedakan dan mendapatkan perlakuan khusus yang kadang positif, kadang negatif. Tekanan yang diterima saat menjadi berbeda sudah diterima sejak dalam keluarga, dan ditambah saat dia mengambil haknya, untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dulu, saya hanya berfikir, setiap kali melewati Sekolah Luar Biasa, apa iya, tidak ada sekolah yang menghapus garis pembeda itu? Dan apa iya, anak-anak spesial ini tidak bisa menjalani masa-masa sekolahnya seperti anak biasa lainnya?

Dan SALAM menjawab setiap pertanyaan saya. Semester ini lebih tepatnya. Saat saya lebih rutin bertemu dengan anak-anak di kelas besar. Setiap hari saya mengamati, dan kagum dengan cara mereka memandang temannya yang berbeda. Mereka sama sekali tidak menganggap Si A anak aneh, atau Si B mengganggu. Mereka berteman selayaknya mereka semua sama, tanpa perlakuan khusus yang berarti. Anak-anak spesial ini juga mendapat tanggungjawab yang sama seperti anak-anak lainnya. Mereka mendapat jadwal piket mengambil snack saat istirahat, mengambil makan siang, mendapat jadwal piket membersihkan kelas, bahkan memimpin doa. Tugas yang kadang harus dilanjutkan di rumah. Pendapat mereka pun juga diperhitungkan, saat kelas akan membuat sebuah kesepakatan. Sama sekali tidak ada “beda” yang ditonjolkan. Fasilitator pun memperlakukan setiap teman belajarnya sama. Pendampingan tidak hanya dilakukan oleh fasiitator tetapi juga oleh teman-teman lainnya, saat terjadi keributan atau kondisi yang kurang kondusif. Seperti saat anak-anak SD sedang mengadakan kegiatan “Jumat Bersih”, ada anak spesial yang tidak ikut serta membersihkan kebun. Dia hanya di pinggir melihat dan memberi komando teman-temannya, “ayok sebelah situ belum. Aduh awas ada nyamuk”. Lalu teman-teman lainnya pun menegur dia. “ya kamu juga kerja ayok sini lo” begitupun kepada anak lainnya yang tidak bersama-sama melakukan kegiatan tersebut.

Semua dapat tugas untuk bergotong royong

Kekurangan dia, adalah kekurangan bersama. Saat semester 2 dimulai. Kelas-kelas akhir mulai me-riset soal bagi yang hendak mengikuti ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah. Kemampuan masing-masing anak jelas berbeda. Termasuk kemampuan membaca. Dan saat melakukan riset soal, tibalah–sebut saja anak spesial kali ini–Bunga mendapat giliran membaca soal. Padahal, satu kelas tahu kalau dia belum bisa membaca. Tapi dengan telaten, seluruh kelas memberi kesempatan Bunga untuk tetap berproses membaca soal, dengan bantuan teman sebelahnya. Dengan pelan dan sabar teman sebelahnya membantunya, dan seluruh kelas mendengarkan. Jujur, hati saya hangat melihatnya. Apalagi saat semua itu dilakukan tanpa komando dari Fasilitator.

Dan hari-hari setelahnya, saya semakin biasa dengan sikap-sikap kecil yang menurut saya manis sekali dari anak-anak ini, tentang memperlakukan perbedaan. Kadang menjadi teguran juga, untuk saya orang dewasa yang kadang masih suka menjadi wasit dari perbedaan. Yang merasa “biasa” dengan pertanyaan-pertanyaan basa basi tentang perbedaan. Saya belajar banyak, dari cara anak-anak yang menerima kondisi temannya. Bahwa perbedaan hanya akan terasa bedanya saat terus-terusan menjadi pembahasan. Dan perbedaan akan menjadi biasa, saat ada ruang untuk menjadi berbeda.