Belajar dari SALAM

Menjelang 20 tahun usia Sanggar Anak Alam (SALAM) 20 tahun pada Bulan Juni 2020, Warga SALAM sudah mulai siap-siap. Bentuk kepanitiaan. Mereka mulai menghimpun gagasan, mencari kemungkinan -kemungkinan menggali sumber-sumber dana serta menyusun metodologi terkait bagaimana agar terkait antara kegiatan sehari-hari anak-anak, fasilitator dan orang tua agar tidak terpisah-pisah. Adapun kesepakatan yang terbangun pada momen 20 tahun SALAM justru dimanfaatkan untuk refleksi internal (penyelenggara, orang tua, fasilitator & Kerabat SALAM. Sehubungan dengan hal tersebut, ada tulisan dari  Ajenk Handini salah satu peserta diskusi Buku Sekolah Apa ini di Bandung yang patut kita simak Bersama. ****

Seorang yang cerdas itu menyederhanakan yang rumit, sementara yang bodoh senang merumit-rumitkan hal yang sederhana

Begitu sekelumit perkataan Bu Wahya yang paling saya ingat.

Saya datang sedikit terlambat dari waktu yang dijadwalkan di poster acara. Ketika saya datang, peserta sudah memenuhi tempat duduk yang disediakan hingga beberapa peserta duduk di bagian bawah dengan tikar yang disediakan oleh panitia. Saya pun akhirnya mengambil tempat lesehan di bawah, karena rasanya lebih enak dan duduk menjadi lebih santai. Beberapa teman menyapa saat mereka melihat saya datang. Ternyata saya mengenal 3-5 peserta yang hadir. Ada Pak Hendra si bapak dosen matematika di ITB, ada teman alumni Pengajar Muda Bandung yang padahal kami gak janjian, ada beberapa mahasiswa S1 pendidikan dan bahkan ada atasan saya di kantor juga ikut datang. Ramai pokoknya!

Buku Sekolah Apa Ini? adalah buku yang bercerita mengenai praktik pendidikan di SALAM yang disusun oleh para fasilitator di SALAM. Pada bincang buku kali ini, selain menghadirkan Bu Wahya dan Mbak Tyas sebagai perwakilan dari pihak SALAM, hadir pula pembedah buku dari praktisi pendidikan di Bandung yaitu Kak Puti dan Kang Wawan serta moderator yang namanya sudah tidak asing bagi saya, yang sudah sering tampil dalam dunia perfasilitatoran se-Bandung raya, Kak Agni.

Di awal diskusi, Kak Agni membagikan kertas post-it dan spidol kepada peserta untuk menulis pertanyaan yang ingin diajukan. Setelah peserta selesai menulis, Kak Agni mengumpulkan kembali dan mulai membacakan beberapa pertanyaan.

Pada sesi diskusi ini, para pembicara yang menjawab dan menanggapi pertanyaan dari peserta sedikit banyak menjelaskan bagaimana kegiatan belajar mengajar di SALAM.

Pada bagian pertanyaan “Apa perbedaan SALAM dengan sekolah lain?“

Kak Puti menjawab dari apa yang beliau baca di dalam buku. Sistem evaluasi di SALAM sangat berbeda dengan sekolah lain yang masih berlandaskan pada nilai sehingga para murid berlomba mencari nilai bukan ilmu. Sementara di SALAM evaluasi didapat dari catatan harian para fasilitator yang merekam proses setiap anak belajar di SALAM. Selain itu juga masih ada kegiatan lain yang dijadikan landasan evaluasi seperti pameran karya anak atau riset yang dilakukan oleh anak-anak. Iya, di SALAM katanya anak-anak lebih menyukai kata riset dibandingkan belajar, karena kata belajar memberikan kesan yang lebih menyeramkan. Haha, baguslah ya, jadi nanti kalau mereka udah mahasiswa dengar kata riset atau penelitian bakal biasa aja atau mungkin malah senang, beda sama saya, ehehe.

Seperti pohon, tumbuh tanpa henti dan mengakar kuat

Prinsip dasar yang diusung oleh SALAM, yaitu Jaga Diri, Jaga Teman dan Jaga Lingkungan. SALAM sebagai sekolah kehidupan mengharap setiap anak dapat menjadi dirinya sendiri dan mendekatkan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat mencari solusi dan menemukan jawaban dari setiap masalah di kampung mereka, agar mereka merasa dihargai tanpa harus menjadi buruh di kota besar. Hal ini jelas membuat beberapa peserta termasuk saya dan beberapa teman tertohok.

Ada 1 pertanyaan peserta yang menggelitik bagi saya, “bagaimana keterlibatan orang tua dalam praktik pendidikan di SALAM?”

Mbak Tyas menjawab ini dengan sangat menarik. Beliau menjelaskan bahwa di SALAM yang menjadi seleksi masuk adalah orang tua. Orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di SALAM yang akan diwawancara dan ditanyai seputar keinginan dan harapan orang tua dalam pendidikan anaknya. Hal itu tentu menjadi barang baru bagi sebagian peserta yang hadir. Namun membuka cakrawala berpikir kami, bahwa orang tua lah yang terkadang menjadi sumber persoalan bagi pendidikan anak harus ikut terlibat dalam praktik belajarnya.

Tak terasa waktu sudah semakin sore, sinar matahari mulai terik memasuki ruang diskusi. Hal paling menarik yang tak mungkin saya lewatkan untuk saya tuliskan di sini adalah bagaimana Kak Agni meminta seluruh yang hadir memberikan satu kalimat refleksi sebagai penutup diskusi sore ini.

Refleksi dimulai dari Kang Wawan. Beliau membacakan satu bagian dari buku Sekolah Apa Ini? mengenai sisi kesepakatan kelas PAUD dan religiusitas.

Di SALAM kegiatan belajar memang terjadwal, namun apa yang dipelajari adalah kesepakatan yang dibuat bersama oleh seluruh murid. Hal ini mengajarkan bahwa apa yang dilakukan merupakan kesepakatan bersama sehingga murid bertanggung jawab akan kesepakatan yang sudah dibuat. Begitu pula bagian keagamaan, walau di SALAM tidak ada pelajaran agama, namun seluruh kegiatan di SALAM dimulai serta diakhiri dengan doa.

Tiba giliran refleksi dari Kak Puti. Kak Puti, seperti pula Kang Wawan, membaca sebuah kalimat di dalam buku Sekolah Apa Ini? yang mengutip dari buku Romo Mangun,

Ternyata Anda akan merasa, bila Anda jujur, bahwa juga si anak itulah yang mendidik Anda sendiri, orang tuanya. Si anak ternyata terus-menerus memperkuat iman orang tua, membuat Anda berani dan teguh dalam niat, menjadi orang tua yang berikhtiar. Maka si anak nanti akan merasakan pula dengan radar-radar alaminya bahwa Anda mencintainya. Dan itu sudah cukuplah sebagai modal pertama. – hal 202

Semua peserta, termasuk saya, langsung terdiam begitu Kak Puti selesai membacakan kutipan tersebut, seperti sedang mencerna kalimat itu di dalam hati masing-masing. Oleh karena itu, Kak Agni mencoba menceriakan suasana kembali dengan membacakan satu cerita menyenangkan dari buku Sekolah Apa Ini? sebagai refleksinya. Cerita itu berjudul Sepeda Baru untuk Yoyo. Sepeda Yoyo ditemukan tergeletak dalam keadaan rusak. Awalnya fasilitator sudah mengumpulkan teman-teman Yoyo untuk membantu memperbaiki sepeda Yoyo, namun ternyata ada beberapa anak laki-laki yang juga ikut berkumpul. Mereka mengaku sebagai “pelaku pengrusakan” sepeda Yoyo. Mereka merasa bertanggung jawab akan sepeda tersebut. Setelah beberapa pertimbangan, mereka memutuskan menabung dan membeli sepeda baru untuk Yoyo. Seru banget kan? anak-anak bisa dengan sadar tahu kesalahan yang telah diperbuat.

Refleksi terakhir ditutup oleh Mbak Tyas. Beliau mengutip sebuah refleksi dari salah seorang peserta yang menulis di kertas post-it.

Ternyata, SALAM adalah sebuah komunitas yang sehat

Mbak Tyas merasa senang membaca refleksi ini. Karena memang itulah keinginan SALAM yaitu dikenal di masyarakat sebagai sebuah komunitas. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, bahwa SALAM tidak ingin dikenal maupun tidak mem-branding diri menjadi sebuah sekolah. Cita-cita besar SALAM adalah melahirkan komunitas dan ekosistem belajar alih-alih sekadar lulusan bernilai ujian tinggi.

Dan seperti yang dikatakan Kak Agni di sela diskusi bahwa bincang buku ini sesungguhnya diperuntukkan sebagai jembatan bagi “sosok” SALAM yang mungkin tadinya hanya diketahui oleh sebagian orang, untuk kemudian dikenal lebih luas lagi, yang diandaikan Kak Agni sebagai dunia di luar SALAM. Bagi saya sendiri, datang sekaligus hadir pada bincang buku Sekolah Apa Ini? memberikan refleksi bahwa ternyata sudah ada yang berbuat nyata untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada anak, bukan lagi hanya dominansi para orang tua semata.

Jadi, buat kalian pencinta buku, orang tua yang mau nyekolahin anak, atau baru akan menjadi orang tua atau senang main sama anak, buku Sekolah Apa Ini? dapat menjadi satu pilihan bacaan mengenai bagaimana pendidikan yang menyenangkan bagi anak. Dan kalau di antara kalian ada yang mau langsung main ke SALAM, ajak-ajak ya! []

https://ajenghandini.wordpress.com/2019/09/10/belajar-dari-salam/