BELAJAR MEN”DAUR”

Pertama kali saya mendengar istilah ‘daur belajar’ di Sanggar Anak Alam (SALAM) adalah ketika saya diminta Pak Toto Rahardjo untuk membuat animasi sebagai materi diskusi di sebuah event 2016 silam. Saat itu saya diminta untuk membuat animasi dari ilustrasi yang dibuat Pak Yulex tentang bagaimana riset mandiri di SALAM berjalan. Bagi seorang desainer grafis partikelir, yang hanya bekerja saat dimintai bantuan, pekerjaan seperti ini terasa menyenangkan. Saya jadi punya kesempatan mengamati bagan secara lebih detail, dan merekam informasi tersebut dalam otak saya secara visual.

DAUR BELAJAR bagaikan siklus dari Kepompong hingga menjadi Kupu-kupu

Kali berikutnya saya bertemu dengan istilah ‘daur belajar’ adalah saat membaca ulang cetakan kedua Sekolah Biasa Saja yang ditulis oleh Pak Toto (2018; hal. 143-146). Pada bagian tersebut, Pak Toto menguraikan daur belajar dengan ilustrasi buatan Mbak Agnes Wilis. Namun lagi-lagi yang nyangkut ke otak visual saya hanya ilustrasi Mbak Agnes saja.

Hingga beberapa bulan yang lalu, relasi saya dengan daur belajar hanyalah sebatas ingatan-ingatan visual. Sebagai orang tua, saya tidak pernah benar-benar mencoba mengevaluasi diri dengan pertanyaan “Apakah saya benar-benar telah menerapkan daur belajar bersama anak?” Ringkasnya, saya merasa bahwa selama setiap peristiwa menjadi bahan diskusi, dan setiap kesepakatan dibuat bersama, maka artinya saya sudah menerapkan ‘daur belajar’.

Sampai tibalah pada bulan November 2021, dimana saya terlibat dalam fasilitasi workshop Merancang Pembelajaran Merdeka, Mandiri, dan Kontekstual. Dalam workshop tersebut, atas usul saya, peserta diminta untuk mencoba menulis jurnal. Jurnal hasil tulisan peserta kemudian didiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil bersama fasilitator dan dibedah dengan kerangka ‘daur belajar’. Usul saya diterima oleh panitia workshop. Namun ternyata, waktu yang kami miliki untuk mempersiapkan bedah jurnal yang terkumpul dari peserta workshop sangat sedikit, hanya hitungan jam. Sementara rekan saya yang jago mendaur, Mbak Tyas, diplot dalam kelompok yang berbeda. Maka yang terjadi adalah saya gedandapan, para pembaca sekalian. Sungguh-sungguh ungkapan senjata makan tuan tengah menimpa saya.

Hanya dalam hitungan jam, saya memaksa diri saya berpikir lebih keras tentang bagaimana mengupas jurnal peserta dan membedahnya dalam daur belajar dalam simulasi langsung secara daring. Meskipun akhirnya workshop berjalan lancar, dan sebagian besar peserta di kelompok yang saya fasilitasi bersama Bu Windarki merasa puas karena mampu menginsafi daur belajar lewat simulasi ini, namun saya bisa merasakan kepala saya kemebul sore itu. Rupanya, saya yang sudah bergabung selama beberapa tahun di komunitas SALAM, masih harus belajar jadi tukang daur yang baik dan benar.

Daur belajar yang diterapkan SALAM sejak 21 tahun yang lalu sebenarnya adalah panduan belajar. Mengutip tulisan Pak Toto di Sekolah Biasa Saja (2018; hal 144), “Agar tetap pada asas-asas pendidikan yang menjadi landasan filosofinya, maka panduan proses belajar disusun dan pelaksanaannya (dilakukan) dalam suatu proses yang dikenal sebagai daur belajar dari pengalaman yang distrukturkan (struktural experiences learning cycle).”

Sementara referensi yang memperkuat daur belajar, salah satunya adalah Experiental Learning Theory yang dikembangkan oleh David Kolb. (Lebih lanjut bisa dibaca di Buku Sekolah Biasa Saja Edisi Kasik Perdikan.

Lalu bagaimana menginyafi daur belajar? Pada prinsipnya, setiap peristiwa dapat menjadi peristiwa belajar. Mulai yang paling sederhana seperti tersandung batu, hingga yang paling kompleks dan menguras perasaan seperti patah hati yang menggoreskan cidro. Namun untuk benar-benar menjadikan peristiwa tersebut berubah menjadi peristiwa belajar, manusia yang mengalaminya harus terlibat dalam dialog, terikat oleh pemikiran, hingga dapat melakukan rekonstruksi dan analisa terhadap peristiwa tersebut agar dapat memperoleh kesimpulan dan pengetahuan baru.

Bagi saya pribadi, proses ‘mencatat sebuah peristiwa’, atau ‘menceritakan ulang sebuah peristiwa’ adalah media awal untuk memahami bagaimana daur belajar itu bekerja. Karena pada praktiknya, daur belajar tidak bisa diterapkan begitu saja. Sebagai sebuah panduan, daur belajar memerlukan refleksi dan analisis yang membutuhkan jeda untuk berpikir. Bahkan mungkin untuk didiskusikan dengan orang lain.

Tak jarang saat saya bercerita tentang suatu peristiwa dengan Bu Wahya atau Mbak Tyas, mereka akan berkomentar, “Nah, itu kan daurnya jadi utuh.” Atau juga muncul celetuk, “Lha itu mlompat ke kesimpulan!”  Dalam diskusi-diskusi seperti itu, seringkali otak visual saya yang bekerja, seperti sedang menampilkan layar-layar presentasi.

Pertama-tama, layar ‘ilustrasi daur belajar’ buatan Mbak Agnes muncul. Lalu layar kedua adalah detail peristiwa. Pada layar ketiga, saya mencoba mengurai dan meletakkan detail peristiwa ke dalam daur (lakukan-ungkap-analisis-kesimpulan-terapkan). Setelah itu baru saya mampu memahami komentar dari Bu Wahya atau Mbak Tyas tadi. Begitulah pembaca, cara otak desainer grafis bekerja.

Hal yang membahagiakan, ketika kita telah mampu memahami dan menerapkan daur belajar dengan baik, maka setiap peristiwa yang terjadi, baik yang dirancang sebagai tema riset anak, maupun peristiwa sehari-hari yang terjadi secara spontan, dapat menjadi media belajar. Proses dialogis bersama anak pun menjadi hal yang mudah.

Saya pernah mendengar Mas Sabrang berujar dalam sebuah diskusi, “Proses belajar itu sejatinya adalah memahami sebab-akibat, mengalami sebab-akibat, hingga akhirnya mampu merancang sebab-akibat.” Ungkapan tersebut sangat berkait dengan daur belajar.

DAUR BELAJAR senafas dengan ilustrasi ekosistem alam

Dalam daur belajar, beberapa tahapan yang dilakukan berputar seperti siklus. Jika beruntung, siklus tersebut dapat melaju terus menjadi spiral. Beberapa tahap dalam daur adalah sebagai berikut.

Mengalami. Dalam menerapkan daur belajar, segala-galanya dimula dengan ‘melakukan’. Anak mencoba membuat pizza, anak mengamati cara membuat playdough, anak gelut dengan temannya, dan sebagainya.

Mengungkapkan/ rekonstruksi. Dalam tahap ini, anak mengungkap tentang hal-hal yang telah ia alami. Di sinilah peran orang dewasa dalam daur belajar. Anak dapat diajak terlibat untuk menceritakan/ menuliskan peristiwa yang ia alami secara runtut. Apa yang ia alami, dimana peristiwa itu berlangsung, kapan, bagaimana, bersama siapa, dan seterusnya.

Mengolah/ menganalisa. Dalam tahap ini, lebih-lebih peran orang dewasa/ orang tua/ fasilitator dibutuhkan. Mengapa pizzaku bantat? Mengapa playdouhku lengket? Kenapa aku sampai gelut sama temanku? Pertanyaan-pertanyaan itu seyogyanya muncul dari anak. Bagi saya pribadi, tahap ini adalah tanjakan yang sulit. Kesulitan terbesar adalah menakar, seberapa jauh saya harus terlibat dalam ‘setor pengetahuan’, baik dalam dalam menganalisa maupun kelak menarik kesimpulan. Sebaiknya saya beri tahu tidak ya? Bagaimana jika anak tidak berkembang keingintahuannya? Bagaimana jika nanti ia salah menarik kesimpulan? Dan sebagainya. Bagaimanapun, saya tidak ingin terdengar seperti buku cerita anak yang moral ceritanya dituliskan keras-keras di halaman terakhir.

Kesimpulan. Dalam tahap ini, pertanyaan-pertanyaan analisis yang dikembangkan anak bersama orang tua/ teman/ fasilitator akan terjawab. Baik dari pranala yang ia temukan sendiri, narasumber, eksperimen berulang, dan sebagainya. Pengetahuan baru pun muncul dengan lebih rinci sehingga anak bersama teman/ orang tua/ fasilitator dapat merumuskan hal baru yang ia ketahui.

Menerapkan. Karena telah memiliki pengetahuan baru, anak dapat menerapkan kembali temuannya dengan cara yang lebih baik, mengembangkan ke peristiwa-peristiwa lain untuk kelak didaur kembali dengan daur belajar.

Begitulah, pembaca yang budiman, rangkuman tentang bagaimana daur belajar SALAM bekerja. Dengan belajar menjadi tukang daur, tidak hanya anak, namun juga saya sebagai orang dewasa yang menemaninya bertumbuh, belajar banyak dalam membangun struktur berpikir demi merancang sebab-akibat. Jika sudah begini, maka benarlah hakikat SALAM adalah sekolah keluarga. Waktu datang mendaftar hanya untuk satu anak, namun praktiknya ibu bapaknya turut sekolah juga. Paket hemat, beli satu dapat tiga. []