“BELAJAR MENERIMA & MERESPON PERASAAN”

Minggu ini, memilih bermain ular tangga sebagai media pendukung belajar kami. Ular tangga cocok bagi anak-anak kelas dua SD (Sekolah Dasar) yang saat ini sedang berproses dalam menulis, mengurutkan angka, serta berhitung. Bukan hanya memainkannya, kami menjadikan proses. Membiarkan anak merencanakan dan membuat permainannya sendiri sejak dari awal.

Kami membagi anak ke dalam 4 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari kurang lebih 3-4 orang. Secara visual, ular tangga kami sama seperti permainan ular tangga pada umumnya, terdiri dari sekian banyak kotak dengan ular dan tangga di dalamnya. Dimulai dari angka 1 dan diakhiri di angka 100. Baik dalam proses pembuatannya maupun nantinya dalam memainkannya, anak-anak memantapkan kembali angka 1 hingga 100, mengurutkan dan menuliskan kembali. Mereka pun dapat berstrategi, membuat ular sebagai jebakan dan tangga sebagai hadiah dalam permainan. Ada beberapa anak yang juga menambahkan beberapa hal lain, seperti “maju 2 langkah” atau “masuk ke lubang hitam pindah ke pusat lubang hitam”. Menarik ketika melihat mereka berusaha merencanakan kemenangan bagi dirinya dan disisi lain kekalahan bagi temannya. Berekspektasi bahwa keberuntungan akan mereka hadapi dan kekalahan bagi yang lain, yang tanpa disadari akan mereka hadapi seluruhnya sebagai dinamika permainan ular tangga.

Hari berikutnya memainkan permainan yang telah kami buat dua hari lalu. Anak-anak dibiarkan berkelompok kemudian memilih 1 ular tangga yang ingin mereka mainkan. Anak-anak memilih ular tangga buatan mereka sendiri, namun ada juga yang memilih ular tangga yang terlihat menantang.

Para fasilitator, ikut serta bermain dalam permainan tersebut sekaligus mendampingi. Saya dan Bu Wiwin mendampingi dikelompok kecil, yang berisi Angger, Naka, dan Ael. Sebenarnya ada pemain kecil lainnya yang turut serta, Rae, namun Ia lebih memilih peran sebagai pengawas cilik. Yang kemudian di tengah permainan, kami baru tahu bahwa ular tangga yang kami mainkan adalah buatan kelompok Rae di Selasa lalu.

Ular tangga yang dipilih untuk kami mainkan ini terbilang unik dan menantang, karena para pembuatnya menganut jalur ekstrim. Ada tangga yang melintasi dari angka 10 langsung menuju ke 98. Namun di angka 99, ada ular yang menjulur ekstrem ke angka 1! Pun begitu pula tangga dan ular lain yang malang melintang antar bilangan.

Kami memulainya dengan semangat membara. Angger, Ael, dan Naka bersemangat dengan wajah harap-harap cemas ketika mengocok dadu di awal “semoga 10, semoga 10”. Ohya kami menggunakan dua buah dadu, dengan tujuan mengajak anak melakukan penjumlahan sederhana. Di awal permainan, keberuntungan langsung menghampiri Angger. Dalam sekali kocokan di putaran pertama Ia berhasil mendapatkan angka 10. Langsunglah Angger meluncur ke angka 99, tinggal butuh 1 langkah untuk menang! Angger bahagia bukan main. Sementara Ael dan Naka semakin harap-harap cemas, menantikan gilirannya dan berharap mendapatkan hal yang sama. Tapi keberuntungan di putaran pertama hanya dialami oleh Angger. Ael, Naka, Bu Wiwin, pun juga saya tidak mendapatkan angka keberuntungan. Kami tidak menemui tangga gaib di angka 10 itu.

Walau Angger meluncur dengan sangat mulus ke deretan atas di awal, setelah beberapa putaran masih tetap belum ada pemenang. Ternyata meluncur ke angka 99, tidak didukung oleh penggunaan 2 buah dadu. Karena tidak akan pernah ada angka 1 dalam permainan ini. Maju mundur dalam deret tersebut harus dialami siapapun yang tiba di angka 99, hal ini dialami Angger dalam beberapa putaran. Dan sekali lagi, ular tangga ini memang ekstrim… Di deretan angka 90-100, tidak hanya ada ular di angka 99 yang mengantarkan ke angka 1. Masih ada 2 ular lain, yang akan mengantarkan ke angka-angka lebih kecil, sekitar 70 dan 80.

Permainan berlanjut, beberapa putaran berlalu. Angger masih maju mundur dalam deretan angka 90-99, sempat juga menemui ular yang mengantarkannya ke deretan 90. Sementara para pemain lain maju perlahan dengan pasti tanpa menemui tangga. Sempat ada keberuntungan menghampiri Ael, Ia mendapatkan tangga yang membantunya sedikit meroket ke deretan angka yang lebih besar. Tidak seberuntung Angger namun cukup menyenangkan bagi Ael. Angger masih di awang-awang, berada di deretan paling atas dalam permainan. Sementara yang lain merasa perlu segera mengejar, namun ada rasa ragu karena Angger masih dirasa sudah terlalu dekat dengan kemenangan.

Setelah keunggulan yang dirasakan Angger, siapa menyangka dalam beberapa putaran selanjutnya ternyata Angger bertemu ular ekstrim yang berada di angka 98. Meluncurlah Angger dari deretan angka teratas ke angka 1! Kami semua, selain Angger tentunya, sontak tertawa terbahak-bahak dan mungkin “bahagia”. Ada raut kecewa di wajah Angger, sementara yang lain masih merayakan ketidak beruntungan Angger. Bu Wiwin, yang sudah jauh lebih memahami karakter anak-anak, mengingatkan Ael yang kala itu begitu bahagia melihat merosotnya Angger dari posisi teratas. “Ael nanti harus bisa mengontrol ya kalau nanti Ael mengalami”. Saat itu Ael memang tertawa dengan sangat bahagia, ya siapa tidak bahagia ketika yang disangka sebagai lawan terberat tiba-tiba harus mundur ke posisi awal. Kami mengingatkan Angger dengan santai, “Wah, Ngger… Kamu naik turunnya ekstrim yaaa… Bisa maju banget, mundur banget. Tenang Ngger, habis ini mungkin kamu dapet tangga lagi.” Angger pun dengan suportif melanjutkan permainan bersama kami, dengan harap-harap cemas mendapatkan kembali angka 10 dikocokan selanjutnya, kembali ke deretan teratas.

Kami bergantian mengalami keberuntungan pun rasa kurang beruntung ketika harus merosot ke deretan angka kecil. Dinamika permainan bergulir, tapi belum ada yang ekstrim. Tibalah di peristiwa dimana Ael berada di deretan angka teratas dalam permainan, yang lain masih sibuk berada di deretan tengah. Ya, deretan tengah terlalu sepi, tidak ada tangga ataupun ular yang memberikan pergerakan berarti. Di tengah ketidak hebohan permainan, Ael mengocok dadu…  Dan tadaaaa… Munculah sejumlah angka yang mengantarkan Ael ke 99!! Yang berarti, Ael harus meluncur ke angka 1.. Kami semua langsung heboh luar biasa, tapi tak ada yang seheboh Ael. Ael berguling-guling di lantai mengekspresikan rasa kecewa dan shock-nya, sementara teman-teman yang lain melakukan selebrasi. Ael kemudian mulai merasa tidak beruntung, Angger sambil masih tertawa berusaha mengingatkan Ael “Ini cuma permainan, ini cuma permainan”. Bu Wiwin juga kembali mengingatkan Ael mengenai apa yang sudah dikatakan sebelumnya, “Ael harus bisa mengontrol kalau mengalami”. Raut kekecewaan Ael seperti akan membludak, namun kondisi sekitar membuat Ael akhirnya bisa mengontrol perasaannya. Dengan wajah kecewa, Ael bermain kembali, mencoba peruntungannya kembali. Hingga akhir waktu bermain, di kelompok kami tidak ada yang mencapai angka 100. Menjelang angka 100, kami selalu berkutat maju mundur di deret tersebut. Saya pun sempat tiba di angka 98 dan meluncur ke angka 1. Melihat semua merasakan hal yang sama, dari situ Angger dan Ael belajar… Walau awalnya kecewa, tidak hanya mereka yang merasakan. Yang lain pun merasakan, hanya di waktu yang berbeda.

Dari bermain ular tangga rancangan mereka yang sederhana ini, anak-anak belajar banyak. Apalagi saya… Saya ingat di tengah proses bermain, Atta yang saat itu berada di kelompok lain, mengatakan kata-kata yang menyentil saya. Saat Ael sedang guling-guling karena kembali ke angka 1, kurang lebih begini kata Atta, “Gapapa, tadi Atta juga sudah hampir ke 100 turun lagi. Biasa aja, ga perlu terlalu sedih, ga perlu terlalu senang.” Wah, kaget saya dengar kata-kata Atta! Benar…
Permainan ular tangga tadi seperti kehidupan, bak roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Ada yang beruntung begitu cepat, langsung bertemu dengan tangga dan meroket dengan sangat cepat ke deretan angka besar. Tapi siapa sangka, tak lama kemudian dalam putaran selanjutnya merosot kembali deretan angka kecil. Ada pula yang hidupnya seperti Bu Wiwin dan Naka dalam permainan ini, tetap melangkah maju kecil-kecil tapi pasti.

Layaknya menata ular dan tangga dalam permainan kami ini, merencanakan tangga untuk kemenangan diri dan ular untuk ketidakberuntungan orang. Berekspektasi semuanya sesuai rencana. Rencana dan ekspektasi pun dirangkai oleh tiap-tiap kita, tapi terkadang kita lupa bahwa banyak pula faktor dalam hidup yang bergerak seperti dadu, tidak dapat kita kendalikan. Rasa senang, kecewa, dan rasa-rasa lain dirasakan oleh tiap-tiap pemain, di waktu yang berbeda.

Kita bisa berencana, tapi kita tidak bisa mengontrol semua hal. Akan ada berbagai hal yang diluar ekspektasi dan rencana kita, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan agar tidak terlalu sedih atau senang, mencoba mengubah perspektif kita. Belajar menerima dan merespon perasaan terhadap sebuah peristiwa. Ya, tidak perlu terlalu senang ataupun sedih. Tenang, kita punya waktunya masing-masing. Setidaknya dengan tidak sampai-sampai di angka 100, kami bisa bermain bersama lebih lama dan belajar lebih banyak hal bersama. (GM)