Di Sanggar Anak Alam (SALAM), ruang belajar tidak pernah benar-benar terpisah dari ruang hidup. Di sanalah Ahdanizar Titimangsa—dipanggil Ahdan—siswa kelas 2 SD Sanggar Anak Alam (SALAM), menjalani proses berkenalan dengan Aikido, sebuah beladiri yang justru mengajarkan cara tidak melukai.
Catatan C. Wahyu Jatmiko, pengampu Aikido di SALAM, merekam bukan sekadar kemajuan teknik, melainkan pergeseran cara berpikir. Ahdan mulai memahami bahwa Aikido bukan tentang adu kekuatan, bukan pula tentang kemenangan yang diukur dari jatuhnya lawan. Ia menangkap perbedaan mendasar Aikido dengan beladiri lain yang lazim mengandalkan pukulan atau tendangan sebagai bentuk serangan awal. Dalam Aikido, serangan bukan titik berangkat—melainkan sesuatu yang direspons dengan kesadaran.
Di matras latihan, tubuh Ahdan belajar membaca arah, jarak, dan niat. Ia memahami mengapa dalam Aikido tangan tidak segera mengepal untuk memukul, kaki tidak refleks menendang. Yang dilatih terlebih dahulu justru sikap: menunggu, menghindar, lalu menempatkan diri pada posisi yang aman. Posisi yang tidak hanya menguntungkan secara teknis, tetapi juga secara etis—tidak menyakiti, tidak mempermalukan.
Prinsip utama Aikido perlahan tampak dalam gerak Ahdan. Ketika serangan datang, ia tidak melawan secara frontal. Tubuhnya bergerak menyamping, memutar, mengikuti energi lawan, bukan mematahkannya dengan kekerasan. Di titik itu, Ahdan menunjukkan pemahaman bahwa kekuatan tidak selalu berarti menekan, dan keberanian tidak selalu berarti menyerang.
Dalam konteks SALAM, pembelajaran ini melampaui beladiri. Aikido menjadi cara membaca konflik: bagaimana menghadapi tekanan tanpa harus menjadi sumber kekerasan baru. Ahdan tidak hanya mempraktikkan teknik, tetapi juga menyerap nilai—bahwa keselamatan diri dan penghormatan pada orang lain bisa berjalan beriringan.
Dari pengamatan ini, Ahdan tampak bukan sekadar “mampu” secara teknis, tetapi sedang bertumbuh dalam pemahaman: bahwa tubuh, pikiran, dan sikap hidup dapat dilatih bersama. Aikido, di tangan dan langkahnya, menjadi bahasa sunyi tentang damai yang dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan.
Dalam rentang latihan yang terus berulang dan berproses, tubuh Ahdan mulai menyimpan ingatan gerak. Ia telah menguasai teknik menghadapi serangan dari atas—serangan yang dalam Aikido dikenal bukan untuk dilawan, melainkan diarahkan ulang. Shomenuchi ikkyo ura dan tsuki kotegaeshi bukan lagi sekadar rangkaian nama Jepang yang dihafal, tetapi telah menjelma menjadi pola respon yang relatif stabil di tubuhnya. Saat serangan datang, tangannya tidak ragu mencari titik kendali, mengalir menuju kuncian yang menutup kemungkinan kekerasan lanjutan.
Langkah kaki Ahdan pun menunjukkan kematangan tertentu. Sabaki—jiwa dari pergerakan Aikido—dilakukannya dengan cukup lancar. Tenkan, tenkai, dan irimi tenkan tidak lagi tampak kaku. Kakinya mulai memahami bahwa berpindah posisi adalah kunci keselamatan: menjauh tanpa lari, mendekat tanpa menyerang. Di titik ini, tubuh Ahdan belajar bahwa mengubah sudut sering kali lebih penting daripada menambah tenaga.
Di luar aspek teknis, sikap Ahdan selama latihan mencerminkan ketertarikan yang tulus. Ia hadir dengan antusias, mengikuti proses dari awal hingga akhir. Ada momen-momen ketika ia bahkan sudah berada di tempat latihan sebelum waktu dimulai—sebuah isyarat bahwa Aikido baginya bukan sekadar jadwal, melainkan sesuatu yang dinanti. Antusiasme itu tampak dalam kesiapan tubuh dan matanya yang sigap memperhatikan instruksi.
Namun, catatan ini juga merekam sisi lain dari proses belajar: bahwa antusiasme belum selalu sejalan dengan kedalaman fokus. Di beberapa sesi, Ahdan masih larut dalam sikap main-main, perhatian yang mudah teralihkan, dan disiplin yang belum sepenuhnya utuh. Tubuhnya mampu, tetapi kesadarannya kadang tertinggal. Padahal Aikido menuntut kehadiran penuh—di setiap langkah, setiap pegangan, setiap tarikan napas.
Di sinilah latihan menjadi cermin. Ahdan tidak hanya diminta menguasai teknik, tetapi juga mengolah sikap batin: lebih fokus, lebih serius, lebih disiplin. Sebab dalam Aikido, kelengahan sekecil apa pun bisa mengaburkan makna utama latihan—menjadi sadar sepenuhnya atas diri, ruang, dan orang lain.
Catatan ini tidak berhenti pada penilaian, melainkan membuka kemungkinan. Ahdan berada di ambang pertumbuhan: ketika kemampuan teknis yang sudah ada dipertemukan dengan fokus yang lebih matang. Di titik itulah Aikido benar-benar bekerja—bukan hanya di tubuh, tetapi di cara seseorang hadir dalam proses belajar dan kehidupan.[]
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply