Belajar menjadi Pembelajar

Tujuh tahun silam saya mengenal SALAM, Sanggar Anak Alam, dan tahun ini saya diizinkan untuk merayakan hari jadinya yang ke 21 tahun di abad ke 21. Saya merasa sangat beruntung bisa mengenal SALAM sebelum akhirnya saya menjerumuskan diri, sembari sesekali menyesalinya, pada dunia pendidikan. Harus saya akui terkadang saya merasa menyesal belajar menjadi manusia, belajar mengenai pendidikan.

Saya kira pendidikan cukup saya rapal dari buku yang ditulis pesohor seperti Paulo Freire dan Ivan Illich, atau coretan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Mangun Wijaya. Nyatanya, seperti ucapan Bapak Totok Raharjo, dipertemuan pertama kali kami, pendidikan itu laku hidup. Pendidikan sungguh jauh dari nilai A atau IPK 4.0 yang dihasilkan dari kegiatan menghafal beragam jenis literatur. Pendidikan merupakan peristiwa-peristiwa cinta kasih yang mempertemukan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya guna melatih nalar dan nuraninya. Pendidikan sendiri membutuhkan kerendahan hati dari si pembelajar untuk mengetahui, mencintai, memahami dan menghendaki. Ini adalah proses dialogis terus menerus, proses aksi,refleksi, aksi, refleksi tiada henti.

Hari ini kita menghadapi pandemi yang telah mempercepat proses adaptasi manusia dengan sistem siber-fisik, suatu pengaturan yang menggabungkan komponen perangkat lunak dengan mekanisme komunikasi secara mandiri melalui internet (Harteis, 2019). Adaptasi ini membawa manusia ke dalam alam automasi, dimana terjadi perubahan multifaset dalam lanskap kehidupan manusia. Seperti yang sudah disampaikan oleh Harteis tadi, mandiri dan internet menjadi salah satu kata kuncinya karenannya tidak mengherankan jika pembelajar di era digital dapat dengan mudahnya berselancar kebelbagai platform digital untuk mencari sumber-sumber pengetahuan yang dibutuhkannya. Mengutip pemikiran dari Mangun Wijaya, proses pencarian ini menandakan bahwa pembelajar memiliki sikap eksploratif. Namun dalam alam pikirnya Mangun juga menekankan bahwa eksploratif tidak cukup, dibutuhkan juga kemampuan kreatif dan integratif dari pembelajar untuk dapat mewujudan pendidikan yang memerdekakan. Pertanyaannya, apakah pembelajar di era ini sudah memiliki ketiga sikap pembelajar tersebut? Yang tentu saja didasari oleh rasa cinta dan kerendahan hati dari si pembelajar.

Dalam buku terbarunya, Francis Wahono dengan apik menjelaskan dua metode pendidikan yaitu pendidikan gaya anjing dan pendidikan gaya ayam (2021). Pendidikan gaya anjing dapat pula kita sebut sebagai pendidikan gaya bank, jika merujuk pada Paulo Freire. Dalam metode ini anjing diajarkan untuk menjadi manja dan tergantung pada tuannya, karenannya peserta didik dalam metode ini diposisikan sebagai objek yang suaranya dibungkam oleh sistem pendidikan yang mendehumanisasikannya Berkebalikan dengan metode gaya anjing, metode gaya ayam atau pendidikan hadap-masalah, menempatkan anak ayam sebagai subjek, karenannya induk ayam bersikap sebagai pamong yang secara perlahan menyapih anaknya untuk dapat mengais sendiri makanannya (2021). Dalam menghadapi transformasi digital, metode gaya anjing sudah tidak lagi relevan karenannya metode gaya ayam tidak dapat kita abaikan.

Sayangnya, pendidikan yang memerdekakan dalam analogi metode pendidikan gaya ayam gagal dipahami secara menyeluruh. Pendidikan memerdekakan, bukan hanya sekadar memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar di luar kelas, untuk sekadar menjadi peserta magang atau untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan pasar. Dalam pendidikan yang memerdekakan, peserta didik memiliki posisi yang setara dengan pengajarnya. Mereka diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya tanpa ragu dinilai sebagai anak yang kurang ajar. Iklim ini menjadi penting dalam pendidikan yang memerdekakan. Lebih lanjut, proses pendidikan menjadi medium bagi peserta didik untuk mendaras cinta pada kelahiran tindakan-tindakan pembebasan dengan menggunakan pengetahuan (Freire, 2008). Dengan demikian, teknologi dan keterampilan digital menjadi bermakna dari hanya sekadar keterampilan teknis belaka. Seperti sikap Postman yang menentang upaya untuk menjadikannya, perangkat teknologi, sebagai tuhan baru, dimana manusia diposisikan sebagai alatnya (2019).

Pemaparan di atas merupakan sedikit kegelisahan saya secara pribadi sebagai manusia yang beruntung pernah mengecap pendidikan yang memerdekakan di SALAM. Saya menyadari bahwa saya belum pantas disebut sebagai pembelajar sejati karena saya belum memiliki cinta yang melahirkan kerendahan hati dalam mengeksplorasi, berkreasi dan mengintegrasikan pengetahuan yang saya miliki untuk kelahiran tindakan-tindakan pembebasan. Masih banyak hal yang harus saya pelajari dan saya internalisasikan menjadi laku hidup saya. Beruntungnya, dalam perjalanan ini saya tahu bahwa SALAM merupakan tempat yang tidak akan meninggalkan saya sendiri. SALAM akan terus menjadi tempat bagi saya untuk mengolah kegelisahan menjadi kekuatan untuk memerdekakan (merdeka yang untuk, bukan merdeka yang dari)

 Daftar Pustaka

Harteis, C. (2019). Supporting Learning at Work in an Era of Digitalisation of Work. Dalam A. Bahl, & A. Dietzen, Work-based Learning as a Pathway to Competence-based Education (hal. 85-97). Bonn: A UNEVOC Network Contribution.

Wahono, F. (2021). Pendidikan yang Memerdekakan: Transformasi Ki Hadjar Dewantara dan Y.B. Mangunwijaya untuk Millenial Baru. Yogyakarta: Cinde Books .

Freire, P. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3ES.

Postman, N. (2019). Matinya Pendidikan: Redefinisi Nilai-nilai Sekolah . Yogyakarta: Immortal Publishing & Octopus .