CA RA KA dan Pergumulan Orang-Orang SALAM

Dari awal pembukaan acara pameran seni rupa yang diprakarsai keluarga SALAM saya ingin sekali menuliskan catatan dari apa yang menggelayut dalam batok kepala saya sebagai penikmat seni rupa, pecinta seni visual. Namun baru setelah penutupan pameran yang dihadiri oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) saya memaksakan menyelesaikan catatan ini.  Kaos Ca Ra Ka sudah saya pakai dan ajak keliling Kalimantan Utara, sebagai ekspresi rasa cinta pada keindahan. Font jawa ca ra ka itu benar benar membawa perasaan kepada sosok Ki Hajar Dewantara. Font ini mengafirmasi pendidikan berbasis nilai nilai lokal (local wisdom). Nilai kebajikan dan kebijakan selalu disemai dalam interaksi lokalitas yang intim.

Penutupan Pameran Seni Rupa CA RA KA

Satu hal yang membedakan manusia berkebudayaan dengan yang tidak adalah kemampuan menandai setiap momen penting dan menjadi bagian yang mengambil makna dari beragam peristiwa manusia, peristiwa peradaban manusia itu sendiri. Di SALAM (Sanggar Anak Alam) yang merupakan ‘sekolah liar’, sekolah alam, atau sekolah keluarga sangat tepat sebawai komunitas yang kreatif mencipta tanda, menggembirakan peristiwa kebudayaan manusia—termasuk perjalanan dan peristiwa yang membentuk ekosistem budaya di Indonesia yaitu kelahiran maha karya anak bangsa ihwal filosofi pendidikan dan praktik pendidikannya.

Pagelaran pameran Ca Ra Ka yang digelar oleh Sanggar Anak Alam bersama keluarga dan kerabat SALAM tahun ini adalah perkembangan kebudayaan orang-orang SALAM yang terus mencari kebenaran, memelihara kerja-kerja kebaikan, dan pelestarian keindahan di mana tepat pada hari Pendidikan 2 Mei ini keluarga komunitas SALAM membuka pameran dua pekan yang bertajuk pameran seni Rupa Ca Ra Ka yang berlangsung sampai 15 Mei 2018. Saya kira,  himpunan keluarga SALAM dapat ditandai sebagai komunitas pembelajar yang terus mengisi ruang rasa ingin tahu, ruang aktualisasi, ruang makna yang tanpa batas digali saban hari, tiap semester baik oleh siswa, keluarga, fasilitator, pengelola, kerabat, dan bahkan orang luar yang bertanya belajar di SALAM turut andil membentuk penemuan-penemuan baru.

Praktik seperti Inilah memberikan bangunan kuat falsafah pendikan membebaskan: ‘siapa saja dapat menjadi guru’ dan ekosistem sosial hidup menjadi hamparan kelas besar yang tak bosan membelajarkan setiap manusia/perasaan ingin tahu dan pendambah keindahan. Habitus pendidikan yang tercipta dari interaksi humanis.

Pendidikan humanis yang menjalankan fitrah manusia adalah antidote dari pendidikan seragam, pendidikan gaya bank, pendidikan neoliberal. Model pendidikan neoliberal menciptakan pendidikan yang membisukan dan menjinakkan. SALAM berupaya menanggulangi bencana yang dilahirkan dari institusi sekolah dan tetap mempertahankan apa yang disebut Abraham Maslow sebagai ‘manusia utuh.’

Proses berkembang sebuah komunitas dapat berjalan asimetris. Dihelatnya pameran seni rupa kali ini tidak di kompleks SALAM namun diadakan di rumah salah satu orang tua dan fasilitator SALAM telah memberikan ilustrasi paling apik bahwa pusat pendidikan ala Ki Hajar Dewantara pun bisa diaktualisasi dalam kehidupan kontemporer: belajar di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Konsep ini bukan tanpa pijakan, karena setiap saat ‘kurikulum liar’ SALAM menjadikan rumah-rumah teman menjadi kampus, menjadi galeri belajar dengan aktifitas home visit. Akibatnya menjemput anak-anak tidak selalu seragam dimana lokasinya. Bahkan lebih gawat lagi,  orang tua tidak tahu harus menjemput dimana sebab anak-anak adalah manusia, hidup dan dinamis,  serta dapat menyusun permufakatan di antara mereka. Orang tua harus mengerti itu semua, betapa hidup harus tidak bergaya konvensional saja.

Sekali lagi,wahana pembelajaran manusia tidak hanya ada di sekolah dengan kepungan pagar tinggi dan berbahan besi beton, juga bukan hanya di ruangan mewah di dalam bangunan bertingkat.

Sependek pengetahuan saya, bahwa proses belajar manusia terbaik adalah tempat yang memungkinkan warga belajarnya antusias mencari tahu, mencari kebenaran dalam rasa ingin tahu alamiah/ilmiahnya, dan tugas ekosistem bebrayan adalah menjadikan proses ini berkesinambungan alias langgeng.

Rumah, keluarga, adalah dua institusi pendidikan yang paling tahan zaman. Sekolah boleh bubar, tapi rumah dan keluarga akan terus bertahan. Itulah mengapa, SALAM dua tahun lalu telah mendeklariskan sebagai model sekolah keluarga. Persetan kurikulum negara. Menjadi tidak seragam dan liar seperti taman siswa, telah membelajarkan jutaan manusia. Begitu juga SALAM, ada keyakinan yang terus diperkuat terlebih setelah dirangsang nalar kita oleh Cak Nun, Kiai Mbeling.

Orang-Orang Salam dan Dunianya

Keluarga bukan saja dimengerti dari hubungan darah atau genetik. “keluarga sejati justru dibentuk dari kepedulian dan ikatan emosional yang sama antar warga komunitas.” kira kira begitu konstruksi pemahaman yang disampaikan cak Nun membaca konsteks bebrayan-nya keluarga SALAM. Keluarga sebagai ikatan paseduluran, sebagai teman belajar, dan kawan memajukan komunitaa dimana generasi baru juga menyelam-belajar di dalamnya.

Barangkali bukan hanya yang hidup di Dunia, orang-orang SALAM seolah telah menjadi karakter sehingga sudah menjadi sejenis ‘spirit’ yang melintasi alam jasadi semata. Sebagai sepirit, semangat salam/salam semangat (salah satu WAG keluarga salam) tentu dapat dimaknai sebagai karya dan karsa yang terus dihayati, dijadikan mata air inspirasi yang akan menopang kehidupan spiritual atau kebudayaan orang-orang yang ada dalam spektrum warna, rupa, dan nilai di dalamnya. SALAM sudah melampau benda rupa duniawi, SALAM kalau pun sekolahnya bubar, dapat hidup dan tumbuh dalam sanubari, dalam praktik kehidupan bagi yang berkehendak atas nilai-nilai itu. Lalu yang di sebut orang-orang SALAM adalah komunitas imajiner sekaligus realitas yang terus tumbuh membentuk suatu keadaan yang ‘seharusnya dimantabi, diyakini, diakrabi’ .

Ketika saya bertanya dalam kesempatan sharing bersama Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam penutupan Pameran Ca Ra Ka ihwal bagaimana orang-orang SALAM agar diberikan kemantapan dan tidak gelisah melihat konstalasi pendidikan yang kira-kira semakian neolib dan ugal-ugalan, maka beberapa ulasan jawaban saya bahasa ulang dalam konstruksi alam pikiran saya sebagaimana berikut. Pertama, Kemantapan akan apa yang kita lakukan hari ini. “Jangan mikir nasib, kata Cak Nun. Namun.  yang harus dilakukan adalah menekuni apa yang kita sedang kerjakan, perjuangkan sekuatnya, dan nasib bagaimana di masa depan tak dapat dikendalikan oleh kita. Soal Nasib bukan domain manusia. Jika memilih menjadi bagian dari SALAM beserta dunia serta pergumulan manusia-manusia di dalamnya, maka kerjakan sebaik-baiknya, mencari kebanaran, terus melakoni kebaikan, dan berpuncak pada capaian-capaian keindahan—dimana keindahan adalah sifat sang pencipta yang paling bernilai tinggi.

Jadi, pameran seni rupa kali ini adalah ekspresi pendidikan memerdekan sekaligus berbagi rasa merdeka sebagai puncak kebebasan estetika–memberikan andil pada kerja kerja seni keindahan yang sering kali berhadapan dengan kemapanan, keseragaman, dan kenyamanan. Pameran seni rupa kali ini bisa saja menjadi pergumulan antara posisi subkultur atau substruktur dengan posisi suprastuktur. Cak Nun sendiri memilih mengadvokasi posisi kedua bahwa keindahan atau estetika sebagai suprastruktur kehidupan manusia. “saya sebagai manusia berterima kasih kepada perupa, pekerja seni, dan keluarga SALAM.  Sebagai manusia. Saya berterima kasih karena pendidikan berbasis komunitas ini telah mempertahankan keutuhan manusia.

Masa depan Kaum Bebrayan

Saya sangat cocok dengan ramalan cak Nun, bahwa di kehidupan masa depan model urip bebrayan ala Maiyah dan SALAM sebagai trend. Bagi saya, prediksi Kiai Maiyah ini pas, karena apa sebab? Kerusakan kerusakan relasi manusia, manusia dengan alam, bahkan dirinya sendiri sedemikian parahnya. Sehingga manusia akan mencari ‘lembaga’ konservasi hidup yang non birokratis, informal, egaliter, dan berbasis kesukarelawanan. Situasi ini sebenarnya telah juga dibayangkan oleh Horgan, Eric Fromm, bahkan oleh Ki Hajar Dewantara dan Ronggowarsito. Hidup yang dangkal dan tak bermakna sebagai ekspresi kegagalan hidup, sehingga orang akan memburu makna dan bahagia dengan cara menyelami dunia kekeluargaan, ke-bebrayan-an, atau sejenis komunalitas. Konsep kekeluargaan inilah yang unique sebagai pergumulan sehari hari orang- orang SALAM.

SALAM, bukan perkumpulan raksasa, telah sangat intensif dan ekstensif mempraktikkan pola komunitarian, habitus kebersamaan yang cukup kuat, sehingga layaknya SALAM ini menjadi laboratorium pendidikan manusia utuh. Juga, sebagai model pendidikan kritis yang memerdekan manusia.

Pameran seni rupa telah berakhir, gaungnya masih menguat dan menuntut karya estetika di hari depan. Selamat bertjumpa di momen momen kebudayaan bersama salam baik pasar ekspresi, wiwitan,  atau pameran seni rupa yang lebih meluas yaitu pameran seni rupa hastag 2 (#2). []

Foto: Anang Istiawan