CARAKA #2 Melihat dengan Perspektif Berbeda

Pameran Kolaborasi CA.RA.KA yang akan dibuka tgl 9 Desember 2018, pukul 18.00 WIB Oleh Nasirun yang berlangsung hingga tgl 23 Desember 2018 di Kopi Dst Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul

“Bangga, senang. Bagiku ini adalah pengalaman pertama.”  Ujar Cita dan Jihan dengan penuh semangat. Cita dan Jihan adalah siswa kelas 5 SD SALAM, mereka adalah salah dua dari 11 anak yang belajar Drawing (gambar arsir) bersama Bima Batutama, seniman yang juga orang tua murid SALAM. Pada Caraka #2 besok, karya mereka berdua akan ditampilkan bersama karya-karya lain dari warga SALAM. Proses kreatif anak didampingi oleh para mentor yang secara sukarela meluangkan waktu dan tenaganya mendampingi anak sesuai dengan keahliannya masing-masing. Sebagai mentor, dalam proses pendampingan ini, Pak Bima ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa seni rupa tidak hanya patung atau lukisan seperti banyak diketahui oleh orang. “Saya ingin memberi anak-anak wawasan baru, menambah sudut pandang mereka bahwa dalam hidup ini ada pilihan berupa seni rupa, dalam pilihan seni rupa selain ada patung, lukis, ada sempalan kecil namanya drawing.” Dan itu yang akan kita pelajari.

Tisu, sabun, hanger, vas, kuas, dan sikat gigi adalah contoh benda-benda yang anak tangkap. Anak belajar menangkap objek disekitarnya kemudian menuangkannya pada kanvas dengan teknik Drawing. Drawing adalah hal baru bagi anak, boleh dibilang bahwa mereka adalah para ‘pemula’ yang nekat sejadinya. Meski baru belajar, mereka terus berusaha dan percaya diri menampilkannya, “Sesudah (mentoring) drawing itu kami baru tahu jika ada (seni gambar arsir). Awalnya memang jelek, tapi setelah mencoba terus jadi bagus” Aku Cita. Awalnya Cita, Jihan, dan anak-anak yang lain merasa kesulitan ketika menentukan tema karya. Oleh Pak Bima mereka disarankan untuk mencari inspirasi dari apa yang ada disekitar mereka. Ketika sampai di rumah, mereka mulia mengamati apa yang ada di sekelilingnya. “Lihat dirumah. Kayaknya itu bisa digambar, menarik.” Kata Jihan menceritakan proses kreatifnya. Dari situ anak-anak mulai menggambar, mereka bersepakat bahwa “Karya kami (adalah) cerita tentang kehidupan (kami) sehari-hari.” Bukan cerita tentang kehidupan orang lain atau sesuatu yang jauh dari jangkauan kami.

Pak Bima sendiri sedikit terkejut ketika melihat karya anak-anak dampingannya, karena anak-anak menggambar sesuatu yang jarang terpikirkan oleh orang dewasa. Secara tidak langusung anak menjadi terlatih untuk menangkap detail dari keadaan sekitarnya. “Kemarin aku ngarahin (anak-anak) untuk hal yang sederhana. Teman-teman ada yang gambar sikat gigi, hanger, dan banyak lagi  yang selama ini luput dari perhatian kita. Namun mereka dapat melihat itu.” Meskipun untuk urusan teknis anak-anak masih dalam tahap perkembangan, namun semangat juang mereka cukup tinggi. Toh yang ingin Pak Bima tekankan bukanlah pada hasil karyanya, namun pada proses anak menciptakan karya. []