Catatan Delapan Diskusi

Sudah cukup lama sejak seharusnya saya menulis catatan perjalanan ini. Sempat malas, lupa, lalu diingatkan lagi oleh kawan-kawan INSISTPRESS bahwa catatan ini sebaiknya dibuat. Setelah melampaui delapan diskusi, memang seharusnya saya menuliskan hasil pertemuan saya dengan kawan-kawan baru yang saya temui di Jogja, Jombang, Kediri, Malang, Solo, Jepara dan Blitar. (Sebagai catatan, saya tidak turut hadir di Jakarta dan Bandung.)

Sejak Sekolah Apa ini? terbit Juni 2019 lalu, banyak kawan-kawan dari berbagai kota yang mengundang untuk membedah buku ini. Mereka sebagian besar telah memulai langkah-langkah orisinil untuk menyelenggarakan pendidikan yang merdeka. Hal tersebut memang bak gayung bersambut. Buku ini memang kami tulis, selain untuk menjawab pertanyaan umum tentang praksis pendidikan SALAM, juga untuk membantu kawan-kawan yang bergerak dalam komunitas pendidikan merdeka untuk makin memantapkan langkah.

Namun tentu saja diskusi tidak begitu saja berlangsung hangat. Seringkali saya yang mutungan ini mendadak sebal ketika mendengar pertanyaan, “Apa bentuk legal SALAM dan bagaimana ijazah anak-anak SALAM?” Pertama, tentang struktur legal sudah ada di dalam buku. Bahkan satu bab utuh ditulis untuk menjelaskan tentang pengelolaan SALAM. Artinya, penanya belum membaca buku yang acara bedah bukunya ia hadiri. Mungkin istilah ‘bedah buku’ memang harus dihindari.

Kedua, tentang ijazah. Sejujurnya saya enggan menentramkan hati penanya bahwa ijazah kejar paket dapat digunakan selayaknya ijazah sekolah formal. Lagipula SALAM diselenggarakan sebagai kritik bagi carut marutnya pendidikan di negeri ini. Maka seharusnya menolak rubuh pada iming-iming fungsi ijazah selain untuk melanjutkan pendidikan ke jalur formal.

Kawan dalam Kegelisahan

Tapi yang selalu menarik dalam setiap diskusi yang kami hadiri adalah kami bertemu dengan kawan-kawan dengan kegelisahan yang sama. Seperti saat kami berkunjung ke Jombang, kami disambut hangat di markas RUDEKA yang sehari-harinya juga berfungsi sebagai pusat kegiatan Sanggar Semesta. Dimoderasi oleh Widya, salah satu fasilitator belajar Sanggar Semesta, Sekolah Apa Ini? dibedah oleh Mbak Yusnita yang juga telah menginisiasi Rumah Baca Gang Masjid.

Dalam keremangan halaman rumah tua di jantung kota Jombang itu diskusi mengalir hangat. Beberapa penanya adalah praktisi pendidikan. Seperti Ibu Alfi yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SDN, bertanya tentang bagaimana menyikapi penyeragaman ketika situasi tidak memungkinkan, sementara ia pribadi telah memahami bahwa tiap anak memiliki keunikannya sendiri. Ada pula Mustofa yang pernah menjadi relawan yang memfasilitasi anak-anak belajar di Doli. Mustofa bertanya tentang bagaimana melakukan penyadaran tanpa mencederai sistem yang sudah berjalan. Kami juga mendengar keluhan Nuzul yang tengah menjadi guru bimbingan belajar yang menyadari bahwa saat ini kurikulum Nasional yang berlaku memiliki indikator yang terlalu tinggi dibanding kemampuan anak.

Kegelisahan guru-guru dari sekolah formal juga kuat saya tangkap dalam sesi diskusi di Jepara. Tentang indikator belajar yang terlalu tinggi, jam belajar yang terlalu padat, hingga beban administratif guru yang begitu besar menjadi poin-poin keluhan para praktisi pendidikan formal. Jika menyimak keluhan kawan-kawan guru ini, semestinya ulasan Pak M. Mahpur, dosen UIN Malang yang membedah Sekolah Apa Ini? di Malang, menjadi sebuah ulasan paling absolut. Menurut beliau  sebuah proses belajar yang otentik adalah ketika kurikulum melekat pada anak sebagai pembelajar.

Di Kediri dan Solo kami juga bersua dengan para orang tua yang memilih untuk menerapkan homeschooling untuk putra-putrinya. Pertanyaan seputar bagaimana menerapkan cara belajar SALAM dalam kerangka homeschooling menjadi salah satu bahan diskusi. Beruntung Pak Munir, kawan yang mengundang kami di Solo, adalah seorang praktisi homeschooling yang dapat membantu menjawab bagaimana praktik homeschooling secara nyata. Pak Munir adalah seorang wirausahawan mebel yang tidak mengenyam bangku sekolah. Saat ini ia juga memilih untuk memerdekakan putra-putrinya dalam belajar. Kopi Parang, lokasi tempat bedah buku berlangsung, merupakan proyek ‘sekolah kehidupan’ yang menjadi media belajar putra-putrinya.

Mas Didik W. Kurniawan, pembahas buku Sekolah Apa Ini? di Solo, mengungkap bahwa buku Sekolah Biasa Saja sebagai paradigma dan Sekolah Apa Ini? sebagai praksis telah menunjukkan bahwa seharusnya tidak ada monopoli pengetahuan dalam pendidikan. ia juga menyoroti bagaimana orang tua tidak dijauhkan dari proses belajar anak, sehingga proses belajar anak berlangsung berkesinambungan di manapun anak berada.

Memantapkan Langkah

Dalam tur ke berbagai kota itu, kami juga banyak berjumpa dengan kawan-kawan yang tengah menginisiasi sekolah atau sanggar di daerahnya masing-masing. Seperti saat kami disambut hangat di Kediri oleh Sekolah Ramadhani. Dipandu Santi, salah seorang relawan di Sekolah Ramadhani, Sekolah Apa Ini? dibedah dengan sangat personal oleh Mbak Ulya, pendiri Ramadhani. Mbak Ulya banyak berkisah tentang awal berdirinya Sekolah Ramadhani, pertemuannya dengan Sanggar Anak Alam (SALAM) dan apa saja pengaruh SALAM bagi Sekolah Ramadhani hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka jenjang Sekolah Dasar.

Di Kediri kami mendengar keluh salah satu peserta diskusi, yang berkisah tentang usahanya menyelenggarakan sekolah yang pada akhirnya tidak berlanjut karena merasa kurang diterima oleh masyarakat.

Sementara di Malang kami bertemu dengan Mbak Ajeng Ria dari Omah Backpacker dan Pak Lukman Hakim dari Sekolah Dolan. dalam sesi diskusi, Mbak Ajeng bertanya tentang bagaimana orang tua SALAM memantapkan pilihan bagi pendidikan putra-putrinya. Sementara Pak Lukman berbagi tentang pengalamannya dalam menyelenggarakan pendidikan inklusi di Sekolah Dolan.

Yang Muda

Rupanya, soal-soal pendidikan ini, tidak hanya menjadi kegelisahan para orang tua. Di Jogja saya berjumpa dengan banyak sekali anak-anak muda yang gelisah. Terlihat dari pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka ajukan mulai tentang bagaimana harus bersikap dalam kapasitas mereka sebagai mahasiswa, hingga tentang bagaimana membangun kepercayaan orang tua terhadap laku pendidikan alternatif yang akan mereka rintis.

Diskusi seputar sekolah bagi masyarakat adat juga menjadi topik hangat, baik dalam diskusi bersama Bang Fawaz di Warung Mojok, pertengahan Juli silam, maupun bersama Bang Althien di Asrama Mahasiswa Sula, akhir pekan lalu. Dalam diskusi seputar sekolah adat, saya kerap berpesan agar kawan-kawan memulai dengan paradigma yang benar. Mulai pun harus dengan media belajar yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat. Menjauhkan peserta belajar dari akar budaya mereka dan tidak melibatkan adat dalam proses belajar hanya akan menghasilkan sekolah salah pikir dan memperkeruh masalah.

Kawan-kawan muda juga saya jumpai saat bincang-bincang di acara Ketemu Buku Blitar, awal Oktober lalu. Kawan-kawan yang sering menggelar taman-taman baca di ruang-ruang publik ini mengungkap bahwa suatu saat nanti mereka ingin membuat sekolah gratis. “Pokoknya sekolahnya dibikin asyik, Mbak. Main terus, seneng terus,” begitu ujar Toni, salah satu dari mereka.

Menghadapi kegelisahan yang begitu banyak dan bertubi-tubi, yang hampir semuanya mengerucut menjadi pertanyaan, membuat saya seringkali berpikir bahwa saya bukan dukun. Saya tidak bisa menjawab semua kegelisahan itu dengan tips-tips ringan yang mudah dilakukan. Membaca mungkin bisa menjadi salah satu langkah awal. Namun laku pendidikan merdeka adalah sebuah jalan sunyi, yang harus dilampaui perlahan. Menyelesaikan satu masalah untuk kemudian menghadapi masalah baru adalah salah satu kunci bagaimana jalur pendidikan yang kerap menjadi alternatif ini bisa bertahan.

Ungkapan Bang Althien mungkin bisa jadi sedikit pencerahan, bahwa saat ini negara belum hadir di banyak sekali ruang. Dalam ruang-ruang itulah kita bisa mulai bergerak. Dengan penuh kesadaran.

Bisa jadi kawan-kawan yang penuh kegelisahan, yang saya temui dalam delapan diskusi ini adalah manusia-manusia terasing. Dianggap aneh atas mimpi-mimpi mereka. Menjadi ‘yatim piatu’ atas ketidak hadiran kepengasuhan dan pengetahuan soal pendidikan yang memerdekakan. Dalam ketiadaan kepengasuhan ini, semoga laku SALAM bisa menjadi ‘orang tua asuh’ tempat mereka berkeluh kesah dan memantapkan langkah.(*)