Dara Jelita Tampil di Pembukaan Nandur Srawung

SIBU BINGAH

TIAP perempuan, apapun latar belakangnya, membutuhkan sebuah ruang sendiri untuk menjadi dirinya sendiri dan menjadi lebih bahagia. Tak sekadar srawung yang hanya dimaknai sebagai kumpul-kumpul saja. Melainkan sebentuk rasa yang muncul untuk menimba inspirasi atau dalam Jawa-nya ngangsu kawruh.

Kami, seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu berkumpul dalam satu wadah sebagai bentuk “ruang sendiri”. Kami, yang kebanyakan merupakan sibu (ibu) mencoba mengaktualisasi diri dalam mencapai sebuah kebahagiaan (bingah) di tengah kegiatan kami sehari-hari macam ngantor, mengantar anak sekolah, masak, umbah-umbah, melatih yoga, bikin jamu, sampai latihan paduan suara.

Kami, Dara Jelita, sebuah komunitas beranggotakan belasan sibu-sibu bingah menyakini dalam berkesenian membutuhkan lima persen bakat, sepuluh persen kebahagiaan, dan delapan puluh lima kegembiraan.

Srawung lan bebrayan bukan hanya untuk mencari kebahagiaan kami sendiri, melainkan untuk membagikan kebahagiaan itu kepada orang lain. Tak cukup puas hanya membagikan dengan sebuah kisah semata, kami berusaha mengungkapkannya dalam sebuah karya. Hasil olah rasa dan pikiran. Inilah salah satu ekspresi Sibu Bingah.