Dialog Meja Bundar Dengan Nihan Lanisy

Minggu pagi menikmati suasana SALAM yang tidak riuh seperti hari-hari anak SALAM aktif sekolah, sedikit lengang sambil menikmati kopi cap Joglo dari Dieng Nihan mulai membuka pembicaraan tentang apa yang dilakukan pasca Workshop Merancang Sekolah Merdeka, diantaranya komitmen mengumpulkan catatan teman-teman alumni yang saya diminta membaca kelak dicetak terbatas untuk kalangan kita sendiri.

Silahkan hadir

Saya tanya Nihan apa ikut meramaikan acara Pameran CA.RA.KA #2 dia jawab sudah dihubungi mas Panji yang telah memberitahukan bahwa–CARAKA itu diambil dari gagasan Cipta Rasa Karsa mengenai kebudayaan dan pendidikan (Ki Hajar Dewantara) digunakan sebagai media belajar bersama¬† di Sanggar Anak Alam (SALAM) yang merupakan kelanjutan gagasan persandingan antara seni rupa dan proses belajar dengan cara membuka keterlibatan anak-anak dalam kerja kolaboratif seni. Pokoknya saya siap sewaktu-waktu untuk mendukung acara ini pak.

Nihan menanyakan apa oleh-olehnya setelah keliling Bedah Buku “Sekolah Biasa Saja” di Cirebon, Purbalingga, Semarang, Kudus, Surabaya, Solo, Jogja? Yang menarik bahwa banyak orang tidak menyadari ada persoalan yang sedang dialami dalam dunia persekolahan kita, padahal senyatanya sekolah telah andil membentuk takhayul berkepanjangan dalam benak masyarakat.

Kini sekolah telah mendominasi bahwa pendidikan adalah sekolah, padahal pendidikan semestinya ditopang oleh keluarga, masyarakat, komunitas, sekolah itu sendiri dan yang lebih penting lagi yakni otoritas negara, jadi sekolah hanyalah bagian kecil dari jagad pendidikan–maka kalau kita bicara pendidikan selalu tidak bisa dilepaskan dari ekosistem yang terdiri dari unsur-unsur itu tadi. Namun sekarang orang lebih asyik bicara metode, teknik-teknik belajar mengajar yang sesungguhnya tidak esensial menjawab persoalan pendidikan.

Nian Saat Merancang Sekolah Merdeka

Lalu sekolah juga mendominasi pengertian belajar, seolah-olah hanyalah sekolah saja yang menjadi pusat belajar, lebih kejam lagi menganggap orang yang tidak sekolah dianggap tidak belajar, pertanyaan berikutnya apa yang dimaksudkan dengan pengertian belajar? Hingga ada banyak tulisan di kampung-kampung :”Jam belajar dari pukul ….. sampai pukul …. dilarang ramai. Jadi belajar adalah duduk tenang, menghafal dengan cara membaca buku pelajaran karena besok mau ulangan atau ujian, jadi selain menghafal, baca buku pelajaran atau dengerin guru sedang ceramah tidaklah disebut belajar.

Belum lagi takhayul-takhayul yang lain tentang prestasi, tentang sekolah yang seolah-olah mampu menentukan nasib seseorang, tentang ijazah yang menghipnotis masyarakat hingga melupakan potensi kehidupan yang ada pada dirinya juga potensi kehidupan yang ada di lingkungan kehidupannya rela dilupakan bahkan ditinggalkan, lebih memilih memasukkan ijazah dalam stopmap cap Sriti lalu berkeliling melamar untuk menjadi buruh yang tidak mudah dimasukinya pula [] …. bersambung …….