SALAM TIDAK MENENTUKAN SEGALA-GALANYA

Saya ingin nembagi hasil obrolan saya dengan pak Toto Rahardjo orang yang andil merancang dan menstrukturkan sistem belajar yang saat ini diberlangsungkan di SALAM, saya ingin nyicil membagikan pengalaman saya selama pengamatan di SALAM dan telah saya tunaikan dalam skripsi yang berjudul “IMPLEMENTASI SISTEM AMONG DAN TRI PUSAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SANGGAR ANAK ALAM (SALAM)”.

Mengikuti Merancang Sekolah Merdeka. Foto by Anang Istiawan

Awal mula didirikan SALAM

Awalnya ini lahir dari refleksi tentang apa yang terjadi dalam dunia pendidikan sampai saat ini, Ternyata perubahan mendasar pendidikan yang lebih kontekstual tidak mungkin menunggu dari Negara untuk mengubah sistem pendidikan. Meskipun yang semestinya bertanggung jawab adalah  negara. Karena birokrasi Negara terlalu gemuk, terlalu besar, jadi tidak lincah, susah bergerak, susah berubah. Dan pasti akan rumit, menempuh jalan sangat panjang berkelok .

Perubahan akan memakan waktu yang sangat lama, , itupun kalau Negara berpikir dan berniat mau berubah. Maka sudahlah, walaupun kecil-kecilan harus membangun perubahan sendiri. Letaknya sebenarnya disitu. Dan tentu saja SALAM belajar dari sejarah, artinya sejarah persekolahan pada umumnya di dunia ini, khususnya apa yang ada di Indonesia. Tidak luput juga apa yang sudah dijalankan oleh Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa sebagai latar belakangnya.

Pak Toto Rahardjo & Ibu Wahya

SALAM apakah diniatkan menjadi pengganti sekolah formal?

Karena kesadaran susah, nggak mungkin pendidikan kita ini berubah. bila menggantungkan faktor eksternal, jadi ini sekadar eksperimental atau boleh disebut laboratorium saja. Tapi memang secara serius kita adakan. Dulu awalnya cuma PAUD, lama-lama ada SD, SMP, SMA.

Karena sejak awal kita ada prinsip sekolah ini harus di dukung oleh banyak orang maka pergerakannya di tentukan pula oleh orang-orang  yang ada disini. Walaupun dalam pikiran sudah ada, bahkan cita-cita kelak ada perguruan tinggi disini. Tapi itu tidak boleh kalau cuma jadi urusan saya. Seluruh perkembangan disini sangat di tentukan oleh komunitas. Misalnya dulu tidak ada SD, tapi ada banyak orang tua yang meminta untuk diadakan SD dan seterusnya Karena yang utama sebenarnya adalah terbangunnya komunitas.

Mengapa memilih jalan alternatif?

Sebetulnya sudah sampai pada tingkat kesimpulan bahwa dunia sekolah yang ada ini tingkat kerusakannya sudah kacau balau, bangkrut ngapaian harus ngikut. Bahkan cukup keras dengan teman-teman SALAM. Jika kita bikin seperti yang sudah ada itu cuma menambah-nambahi persoalan, lebih baik tidak perlu bikin.

Namun banyak orang juga salah paham menyamakan SALAM dengan sekolah alam yang ada. Itu salah besar. Karena bukan sekolah alam seperti yang mereka bayangkan. Kalo mereka itu kan berangkatnya dari orang-orang modern yang nggak ngerti sawah, terus diadakan sekolah alam. Saya tidak seperti itu, urusannya pada proses belajar manusia. Jadi, sama sekali berbeda dengan sekolah alam yang anda kenal itu. Pada akhirnya itu kan menjadi komoditi. Ini orang kota tidak ngerti kerbau, sawah. Mereka ngadain harus ada sawahnya. Kalo saya nggak begitu, ngapain. Kalau misal saya memaki konsep seperti itu, sawah sekitar SALAM itu kan bukan tanah saya, ketika itu jadi rumah semua, habis dong. Saya harus nyari tempat lain yang ada sawahnya, ada ayamnya. Sedangkan orang-orang SALAM hidupnya sudah tidak dengan sawah. Itu kan artinya mengada-ada. Sekarang bayak orang juga yang nampaknya berjuang di alternatif, namun masih terlalu sibuk di teknik. Teknik mengajar dll. Padahal seharusnya lebih penting membangun ekosistemnya.

Konsep SALAM ini terinspirasi dari mana, atau dipengaruhi gagasan siapa?

Karena saya tidak menempuh sekolah secara akademik imungkin posisi lebih bebas. Paulo Freire Ivan Illich, Ki Hajar Dewantara. Itu referensi yang harus di strukturkan, tidak hanya di coppy paste harus di transformasi dengan situasi yang lebih kontekstual. Isu utamanya yakni bagaimana menjadikan upaya-upaya untuk menciptakan satu lingkungan yang mandiri. Kemandirian itu pengertiannya juga mandiri sejak dari dalam berpikir. Sebisa mungkin orang SALAM tidak menjadi follower atas apa yang ada. Selama ini banyak orang cuma berposisi menjadi pengikut apa yang sedang terjadi. Itu satu, yang kedua berkaitan dengan isu pangan, sesuatu yang setiap hari kita geluti tapi tidak pernah pikirkan. Isu kesehatan, isu sosial budaya, Namun yang utama sebenarnya membangun cara berpikir. Berpikir kritis dan mandiri.

Berbagai macam kegiatan dilakukan upaya menghadirkan peristiwa untuk media belajar bersama

Bagaimana menyamakan kemampuan fasilitator yang berlatar pendidikan berbeda-beda?

Nggak ada. Nggak ada standar apa-apa. Yang penting mereka mau belajar apa tidak, mereka mencintai anak-anak sepenuh hati apa tidak. Jadi nggak ada yang sekolahnya lulusan apa. Mungkin kalau disini yang ngajar guru-guru yang sudah di akreditasi dengan nilai paling malah bisa menjadi persoalan disini, karena akreditasi bertolak belakang dengan apa yang kita lakukan disini. Kenyataan itu sekarang ini dialami anak-anak SALAM yang sekarang sekolah di tempat lain. Yang mereka alami itu bukan mereka itidak mampu mengikuti proses yang terjadi disana. Tapi yang paling persoalan adalah yang dulu disini tidak penting, disana dianggap penting. Yang disini dianggap penting, disana tidak dianggap penting. Contohnya pakaian. Juga cara bergaul. itu yang paling problem.

Apa ukuran keberhasilan bagi SALAM?

Ukuran keberhasilan itu apa? Kalau lulusan SALAM hidup menjadi petani apa dianggap gagal? Padahal menjadi petani yang mandiri sejak berfikir dan baik dengan lingkungannya. Yang menjebak justru kata berhasil atau kemenangan itu sendiri. Tapi juga diingat, bahwa keberhasilan juga di tentukan oleh berbagai faktor serta proses lainnya. SALAM paling cuma berapa persen saja. Saya kurang confident kalau keberhasilan orang itu karena SALAM. Tugas SALAM hanya menunjukkan bagaimana mereka menemukan cara untuk memahami kehidupan, menunjukkan prinsip-prinsip kehidupan yang baik.

Mengapa SALAM masih mengikuti ujian?

itu bagian kompromi, karena orang SALAM juga harus hidup dengan orang diluar sana yang membutuhkan ijazah. Tapi kalau ada orang yang nggak mau ikut ujian juga tidak masalah. Kalau di tanya enggak setuju dengan ujian. Tapi masalahnya mereka ini kan nggak bisa terus menerus disini. Disitulah tidak boleh egois kita harus mempertimbangkan itu.

Ada cita-cita SALAM di duplikasi ?

Nggak ada, karena kami pasti nggak mampu, Itu harus muncul dari orang lain. Kalau ada orang yang tertarik, ingin mengadopsi system SALAM, ya kita dukung. Tapi jangan kita yang melakukan itu.[]