Belajar Kok Menghafal?

Nyaris banyak orang memahami, bahwa yang dimaksudkan belajar yakni; membaca—menghafal. Bila Anda membaca papan pengumuman di sebuah kampung ”jam Belajar, pukul 18.30 sampai pukul 20.30 WB—yang dimaksud anak-anak tidak diperbolehkan berkeliaran di luar rumah, menghafalkan dengan cara membaca buku mata pelajaran di dalam ruangan rumah.

Anak SALAM sedang belajar. Foto Mimi

Apakah kita berpikir dan bertanya, Untuk apa membiarkan anak kita menghafal seperti itu ?”. Pada dasarnya menghafal tidak apa-apa, namun tidak semua hal harus dihafal. Dalam kehidupan sehari-hari, menghafal memang diperlukan untuk beberapa tujuan. Meskipun demikian, menghafal memiliki titik lemah.

Jika kita kaitkan dengan proses belajar, metode menghafal bukanlah cara yang bagus untuk perkembangan otak, menghafal akan menjadikan otak lebih bekerja keras untuk mengingat. Mengingat dan mengingat.

Ada batasnya juga directori otak menyimpan berbagai hal tentu akan membuat memori otak jenuh dan akan menjadikan otak lebih memfokuskan kepada kekuatan ingatan dibanding kekuatan untuk berpikir.

Menghafal dalam proses belajar sungguh-sungguh kurang bijak untuk kinerja otak
Kita mulai bagian akarnya, yaitu otak. Seperti yang kita tahu, otak merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Di dalam otak, terdapat beberapa bagian, diantaranya otak bagian kanan dan kiri. Kedua bagian tersebut juga berpengaruh dalam aktivitas mengingat dan berpikir.

Mengingat dan berpikir adalah sesuatu yang berbeda namun sama-sama diperlukan dalam proses menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bandingkan mana yang lebih penting antara mengingat dan berpikir, maka jawaban yang paling tepat adalah berpikir.

Dalam proses belajar yang lebih mengutamakan menghafal, kita mengadopsi istilah “Proses dari yang tidak tahu menjadi tahu”. Sedangkan proses belajar yang lebih mengutamakan cara berpikir, logika dan motorik, kita mengadopsi istilah “Dari yang belum ada menjadi ada (proses berpikir untuk menemukan gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya)”.

Kita tidak tahu berapa jarak 1 mil dalam satuan meter atau hal-hal yang bersifat menghafal. Pandangannya, ia tidak perlu memenuhi otaknya dengan berbagai hal seperti itu. Jika diperlukan, ia bisa saja membeli buku lalu mencari informasi yang sedang dibutuhkannya.

Tidak perlu pusing-pusing dan berpikir lebih keras untuk mengingat hal-hal yang sudah ada di dalam buku, dalam 5 menit bahkan kurang dari itu, kita sudah bisa mencari informasi yang kita inginkan.

Padahal seseorang yang mampu menemukan gagasan dan inovasi baru itu lebih dibutuhkan, dibanding seseorang yang hanya menerapkan hafalannya dari sebuah buku—Orang-orang yang berpikir besar meyakini bahwa berpikir dan menemukan gagasan baru jauh lebih penting daripada sekadar menghafal.

Memang menjadi pemikir besar seperti seorang ilmuwan itu sulit, namun bagaimana kita akan mengikuti jejaknya jika kita tidak mau berusaha dan takut untuk memulai ?

Berawal dari berpikir, muncul ide dan gagasan , setelah itu kita berpikir jauh lebih keras untuk menyempurnakan gagasan tersebut hingga akhirnya menemukan, karya baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Inilah proses belajar yang sangat dibutuhkan untuk membangun kemajuan bangsa. Memang untuk menemukan suatu karya itu sulit, namun itu jauh lebih bermakna daripada kita hanya sekadar meniru gagasan orang lain. Apa yang sudah ada kita hafal, lalu diterapkan. Bukankah itu akan menemukan jalan buntu daya kreasi kita ? Bukankah itu akan melemahkan kinerja otak dalam berimajinasi, berekspresi dan berkarya?

Memang pendidikan Indonesia saat ini masih menekankan pada aspek teoritis yang bersifat menghafal. Jika dipikir lebih jauh, maka bisa diasumsikan bahwa metode pembelajaran saat ini 80% bersifat menghafal dan selebihnya bersifat logika dan rasa.

Jika saja prosentase tersebut kita balik (80% berpikir, logika ) dan (20% menghafal), maka bukan tidak mungkin banyak generasi muda yang tumbuh menjadi sosok yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan negeri ini.

Menghafal itu memang perlu tapi tidak terlalu penting. Yang jauh lebih penting yaitu bagaimana kita berpikir untuk mengembangkan otak kita, sehingga nantinya kita mampu menciptakan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar.

Sistem pendidikan yang terlalu mengacu pada aspek teoritis dan hafalan mungkin dapat diubah menjadi proses pembelajaran yang lebih  menekankan siswa untuk berpikir. Metode pembelajaran seperti ini tentu akan membuka pola pikir siswa menjadi lebih luas dalam berekspresi dan berkreasi. []