SALAM Juga Banyak Menghadapi Persoalan

Setelah Vice.com mengunggah tulisan tentang SALAM, efeknya: membanjir pertanyaan dan bertubi-tubi permintaan tamu yang ingin berkunjung ke SALAM—kami tidak tahu, apa karena banyaknya pembaca Vice, apa karena judulnya yang membikin penasaran:  “Sekolah Tanpa Seragam, Tanpa Guru, dan Tanpa Mata Pelajaran di Yogya” atau faktor lain?.

Foto by. Totok Anwarsito

“Sebagai orang tua, aku seneng sekolah macam begini. Tapi kok gimana gitu….?”, “Maaf mau nanya, ada materi agama gak di sekolah ini? Banyak teman guru di daerah sini sedang ngomongin sekolah SALAM dan menyayangkan bila anak tidak memulai riset “agama”.

“Aku di sini cuma mengamati saja gak ambil diskusinya, cuma curious”

“Asyiknya, anak-anak  bisa merdeka dan happy nih…bisa jadi banyak anak-anak yang pingin banget sekolahnya kayak gini nih”.

Malam-malam diiringi hujan beberapa orang tua murid ngobrol kesana-kemari, terutama bicara tentang dinamika Orang Tua Murid dan tentu saja membicarakan beberapa gagasan yang terkait perkembangan keterlibatan mereka di SALAM—tidak ketinggalan mereview tentang betapa ramainya ketertarikan orang luar terhadap SALAM, yang muncul justru terlontar pertanyaan balik dari para ORTU: “mengapa jarang mereka menanyakan, apa persoalan-persoalan/kerumitan-kerumitan yang dihadapi SALAM?”.

Padahal posisi SALAM yang memilih posisi tidak mainstream tentu ada banyak perbedaan yang mencolok di lingkungan para ORTU—seperti komentar yang tertuang di atas terkadang tidak mudah bagaimana Orang SALAM harus menjawab dan mensikapi.

Ada banyak persoalan-persoalan eksternal yang harus dihadapi, namun tak bisa diabaikan juga masalah internal yang bersemayam ditubuh Komunitas SALAM.

Apakah semua orang di SALAM telah benar-benar paham visi SALAM yang harus diperjuangkan bersama?

Apa ORTU SALAM tidak bersikap seperti pada umumnya ORTU di sekolah lain yang tidak mau tahu, pasrah bongkokan, menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada sekolah—yang penting membayar?

Apakah ORTU SALAM sungguh-sungguh consern dengan perkembangan anaknya?

Apakah Para Guru yang disebut Fasilitator lancar menjalin kerjasama dengan para ORTU dan sebaliknya?

Orang tua murid dan Fasilitator SALAM memang tidak seperti ORTU dan guru kebanyakan, (pada umumnya)—sehingga mereka dengan gagah berani memilih masuk ke SALAM.

Namun senyatanya persoalan-persoalan yang hadir sehari-hari ternyata persoalan yang umum-umum saja, terjadi sama seperti di tempat lain. Maka, apabila cara penanganan dengan cara yang umum, tentu saja tak akan melahirkan perubahan yang mendasar. Hal ini disadari sepenuhnya oleh Keluarga SALAM.

Maka setiap komponen di SALAM mulai belajar memahami bahwa setiap manusia butuh dihargai, bahwa setiap manusia memiliki kemampuan berbeda-beda—berlatih untuk lebih banyak mendengar ketimbang berbicara, berlatih memahami orang lain, dan tegas dalam bersikap, merupakan modal yang sangat besar pengaruhnya ketika kita menghadapi masalah-masalah.

Sebaiknya ada orang SALAM yang kadang kala mengambil jarak, karena kedekatan emosional dapat memengaruhi ketegasan kita dalam bertindak. Tatap muka, forum silaturahmi terus menerus diselenggarakan, sebab merubah cara berfikir seseorang tidaklah mudah.Gunakan metode yang variatif, sebab kemampuan orang menerima pesan berbeda antara satu dengan lainnya.

Ada orang-orang yang menjadi motor penggerak diantara ORTU, sehingga kesepakatan aksi tidah mudah pudar, juga agar mereka memahami dan mampu melakukan interaksi yang sudah disepakati. Proses melatih dapat dilakukan kapan saja, tidak harus dalam forum, bahkan disela-sela obrolan, kita dapat memasukkan pemahaman-pemahaman dan contoh-contoh yang kita inginkan.

Kemampuan memahami dan menganalisa kasus, proses ini juga sebaiknya dilakukan secara terus-menerus. Seperti halnya dalam langkah membangun kesepahaman dan kesepakatan, orang akan lebih mudah menerima informasi yang kita sampaikan apabila mereka merasa sejajar dengan kita, mereka menganggap kita adalah bagian dari mereka.Satu hal yang terpenting, selalu berikan penghargaan dan pujian yang tulus, kepada mereka yang telah bersedia bergabung dalam tim yang bertujuan untuk membangun ekosistem belajar.

Beri contoh.Ketika memulai investigasi, kita harus melakukannya lebih dulu.Ini bertujuan memberi contoh kepada tim.Biasanya orang akan melakukan apa yang pertama kali direferensikan kepadanya.Ketika bayi belajar bicara, ia akan ucapkan apa yang pertama kali didengarnya. Pada awal investigasi, tim akan melihat cara kita menginvestigasi, dan tanpa mereka sadari, yang kita lakukan akan ditirunya.Dalam hal ini kita harus benar-benar melakukannya dengan sebaik mungkin.

Berikan kepercayaan kepada tim untuk melakukan tugasnya, ingat, kita adalah keluarga. Berikan saran bila dibutuhkan, beri dorongan semangat melalui perhatian dan pujian yang tulus kepada anggota.

Selalu berkoordinasi dengan setiap fungsi, semua fungsi sudah seharusnya turut bertanggungjawab dalam penyelesaian masalah.

Memang membangun “urip bebrayan” harus lebih keras diperjuangkan []