Menghakimi Sanggar Anak Alam (bagian 2)

People hate what they don’t understand…

Itu kata sang ibunda suatu ketika kepada Clark Kent (Superman) saat si anak galau dalam kiprahnya menjadi superhero di bumi.

“Komedi Putar, jangan berhenti berputar nanti kehilangan komedi. Foto by. Yanuar Surya

Ya, (beberapa) orang cenderung benci apa yang mereka tidak mengerti. Biasanya hal itu kalau beda, asing, aneh bagi mereka, atau bahkan mungkin sesuatu yang baru.

Pernah suatu ketika ada seorang ibu bertanya mengenai keponakan saya yang dirasa terlalu kecil secara fisik untuk ukuran anak seusianya. Pertanyaan itu mungkin bakalan –meminjam istilah zaman sekarang—bikin baper (kebawa perasaan) kalau ditujukan ke orang tuanya yang gampang sensi itu. Jawaban yang lebih ideal dan normatif mungkin bakalan:

“Ya kan tiap anak beda-beda, toh secara fisik dia lebih kecil tapi energinya dan kemampuan bercakap jauh di atas rata-rata anak lain seusianya”

Tapi tidak, saya memutuskan untuk menjawab:

“Ya kalau keponakan saya baru lima tahun sudah sebesar Ibu kan malah medeni, Bu..”

Tak lupa senyum, kemudian segera pamit sebelum dilempar Tupperware.

***

Satu hal yang sangat mencolok dari Sanggar Anak Alam (SALAM) dari sudut pandang orang luar SALAM adalah: tidak ada pelajaran agama. Kalau pertanyaan tentang itu ditujukan ke saya, saya akan jawab dengan enteng:

“Jangankan pelajaran agama, pelajaran matematika, IPA, penjaskes, sampai Pendidikan Moral Pancasila (PMP) saja tidak ada..”

Tapi apakah si anak tidak tahu kalau bumi ini bulat? apakah si anak selalu sakit? Atau, apakah si anak tidak mengamalkan pelajaran PMP sehingga dia selalu buang sampah sembarangan layaknya beberapa wisatawan dari ibukota, atau akan membiarkan nenek-nenek menyeberang jalan sendirian?

Mengenai pelajaran agama sendiri, kebijakan SALAM adalah menyerahkan sepenuhnya kepada orang tua, hal inilah yang kadang menjadi sedikit kontroversial bagi orang-orang di luar sana, karena mindset orang-orang adalah, sekolah tempat belajar ilmu apa saja, termasuk agama yang sifatnya personal.

Membenci jauh lebih mudah dari memahami. Mudah sekali. Entah kenapa, hal-hal yang bersifat mengumbar ego jauh lebih gampang dilakukan atau ditemui, apalagi di era sosial media saat ini.

“Tidak ada pelajaran agama.”

jauh lebih mudah dipahami dari:

“Pelajaran agama diserahkan ke orang tua.”

Padahal kedua hal itu sebenarnya sama atau berkaitan. Tapi statement kedua lebih membebani orang tua, karena itu banyak orang memilih untuk mengernyitkan dahi sambil berkata,

“Kok bisa tidak ada pelajaran agama?”

Kalau seperti itu maka saya sarankan untuk datang ke sekolahnya langsung dan ngobrol-ngobrol dengan warga sana.

***

Lepas dari masalah pelajaran agama tersebut, SALAM sebenarnya masih banyak hal yang bisa dijadikan diskusi dan memicu debat, karena banyak hal yang beda, asing, dan baru untuk beberapa orang.

Salah satunya nama “alam” itu sendiri.

Seperti bagian pertama artikel ini, “Sanggar Anak Alam” dipandang banyak orang sebagai sekolah alam. Ya, sekolah yang bertemakan alam seperti sekolah-sekolah lain yang kelihatannya mirip karena menyandang identitas “sekolah alam”. Sekolah di tempat yang bersetting sedemikian rupa menyerupai kandang misalnya, dengan sawah buatan dan pepohonan di sekitarnya.

Ketika menengok SALAM, kalau bangunannya ada di tengah sawah, itu mungkin hanya kebetulan (atau keberuntungan?) saja lokasinya di situ. Kelak jika sekitar situ dibangun hotel atau mall, tidak akan membuat SALAM ganti nama menjadi Sanggar Anak Mall (SAMAL).

Pemakaian kata “Anak Alam” pada SALAM dimaksudkan untuk mengatakan bahwa konsep sekolah ini adalah kembali ke alam. Ketika saya diminta menjelaskan oleh saudara atau teman, saya akan memilih dengan menjawab

“Di SALAM anak belajar ilmu pengetahuan—atau beberapa pengajar mengistilahkan dengan: pelajaran—disampaikan lewat media alam.”

Atau Bahasa kerennya, secara natural.

Banyak orang dari SALAM menyebut sekolah ini sebagai: Sekolah Keluarga. Ada juga yang bilang sebagai Sekolah Komunitas, karena banyak kegiatan di sekolah ini mirip komunitas-komunitas di luar sana.

Kalau ada yang menanyakan dan saya disuruh memilih, saya akan memilih Sekolah Keluarga sebagai identitas SALAM. Saya menyebut Sekolah Keluarga karena istilah ini yang saya rasa akan lebih mudah dipahami dan nyambung, kalau ada orang melihat kegiatan-kegiatan di SALAM.

Ya Sekolah Keluarga.

Di SALAM, pendidikan sangat tergantung peran orang tua, karena orang tua sangat-sangat dilibatkan. Jauh lebih dari sekolah lain. Agak merepotkan awalnya, tapi memang inilah pilihan yang terbaik menurut saya dan istri sebagai orang tua.

Orang tua juga bisa belajar banyak hal, tidak cuma hal teknis seperti pengetahuan umum, tapi juga non-teknis seperti melatih kesabaran dan ketelitian.

Dalam kegiatan sekolah orang tua juga sangat dilibatkan, mulai penyelenggaraan acara-acara di SALAM, sampai membagi keahlian dengan mengisi ekstrakulikuler sehabis jam sekolah.

Keterlibatan orang tua kepada anaknya, maupun sekolah pada umumnya, melahirkan komunikasi-komunikasi dan hubungan-hubungan kekeluargaan kepada orang tua lain sampai pengajar dan penyelenggara sekolah, yang akan melahirkan keluarga baru, yaitu keluarga SALAM itu sendiri.

Dan kekeluargaan itulah yang menurut saya membuat sekolah ini spesial.