Menghakimi Sanggar Anak Alam

APA penilaian pertama Anda ketika mendengar ”Sanggar Anak Alam”? “Sanggar”, ketika mendengar kata ini orang-orang akan mengasosiasikannya dengan: tempat mengasah jiwa seni. Tidak mengherankan karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):
sanggar/sang·gar/ Jw n 1 tempat pemujaan yang terletak di pekarangan rumah; 2 tempat untuk kegiatan seni (tari, lukis, dan sebagainya);

Image: SALAM

Agak mengherankan juga karena kita juga sering bilang ”sanggar seni” pada suatu kesempatan. Kalau Sanggar adalah tempat kegiatan seni, maka “sanggar seni” berarti: tempat kegiatan seni seni. Mungkin seperti kita menyebut “Universitas UGM” atau ”bateraiku low-batt”. Agak lucu sebenarnya, tapi tidak selucu kasus majas metonimia, ketika orang bilang ”ooh hondanya pespa!”

Ketika kita mencari sumber lain tentang arti kata “sanggar” ini, kita akan mendapat definisi yang sedikit berbeda. Di  KBBI sendiri ada beberapa definisi tambahan di bawahnya, di antaranya

  • kerja pertemuan untuk mengadakan tukar pikiran (pembahasan, pengolahan, dan sebagainya) tentang suatu bidang ilmu atau bidang kegiatan tertentu: dalam — kerja itu mereka berusaha membahas kelebihan dan kekurangan matematika modern;
  • pengantin tempat kursus dan merias pengantin;
  • produksi sanggar tempat berproduksi

Saya sendiri paling tertarik dengan definisi terakhir, karena yang paling luas tapi sekaligus efektif.

Sekarang mari berlajut ke frasa selanjutnya: ”anak alam”. Bukan berarti ”anak alam” adalah keponakan Vety Vera, karena ayahnya adalah penyanyi single legendaris “Mbah Dukun” sekaligus adik penyanyi dangdut enerjik yang tenar di medio 90-an itu. Bukan.

”Anak” jelas: manusia versi awal dalam kehidupan ini, yang Gus Dur pernah menyesal menyamakan dengan anggota DPR. Karena anak-anak adalah makhluk yang suci, cerdas dan kreatif, kata beliau menurut sumber terpercaya.

”Alam” dewasa ini berkonotasi sawah, kebun, hutan, gunung dan/atau hewan. Padahal, menurut saya, alam itu adalah saya, Anda, “itu”, mereka, dan kita semua. Semua yang kita lihat, baui, dan rasakan adalah bagian dari alam.

Sekarang saya akan mencoba menebak apa tebakan orang-orang yang pertama kali mendengar kata “Sanggar Anak Alam”. Menurut mereka, Sanggar Anak alam adalah tempat anak-anak belajar seni yang bertemakan alam, di sekolahnya ada banyak pohon, sebelah-sebelahnya sawah, kalau sekolahnya agak berduit akan ada hewan-hewan untuk mendekatkan dan mengajarkan anak-anak mencintai lingkungan.

Tidak ada yang salah dengan asumsi dan penilaian seperti itu. Karena sekolah-sekolah yang ada atribut dan embel-embel “alam” dewasa ini dimana-mana memang seperti itu. Tapi entah dengan fitur dan system di dalamnya, apakah sama dengan yang lain atau ada hal baru yang ditawarkannya?

Don’t judge a book by its cover. Jangan menilai buku dari bungkusnya. “Judge” di sini adalah sebuah kata kerja, bisa diartikan dengan: menilai, mengadili, atau menghakimi. Orang-orang sangat hobi nge-judge. Tidak percaya? Lihatlah Instagram artis-artis. Kamu akan dicap wanita jalang ketika memutuskan mencopot jilbab setelah beberapa tahun sebelumnya diketahui publik selalu memakai jilbab saat bepergian. Sebaliknya, banyak orang yang di depan publik selalu tampak santun akan dipuja, walau kemudian belakangan terbukti dia adalah koruptor.

Penilaian-penilaian, cap, dan penghakiman itulah buah dari produk pemikiran sempit kebanyakan orang. Sebuah stempel yang membabi buta, yang hanya didasari oleh kesimpulan dan asumsi pribadi, padahal sumber yang didapat masih terbatas.