Mengukir Kenangan

Pada suatu malam, saya berbincang dengan beberapa kawan di warung kopi. Karena kami adalah kawan lama yang dulunya bersekolah di sekolah yang sama, maka topik pembicaraan pun tak jauh-jauh dari: kabar kawan-kawan yang lain, kabar kami hari ini, dan yang paling utama: kenangan masa sekolah.

Biarkan mereka mengukir kenangan.
Biarkan mereka mengukir kenangan.

Ketika saya iseng bertanya: apa pelajaran sekolah yang masih kita ingat dengan benar? Tak ada satupun dari kami yang bisa menjawab dengan pasti. Sedikit-sedikit kami ingat tentang sebuah subyek di suatu pata pelajaran. Namun selebihnya, hanya tentang nama guru yang mengajar mata pelajaran tertentu, wejangan-wejangan kebijaksanaan mereka yang sesekali muluncur di sela-sela pelajaran, nilai terburuk yang pernah didapat di suatu ujian, atau kawan-kawan kami yang jago di mata pelajaran tertentu. Tak ada subyek pelajaran yang benar-benar terkenang.

Maka, jika sekolah adalah sebuah proses yang akan berlangsung belasan tahun, mengapa tidak kita biarkan saja anak-anak kita mengukir kenangan yang indah di dalamnya?