Anak Adalah Manusia, Bukan Benda

SALAM, jika bukan karena alasan kuota yang sudah penuh, kerap kali musti menerima anak-anak pindahan dari sekolah lain. Tentu saja dengan melalui proses wawancara terlebih dahulu dengan anak, dan terutama dengan orangtua/ walinya. Pada proses ini koordinator fasilitator kelas terkait akan bertanya tentang alasan kepindahan, minat anak, serta memastikan orangtua/ wali bersedia untuk terlibat dalam kegiatan yang dibangun dalam komunitas.

Home Visit Kelas 4 SALAM

Biasanya membutuh waktu bagi anak-anak ini untuk menyesuaikan diri dengan metode belajar di SALAM. Berbeda dengan anak-anak yang sudah bergabung sejak usia dini, yang sudah menggunakan metode riset sejak belajar membaca, menulis dan berhitung. SALAM yang awalnya dipahami hanya sebatas ‘sekolah bebas’ yang tidak berseragam, masuknya siang, tidak ada pelajaran, tidak ada guru, dan pulangnya cepat, akan memberi cukup banyak kejutan bagi mereka. Cara belajar berbasis riset sangat membutuhkan inisiatif belajar yang cukup besar. Bagi anak yang sebelumnya tumbuh dalam iklim belajar sekolah pada umumnya, inisiatif belajar adalah sebuah insting yang tak pernah benar-benar terasah. Untuk itu anak perlu waktu untuk menyesuaikan diri, salah satunya dalam menumbuhkan inisiatif belajar. Inisiatif adalah hal yang tidak bisa dipaksakan oleh pihak luar. Jika munculnya karena paksaan, ancaman, hukuman, maupun iming-iming ganjaran, lagi-lagi sebenarnya yang sedang kita tumbuhkan justru tengah menyuburkan “ketidakberdayaan”.

Anak-anak yang berpindah dari sekolah lain ke SALAM biasanya karena merasa tidak cocok dengan sistem belajar atau lingkungan di sekolah lama. Mereka memerlukan waktu untuk menyembuhkan “luka” dalam proses belajar. SALAM sering menyebut masa-masa penyesuaian itu sebagai ‘masa detoks’.

Home Visit Kelas 8

Seorang remaja berpindah ke SALAM. Nampak luar memang seperti tidak apa-apa. Namun perilakunya tidak dapat menipu. Kehausannya dalam bermain terutama permainan fisik tampak besar, di saat teman-teman lainnya (yang tumbuh di SALAM) sudah mulai menunjukkan keseriusan dalam menekuni minatnya. Barangkali ia tak mendapatkan kebebasan bermain dalam tahap perkembangan yang seharusnya.

Begitupun seorang teman kecil yang baru bergabung dengan SALAM pada semester kedua kelas 3. Hingga beberapa bulan setelah bergabung di SALAM, ia masih enggan untuk menulis dengan pensil di atas kertas. Disiplin menulis yang ia terima di sekolah sebelumnya membuat ujung jarinya kapalan, dan ia masih enggan menulis karena tangannya sakit setiap kali harus menulis—mungkin tidak sekadar sakit fisik, tetapi juga ingatan tidak menyenangkan ketika dipaksa menulis. Sepanjang-panjangnya tulisan yang ia buat untuk catatan risetnya dalam satu hari hanyalah sepanjang dua atau tiga kalimat.

Lantas apa yang dilakukan SALAM? Sayangnya mungkin jawabannya tidak seperti yang netizen harapkan. SALAM tidak melakukan apa-apa, selain dari memberi waktu atau masa penyembuhan terhadap kebencian itu sembuh dengan sendirinya dalam lingkungan yang mendukung. Masa penyembuhan perilaku untuk tiap-tiap anak berbeda-beda.

Bisa sembuh? Bisa. Nyatanya kini saya melihat teman kecil itu sudah mulai tidak membenci menulis. Waktu setahun mungkin sudah cukup baginya untuk menyembuhkan kebenciannya terhadap pengalaman belajar di masa lalu. Jadi ada yang butuh waktu sembuh lebih lama? Ada. []

Kelas 4 SALAM mengamati Bio gas

Berikut ini tulisan “Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking” Oleh : Prof Agus Budiyono tentang keyakinan model belajar kompetitif yang mempertandingkan prestasi siswa: Ada 3 hal ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap kesuksesan  yaitu: NEM, IPK dan rangking

Saya mengarungi pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2 & S3) Kemudian saya mengajar selama 15 tahun di universitas di 3 negara maju (AS, Korsel, Australia) dan juga di tanah air. Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas terhadap kesuksesan.

Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US

Hasil penelitiannya ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan  rangking) hanyalah faktor sukses urutan ke 30 Sementara faktor IQ pada urutan ke-21 dan bersekolah di universitas/sekolah favorit di urutan ke-23.

Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana: Anak anda nilai raport nya rendah Tidak masalah. NEM anak anda tidak begitu besar? Paling banter akibatnya tidak bisa masuk sekolah favorit.

Yang menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh thdp kesuksesan Lalu apa faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu ? Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

apa faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu ?

Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

 1. Kejujuran (Being honest with all people)

2. Disiplin keras (Being well-disciplined)

3. Mudah bergaul (Getting along with people)

4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)

5. Kerja keras (Working harder than most people)

6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving my career/business)

7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)

8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)

9. Hidup teratur (Being very well-organized)

10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK. Dalam kurikulum semua ini kita kategorikan softskill. Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler. []