MENARI DENGAN HATI

“Menarilah dengan hati,” begitu pesan Mbak Nani Sawitri saat mengisi workshop tari topeng Losari, Rabu, 16 Januari 2019 kemarin di ruang TA SALAM. Pesan itu terdengar biasa saja bagi awam seperti saya. Tapi tidak bagi Nayla, siswi kelas 7 SMP SALAM yang sejak kecil telah bergabung di sebuah sanggar tari Jawa klasik di Jogja.

Bu Wahya dibimbing Mba Nani Tari Topeng Losari. Foto Anang

“Sebagai penari, nasehat Mbak Nani masuk banget ke aku, saat Mbak Nani bilang menari harus dengan hati, dan saat Mbak Nani bilang sebagai penari yang baik ia tidak milih-milih tempat, tidak milih-milih guru,” ungkap Nayla.

Selain mencoba menarikan beberapa gerakan dasar dari tari topeng Losari, workshop yang terencana dadakan itu juga berlanjut dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Meski berlangsung lebih dari 3 jam, workshop yang diikuti puluhan peserta, mulai dari anak-anak, remaja hingga ibu-ibu itu terasa sangat singkat.

Nani Sawitri Kursus Singkat Tari Topeng Losari, Foto Anang

Mbak Nani membuka sesi workshop dengan mengajarkan beberapa teknik dasar dalam tari topeng Losari. Jika dalam tari Jawa, posisi kaki tertekuk yang kerap disebut mendak mendominasi, tidak begitu dengan tari topeng Losari. Dalam workshop ini, peserta mati-matian untuk mencoba gerakan pasang naga seser yang tepat. Posisi ini mengingatkan saya dengan pose warrior 2 dalam yoga. Bedanya, pasang naga seser jauh lebih sulit karena kaki kanan harus selalu condong ke depan dengan kedua lutut tertekuk.

Gerakan menantang berikutnya yang diperkenalkan Mbak Nani adalah nggaleyong. Jika dideksripsikan, nggaleyong ini terjadi dengan posisi kaki di pasang naga seser, lalu badan digerakkan meliuk ke kanan hingga mencapai kayang, diteruskan meliuk kembali ke kiri. Mencoba gerakan ini beberapa kali membuat saya tidur lelap malam harinya.

Gerak manarik lain dari tari yang usia koreografinya telah mencapai ratusan tahun ini adalah gantung sikil. Satu kaki terangkat ke atas dengan posisi telapak kaki menghadap ke atas, sementara kaki yang lain berdiri seimbang dengan sedkit mendak, itulah gantung sikil. Dalam workshop sore itu, Mbak Nani mengajarkan beberapa gerakan dengan gantung sikil sebagai penutup gerak. Hampir tidak ada yang berhasil melakukan pose penutup ini karena kaki-kaki kami sudah kadung kram. Dalam format pertunjukan utuh, Mbak Nani bisa melakukan gantung sikil selama 20 menit non stop.

Setelah hampir satu jam mencoba berbagai gerakan, saya kotos-kotos. Rupanya saya tak sendiri. Anak-anak pun juga. Cukup melegakan. Artinya metabolisme tubuh masih baik-baik saja. Sebelum membuka sesi tanya jawab, Mbak Nani menarikan tari topeng Losari dengan durasi singkat. Meski di luar gerimis tipis-tipis, namun ruang TA tempat workshop berlangsung menjadi makin hangat. Sebelum menari, Mbak Nani sedikit menjelaskan tentang properti menari seperti topeng dan penghias kepala. Mbak Nani juga memperlihatkan pada kami sebuah topeng Losari yang usianya telah mencapai 400 tahun.

Meski hanya terbuat dari kayu, namun topeng memiliki daya magis tersendiri. Tari topeng Losari sendiri dipercaya sebagai medium bagi manusia untuk terhubung pada Tuhan dan bumi, sehingga kerap dipentaskan dalam acara yang kental dengan ritual. Tari yang diciptakan oleh Pangeran Losari ini pada mulanya adalah sebuah medium syiar agama Islam di pulau Jawa.

Berbeda dengan tari-tari tradisi lain dimana tata rias kerap menjadi perhatian dalam pementasan, tari topeng Losari sebaliknya. “Saat menari, seorang penari topeng tidak diperkenankan menggunakan make up. Karena dalam tari topeng Losari, penari ibaratnya adalah ‘rumah’ bagi wanda (karakter) topeng. Nenek Mbak Nani berpesan, ‘Nok, jika kamu berrias tebal, maka wanda tidak akan mengenalimu sebagai rumah’,” tutur Mbak Nani. “Wanda yang Mbak Nani perankan adalah prabu Klana, seorang raja dengan sifat angkara dan sombong. Pesan moral dari karakter ini adalah sifat-sifat ini jangan ditiru. Itu sebabnya sebagai dalang topeng Losari, Mbak Nani harus selalu berusaha rendah hati, tersenyum dan bersikap ramah pada siapapun yang kita temui.”

Kesan itu memang tertangkap kuat saat kami bertemu Mbak Nani. Novi, salah satu orangtua murid yang sore itu bergabung, menangkap kesan yang dalam. “Mbak Nani asyik, energinya luar biasa. Intensitas suara, gerak dan antusiasme tak berkurang sampai akhir workshop. Sejak berjalan dari ruang KB, energinya sudah menarik orang-orang untuk berkumpul dan mendekat.”

Terlepas dari gerakan-gerakannya yang sangat sulit untuk diikuti, workshop tari sore itu meninggalkan banyak pesan moral bagi kami. Seperti ketika Mbak Nani berkisah tentang filosofi dibalik topeng yang tak memiliki lubang mata. “Nenek Mbak Nani berpesan, menarilah dengan hati, jangan dengan mata. Melihat seberapa banyak yang menonton tidak memberi faedah apapun selain membuatmu jumawa,” kutip Mbak Nani. Mbak Nani juga berkisah tentang laku yang harus ia tempuh untuk menjadi seorang dalang topeng. “Seorang dalang topeng harus menempuh banyak tirakat, Nok. Berbeda dengan penari topeng, dalang topeng harus melakukan berbagai tirakat dalam kurun waktu yang tak singkat. Mbak Nani sendiri baru bisa menyelesaikan tirakat dalam kurun 15 tahun,” kisah Mbak Nani pada gadis-gadis cilik yang sore itu kelesotan sambil melongo dihadapannya.

Matahari sudah meluncur ke balik rumpun semak di belakang bangunan perpustakaan ketika akhirnya kami memutuskan berfoto bersama. Saya kok yakin, jika ide foto bareng itu tak muncul, mungkin obrolan sore itu akan berakhir lebih larut.

Setelah saling berjanji untuk saling bertemu kembali, kemungkinan di bulan Maret saat SALAM menggelar wiwitan, kami beringsut pulang. Dengan derai gerimis yang mengiringi langkah, serta boyok yang mulai terasa lemah. []