Masihkah Jadi Keluarga SALAM?

Semingguan ini kami, saya dan suami, galau luar biasa. Alasannya, kemungkinan kami akan menjadi mantan keluarga SALAM. Betapa tidak, anak kami yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD SALAM ingin merasakan suasana sekolah pada umumnya. Dia ingin masuk ke SMP Negeri, sekolah yang berangkat jam 7 pagi, mengenakan seragam, tas berat penuh buku dan mungkin seabrek kegiatan ekstra kurikuler serta berbagai macam PR. Duh, saya yang membayangkan sudah ngelu duluan.

Alasan saya menyekolahkan anak saya di SALAM, kala itu, ya karena menghindari rutinitas yang seperti itu. Tapi nampaknya, anak saya ingin merasakan pengalaman yang berbeda. Dan, pengalaman memang sesuatu yang priceless, akan lebih bermakna dan membekas jika dirasakan sendiri.

Kegalauan ini makin terasa ketika kami disodori kertas dari PKBM, apakah akan melanjutkan ke SALAM atau tidak. Meski jauh-jauh hari kami mendiskusikannya, dan anak saya tetap ingin mencoba peruntungan di SMP Negeri, namun saya dan suami tetap nekat mengisi “Ya” akan melanjutkan di SALAM. Hingga akhirnya, tiba waktu wawancara dan kami harus segera memutuskan masuk kembali menjadi keluarga SALAM atau tidak.

Sebagai orang tua, saya tidak ragu dengan kemampuan anak. Saya yakin dia bisa mengikuti dinamika yang ada di sekolah pemerintah itu. Saya menyadari persoalan itu ada pada diri saya sendiri. Sebab saya sangat khawatir dengan pergaulannya kelak. Usia-usia SMP adalah masa dimana omongan orang tua hanya akan didengar sekitar 60 persen saja, sisanya adalah lingkungan pergaulan teman-temannya. Sementara saya tidak yakin apakah dia akan mendapatkan teman yang baik. Yah kekhawatiran itulah yang membuat saya galau luar biasa untuk keluar dari SALAM. Maklum, di SALAM semua anak dan keluarganya saya sedikit banyak tahu dan kenal. Apalagi di SALAM ada semacam kesepakatan, anakku, anakmu, anak kita semua, sehingga masing-masing orang tua akan menjaga semua anak di SALAM layaknya anak mereka sendiri.

Kegalauan ini juga saya sampaikan saat wawancara dengan PKBM. Begitu pula keinginan anak saya juga saya sampaikan saat wawancara. Ketika wawancara saya pun disarankan untuk mencoba lagi diskusi dengan anak saya di rumah. Sampai pada akhirnya, kami, sekeluarga memutuskan untuk mendaftar sebagai calon siswa waiting list di SMP SALAM. Yah, agaknya ini menjadi salah satu solusi yang masuk akal bagi kami. Karena akan tetap ada harapan untuk kembali lagi ke SALAM. Kalaupun akhirnya anak saya enjoy di SMP barunya, mungkin diantara saya dan suami, akan ada salah satunya yang mungkin mendaftarkan diri sebagai volunteer di SALAM. Ya ampun, sebegitunya banget ya kami untuk tidak ingin keluar dari keluarga SALAM. Heheee. Memangnya sebegitu spesialnya ya SALAM? Mungkin itu jadi pertanyaan yang jawabannya akan diketahui begitu masuk dan bercengkerama dengan SALAM. []