Sunarto PR, pendiri Sanggar Bambu

Dua Sketsa Karya Pemula

Sketsa adalah garis yang berbicara, begitulah pendapat Soenarto Pr sang maestro perupa, pendiri Sanggar Bambu Yogyakarta. Sketsa bisa merupakan ekspresi langsung dari pengamatan obyek, peristiwa sejarah serta catatan perjalanan. Sketsa bisa juga tidak langsung menghadapi obyek, tetapi merupakan gambaran pikiran dan imajinasi dalam proses yang tidak seketika. Sketsa merupakan perwujudan yang paling mewakili diri, berupa coretan tinta hitam di atas kertas putih dan merupakan ekspresi dari sebuah pengamatan.

Sunarto PR, pendiri Sanggar Bambu
Sunarto PR, pendiri Sanggar Bambu

Ada sekitar 160 karya sketsa terpampang di Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) pada pameran bersama kali ini yang bertajuk “Sketsa Merah Putih” dan digagas oleh Sanggar Bambu Yogyakarta. Sesuai tajuknya, pameran bersama yang diselenggarakan dari tanggal 21 hingga 28 Agustus 2016 ini menurut ketua panitia penyelenggara, Pungki Purbowo adalah sebagai ajang ekspresi para seniman baik senior maupun seniman muda dalam berkarya sebagai wujud perjuangan mengisi kemerdekaan. “Pameran yang sengaja diselenggarakan menyambut hari kemerdekaan Indonesia ini, juga merupakan media untuk belajar bersama, sehingga banyak perupa tanpa terbatas usia bisa saling berkomunikasi, berdiskusi, saling tukar pengalaman, bahkan mungkin nantinya berkarya bersama.” Tegas Pungki.

Banyak pihak yang menganggap bahwa sebuah sketsa bukan merupakan karya sehingga jarang sekali sebuah pameran sketsa diadakan. “Bahkan banyak seniman sendiri yang belum paham apa itu sketsa, sehingga acara ini sekaligus wadah belajar bersama,” tambah Pungki.

Adia Siswa SMP SALAM
Adia Siswa SMP SALAM

Cukup banyak perupa dan pecinta seni berpartisipasi pada pameran yang direncanakan sebagai kegiatan tahunan ini, mereka berasal dari beragam komunitas dari beberapa kota di Pulau Jawa bahkan ada yang berasal dari Medan dan Manado.

Diawali dengan acara melukis bersama di Pantai Gesing, membuat pameran kali ini didominasi lukisan berlatar pantai Gesing, Gunung Kidul. Namun ada juga beberapa karya yang tak berlatar pantai Gesing, diantaranya adalah dua siswa Sanggar Anak Alam (SALAM) yang berkesempatan memajang karyanya dalam pameran sketsa bersama yang berlangsung selama satu minggu ini. Sketsa yang berjudul Candi Prambanan karya Adia Rafa Fathina terpasang di salah satu sudut dinding galeri SMSR. Siswi kelas satu SMP SALAM yang akrab disapa Adia ini menggambar sketsanya berdasarkan pengamatan dari sebuah foto serta hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikannya. Turut serta dalam sebuah pameran bukanlah kali pertama bagi Adia, dua tahun lalu Adia juga ikut menampilkan karyanya di Festival Kesenian Yogyakarta.

Helmi siswa Kls V SD. SALAM
Helmi siswa Kls V SD. SALAM

Selain Adia, siswa kelas enam SD SALAM Helmi Murtadho, juga memamerkan karyanya yang berjudul Pendopo Sasana Rupa SMSR. Sesuai judulnya, Helmi menggoreskan tintanya di atas selembar kertas putih ketika sedang duduk di depan pendopo. Meski dikerjakan dalam waktu singkat, karya Helmi ini diakui cukup memberi prespektif obyektif yang positif, bahkan dianggap cukup menarik untuk dikoleksi oleh seorang kolektor lukisan.

Dengan percaya diri Adia dan Helmi menampilkan karyanya untuk bisa dinikmati oleh banyak orang pada sebuah pameran. Adia dan Helmi menunjukkan eksistensi mereka dengan menghasilkan sebuah karya. Dan keduanya berpendapat tegas bahwa melukis memang merupakan minat yang mereka seriusi sejak kecil. Hal itu diakui oleh orang tua Adia, “Memang sejak kecil Adia suka melukis dan menggambar, dan kebetulan lingkungan kami memang memungkinkan Adia beroleh kesempatan mengasah kemampuan melukisnya sejak dini,” tutur ayah Adia, Aditya Rochim.

Karya Adia
Karya Adia

Senada dengan hal tersebut Helmi juga menganggap melukis dan berkesenian tak bisa dilepaskan dari kehidupannya, “Saya ingin bisa berkarya terus seperti Ayah,” ungkap Helmi yang memang putra seorang perupa.

Adia dan Helmi membuktikan bahwa berprestasi tidak melulu diukur dari nilai akademik, karena setiap individu memiliki kecerdasan dan prestasinya masing-masing. Dan keduanya berhasil mengerti potensi diri mereka, mengasah dan berusaha mengembangkannya tanpa dibatasi ukuran ukuran akademik. Kesempatan pasti akan terbuka untuk mereka berdua karena usia mereka memang masih sangat muda.

Bravo Adia dan Helmi!, Teruslah Berkarya!